“Mas Oji mau kemana? Pagi-pagi kok sudah rapi”
“Oh, saya mau ke kampus, Pak No. Mau ujian skripsi. Hehe”
“Waah… Hebat ini. Semoga sukses mas, ya.”
“Iya, Pak. Mohon doanya nggeh, Pak No”
“Walah. Siap. Pasti saya doakan kok. Ini ada roti buat sarapan”
“Wah… Terima kasih, Pak No”

Di Indonesia, sekarang jumlah ritel minimarket semakin bertambah. Dengan begitu, persaingan antar pedagang tak lagi sama seperti 5 atau 10 tahun lalu dimana kita lebih suka membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga di warung dekat rumah. Berbeda dengan tahun-tahun lalu, sekarang kalau butuh apa-apa kita akan langsung mengarah ke warung ritel waralaba dan melupakan warung sebelah rumah yang sedari kecil jadi langganan kita.

Advertisement

Ya tak bisa disalahkan juga sih memang. Toh di minimarket-minimarket tersebut sudah menyediakan berbagai hal yang kita butuhkan. Mulai dari beras, telur, parfum, jajanan hingga kebutuhan buku dan pensil. Daripada beli secara terpisah di warung tetangga, langsung ke minimarket malah lebih efisien.

Meski begitu, kamu setidaknya jangan sampai melupakan kebaikan-kebaikan warung sebelah rumah yang sedari dulu jadi langgananmu. Dari warung-warung tersebut, berbagai kebutuhanmu dulu sudah terpenuhi. Atas dasar itu, kenapa kita tak kembali lagi belanja ke warung tetangga? Bukankah rezeki mereka juga berarti rezeki kita.

Kalau dibandingkan, belanja senilai 100 ribu di minimarket dan di warung sebelah rumah ternyata bedanya jauh. Gak percaya? Coba aja buktikan sendiri!

“Ji, beli jajan sono di minimarket”
“Duitnya, buk?”
“Nih 100rb.”
“Waduh, kok banyak, buk?”
“Dikit ini, le. Jangan samakan 100 rb di minimarket sama warung sebelah rumah, ya”

Advertisement

Mungkin sekilas kamu tak begitu memperhatikan. Tapi kalau diamati lebih jeli, sebenarnya ada beda harga yang lumayan loh kalau kamu belanja di minimarket dan warung sebelah rumah. Coba aja kamu buktikan, dengan membawa uang 100 ribu, silahkan kamu membandingkan belanja di minimarket dan warung sebelah rumah.

Harga barang warung sebelah rumah cenderung lebih murah kalau kamu belanja banyak karena memang tidak ada biaya pajak yang besar. Kalau di minimarket, pajak dari usaha ritelnya kan banyak, jadi harga barang juga punya selisih yang lumayan. Uang 100 ribu yang kamu bawa juga pasti bisa dapet barang lebih banyak kalau kamu belanjanya di warung sebelah.

Saat kamu belanja di warung, kamu hanya akan beli barang yang dibutuhkan. Kalau di minimarket, banyaknya barang kadang membuat kita tergoda membeli barang yang sebetulnya tidak kita butuhkan

Banyak godaan

Banyak godaan via marketeers.com

“Beli snack enak, nih”
“Ngambil Ultra coklat, aaah”

Sebenarnya, belanja di warung akan membuatmu lebih mudah berhemat. Dengan belanja di warung sebelah, kamu jadi lebih fokus dengan barang belanjaanmu. Kalau kamu mau beli beras dan sabun, kamu hanya akan beli beras dan sabun. Hal itu akan sangat berbeda jauh dengan kalau kamu belanja di minimarket.

Saat kamu masuk ke minimarket, kamu akan lebih mudah tergoda untuk membeli barang-barang lain yang sebenarnya nggak kamu butuhkan. Yah, secara barang-barang yang ada di minimarket kan memang banyak dan beragam. Tatanan barangnya pun juga sudah ditata sedemikian rupa agar kamu tertarik untuk belanja banyak barang. Belum lagi dengan usaha promo-promo yang diberika oleh minimarket. Siapa sih yang gak tertarik membeli barang diskonan? Padahal toh belum tentu barang tersebut kita butuhkan.

Karena memang tetangga, tak jarang pula warung sebelah memberi kita barang dengan harga yang murah. Kadang malah kamu dikasi cuma-cuma. Masih mau meninggalkan mereka?

Ibu yang punya toko bahkan sampai ngasi barang secara cuma-cuma

Ibu yang punya toko bahkan sampai ngasi barang secara cuma-cuma via tunggutoko.blogspot.com

“Mbah Su, beli sabun sama pasta giginya, nggeh”
“Iya mas Oji. Sudah ini aja?”
“Iya, mbak. Jadi total berapa semuanya?”
“8 ribu aja, mas”
“Lah? Kok murah? Biasanya kan 10rb”
“Kan harga tetangga, mas”

Enaknya belanja di warung tetangga itu biasanya si penjual memberi harga yang murah. Karena memang prinsip dari warung kecil di sebelah rumah adalah hanya ingin agar modalnya kembali. Urusan keuntungan, mereka tidak terlalu mengambil banyak keuntungan. Bahkan tidak menutup kemungkinan juga si penjual ini bisa memberimu barang secara cuma-cuma. Kenapa? Entahlah, mungkin karena mereka sedang bahagia atau bisa jadi karena memang mereka sudah mengenalmu dengan baik.

Mungkinkah kamu dapat barang secara cuma-cuma kalau belanja di minimarket? Jelas tidak. Nah, masih yakin mau meninggalkan warung tradisional sebelah rumah?

Dengan belanja di warung tetangga, kita gak cuma mendapat barang yang kita butuhkan. Lebih dari itu, kita juga melestarikan interaksi sosial yang sekarang sudah semakin berkurang

Ada interaksi

Ada interaksi via andhikamppp.com

“Mas Oji kok tumben beli rokok? Sudah mulai merokok, mas?”
“Bukan buat saya, pak No. Ini titipannya bapak. Hehe”
“Hoalaaah… Bagus deh, mas. Jangan ikut-ikutan bapak rokokan lho, ya”
“Iya, pak. Dari Ibuk juga gak ngebolehin rokokan, kok”

Interaksi saat kamu belanja di minimarket sangatlah terbatas. Paling-paling interaksi hanya terjadi saat kamu mau bayar di kasir doang. Selebihnya palingan hanya saat kamu bertanya stok barang atau lokasi barang aja. Bentuk interaksi yang terjadi juga sangat monotone. Palingan juga “Nggak nambah pulsa, mas?”, “Barang ini lagi ada promo, kak. Nggak sekalian aja?”. Udah. Itu doang.

Berbeda dengan belanja di minimarket, belanja di warung sebelah rumah itu bukan semata-mata hanya kegiatan menjual dan membeli saja. Karena memang letaknya yang dekat dengan rumah, baik kamu maupun penjual sudah paham benar tentang satu sama lain. Dari situ banyak interaksi yang terjadi. Mulai dari obrolan kecil sampai gosipin tetangga (biasanya sih ini pelakunya ibu-ibu). Hehe.

Ketika belanja di warung sebelah, kamu juga turut membantu memperbaiki perekonomian tetanggamu. Kamu harus tau bahwa hasil warung tersebut mungkin yang bisa menyekolahkan anaknya sampai sarjana

Sampai bisa lulus kuliah

Sampai bisa lulus kuliah via laninalathifa.wordpress.com

“Waah… Pak No sama bu No mau kemana nih?”
“Mau ke Malang, mas. Nia besok wisuda. Hehe”
“Alhamdulillaah… Salam ya pak buat dek, Nia”

Disadari atau tidak, para penjual di warung sebelah rumahmu sangat menggantungkan perekonomian keluarganya dari hasil berjualan di warungnya. Kalau warungnya sepi, ya otomatis pendapatan mereka akan berkurang jauh. Dengan turut membeli barang-barang di warung tetangga, kamu juga sebenarnya ikut membantu perekonomian tetanggamu.

Banyak juga loh kasus dimana penjual di warung tersebut sampai bisa menyekolahkan anaknya hingga sarjana. Dengan ikut membeli di warung mereka, kamu turut andil dalam perbaikan ekonomi keluarga mereka. Kalau anaknya bisa sarjana, dapat kerjaan dan akhirnya bisa membahagiakan orangtua, kamu patut bangga!

Sebenarnya, meski kamu memilih untuk belanja di minimarket juga tidak masalah sih. Itu kan memang pilihanmu. Tapi tolong jangan lupakan dan jangan tinggalkan juga warung-warung kecil di sebelah rumah. Mereka adalah pekerja kecil yang hidupnya digantungkan dari hasil keuntungan warungnya. Kalau memang ingin melihat lingkunganmu perekonomiannya membaik, yuk mulai sekarang kita budayakan kembali belanja di warung tetangga. 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya