4 Alasan Kenapa Banyak Orang Nggak Mematuhi Protokol Covid-19. Ternyata, Begini Kata Peneliti

Kenapa orang melanggar aturan covid-19

Virus corona masih belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Statusnya gimana sekarang juga makin nggak jelas. Di tengah angka kasus yang masih meningkat, bahkan kemarin sempat bertambah 1.000 kasus dalam sehari, pemerintah justru berniat melonggarkan PSBB. Transportasi dibuka kembali, masyarakat boleh bepergian, meski ada sejumlah syarat dokumen perjalanan yang harus dipenuhi. Tapi kayaknya itu aja nggak cukup untuk benar-benar bikin masyarakat paham bahwa saat ini belum aman-aman banget untuk kembali menjalani kehidupan seperti sebelum pandemi. Soalnya sempat ada penumpang pesawat Lion Air yang bawa surat rapid test negatif, tapi setelah dites swab di bandara tujuan hasilnya positif! Padahal ia baru aja terbang bersama 78 penumpang lain beserta para awak kabin.

Advertisement

Kembali ramainya jalanan, pusat perbelanjaan, atau tempat tongkrongan, sukses bikin kita yang mungkin selama ini sudah berusaha menahan diri buat nggak pergi-pergi dulu, jadi gemes setengah mati. Heran aja gitu, di saat angka kasus jadi 30 ribu lebih dan terus bertambah sampai hari ini, mereka malah santai-santai aja kayak nggak ada apa-apa. Menanggapi hal ini, peneliti berusaha menganalisis alasannya. Kenapa sih banyak orang nggak mematuhi protokol Covid-19?

1. Sebenarnya alasan yang pertama bisa dijawab pakai teori psikologi sosial yang dikembangkan tahun 1950. Tenang, kita nggak bakal bahas tentang teori yang njelimet kok~

Lebih takut nggak punya baju baru daripada kena corona via www.kompas.com

Jadi tahun 1950 dulu, beberapa psikolog sosial dari AS mengembangkan teori Health Belief Model (HBM) yang bantu jelaskan perilaku-perilaku manusia terkait kesehatan. Dalam HBM itu, ada 6 komponen, beberapa di antaranya adalah persepsi orang atas kerentanan dirinya terhadap suatu penyakit dan persepsi keparahan penyakit tersebut. Dua itu aja kayaknya udah bisa jelasin kenapa orang banyak yang nggak mematuhi protokol Covid-19. Simpel, karena pengetahuan mereka soal kerentanan dan keparahan tadi masih rendah. Intinya, mereka masih menganggap remeh penyakit karena virus corona ini.

2. Nah, karena faktor di atas itu, orang jadi makin nggak yakin sama kemampuan dan tindakannya. Ditambah rasa bosan yang sudah menghampiri karena dua bulan lebih di rumah aja

Bosan di rumah aja via www.wowkeren.com

Karena semua serba setengah-setengah, jadilah hal itu menyebabkan orang semakin nggak yakin sama kemampuan dan tindakannya. Artinya gini, karena mereka belum betul-betul paham soal penyakit ini, entah karena malas buka berita, situs-situs kesehatan, atau nonton video soal Covid-19, mereka pun jadi nggak serius juga menghadapi pandemi ini. Diajak temen buat nongkrong, ya ayo aja. Diajak buat belanja baju lebaran, ya mau-mau aja. Semacam plin-plan gitu. Ditambah rasa bosan yang melanda, makin nggak bisa membendung keinginan buat bersenang-senang ke luar rumah.

3. Dalam menyikapi kondisi di atas, pemerintah punya pengaruh yang cukup besar lo. Sayangnya, pemerintah kita masih… yaa.. gitu deh…

Pemerintah punya andil yang besar via jabar.suara.com

Dua faktor di atas, suka atau tidak, dipengaruhi juga oleh sikap pemerintah Indonesia yang dari awal pandemi ini muncul, terkesan tidak tegas. Pemerintah belum optimal menerapkan langkah-langkah buat mengedukasi masyarakat terkait penyakit ini. Pemerintah masih seringkali menggunakan istilah-istilah rumit yang mungkin hanya bisa dipahami kalangan menengah terdidik aja. Belum lagi alur komunikasi yang kurang jelas, membuat pernyataan pejabat-pejabat publik sering nggak relevan dan konsisten satu sama lain. Bikin bingung banyak orang, kaaan…

4. Belum tuntas dan berhasil edukasi seluruh lapisan masyarakat, eh, PSBB sudah kembali dilonggarkan. Embel-embelnya sih new normal. Tapi kan…

Bandara Soetta yang ramai saat PSBB via finance.detik.com

Sekarang gini, PSBB kemarin aja belum berhasil dipahami dan diterapkan seluruh lapisan masyarakat. Eh sekarang pemerintah menggebu-gebu banget memperkenalkan era normal baru. PSBB juga dilonggarkan. Kalau situasinya kayak gini, masyarakat nggak bisa disalahkan seratus persen. Tentu aja banyak yang bingung dengan kebijakan yang terkesan buru-buru ini. Masyarakat yang pengetahuan PSBB-nya masih loading alias belum 100%, karena ada new normal ini jadi balik ke nol lagi, ngulang lagi deh dari awal.

Ya begitulah, intinya, ada banyak pihak yang bertanggung jawab atas ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan selama pandemi ini. Kalau memang mau masyarakat nurut, wabah lekas pergi, setidaknya harus dimulai dari penerapan kebijakan yang tegas. Mari kita berdoa supaya virus corona segera hilang ya, Guys, dan vaksinnya cepat ditemukan! Aamiin…

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE