Cewek-Cewek Korsel Serukan Kampanye #NoMarriage. Wah Gawat, Lama-lama Korsel Bisa Kehabisan Penduduk

Kampanye tolak menikah

Pemerintah Korea Selatan lagi kelimpungan gara-gara cewek-cewek di sana makin bodo amat sama pernikahan. Mereka ramai-ramai mengampanyaken #NoMarriage untuk melawan tekanan buru-buru nikah yang diserukan pemerintah. Tekanan itu juga yang bikin orang-orang Korsel jadi memandang sebelah mata cewek-cewek yang belum juga menikah di usia 30 tahun.

Advertisement

Rasanya memang kesal sih dipaksa-paksa nikah, apalagi kalau belum ada calonnya. Menurut cewek-cewek Korsel, menikah dan punya anak juga bakal membatasi mereka berkarir. Karena pada makin malas menikah, kabarnya cepat atau lambat, Korsel bakal kehilangan penduduknya lo. Nggak bayangin puluhan tahun ke depan, populasi mereka tinggal segelintir aja.

Di antara banyak negara maju, Korea Selatan jadi negara yang tingkat kelahirannya paling rendah. Ini karena banyak banget penduduknya yang makin ogah menikah

Jumlah anak-anak makin berkurang via www.straitstimes.com

Bagi banyak anak-anak muda Korsel, menikah bukan jadi tujuan terpenting dalam hidupnya, malah mungkin sudah dianggap nggak penting lagi. Ini terbukti dengan data yang menyebutkan kalau tingkat kelahiran di Korsel makin tahun makin turun. Bahkan di antara negara maju lain, mengutip data World Bank, tingkat kelahiran Korsel ini jadi yang terendah lo!

Kondisi itu membuat pemerintah gencar banget maksa penduduknya buat menikah dan punya anak. Soalnya kalau dibiarkan, Korsel bisa kekurangan populasi. Kalau sudah kekurangan penduduk usia produktif, jelas perekonomian di sana bakal ikut turun. Sekarang aja sudah banyak sekolah-sekolah pada tutup gara-gara kekurangan murid. Gedung-gedung pernikahan juga terpaksa gulung tikar.

Advertisement

Tapi bukannya pada nurut, cewek-cewek di sana malah lagi sibuk mengampanyekan #NoMarriage. Mungkin karena kebijakan pemerintah dianggap terlalu memaksa…?

Hmmm jadi harusnya gimana? via www.chinadailyhk.com

Dilansir Vice, di Korsel ada organisasi EMIF atau singkatan dari “Elite without Marriage, I am going Forward”. Sesuai namanya, para anggota organisasi ini menolak yang namanya menikah dan memilih tetap melajang. Belakangan ini mereka memopulerkan tagar #NoMarriage yang sudah banyak mendapat perhatian sampai luar negeri.

Kampanye itu merupakan bentuk penolakan atas kebijakan pemerintah Korsel yang mendorong mereka untuk cepat-cepat menikah. Menurut mereka, upaya pemerintah itu kejam dan mengecewakan. Sejauh ini sih katanya pemerintah Korsel baru menerapkan insentif dan membuka biro jodoh bagi jomblowan jomblowati di sana. Sedangkan para wanita –yang tergabung dalam EMIF–, pengin beneran ada dukungan nyata untuk perempuan setelah melahirkan, baik secara fisik maupun mental.

Kalau dilihat kayaknya tuh pemerintah Korsel belum sepaham deh sama anak-anak muda di sana. Kelihatan banget ‘kan solusi pemerintah belum menjawab kebutuhan mereka~

Advertisement

Presiden Korsel, Moon Jae In via www.sbs.com.au

Kayaknya pemerintah Korsel perlu mengkaji ulang kebijakannya itu deh. Soalnya kalau dilihat-lihat, kebijakan itu belum menjawab kebutuhan sebenarnya anak-anak muda di sana. Sebagian besar orang malas menikah itu kan karena takut kehilangan pekerjaan/karir/cita-cita, jadi kalau mau beneran bisa mendorong orang pada nikah ya harusnya pemerintah bisa memastikan hal-hal itu nggak benar-benar hilang.

Caranya gimana? Misalnya aja membuka tempat penitipan anak gratis, tapi tetap aman dan nyaman. Kalau begitu kan cewek-cewek masih bisa bekerja dan berkarir sembari mengurus anak. Atau membuka lapangan pekerjaan plus kepastian jenjang karir bagi siapapun yang sudah menjadi orangtua. Contoh aja sih ini~

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE