4 Alasan Kenapa Ngomongin Keburukan Orang Itu Terasa Nikmat Sekali, Padahal Udah Tahu Dosa

Kenapa orang suka gosip

Hampir semua orang pasti pernah terlibat dalam perbincangan seputar gosip. Bergosip di sini sering diasosiasikan sebagai aktivitas berbincang-bincang di mana topik obrolannya adalah tentang keburukan orang lain. Orang Jawa biasa menyebutnya sebagai rasan-rasan. Sebagian orang begitu menikmati gosip, sebagian lain menikmati sambil takut dosanya dicatat malaikat, sebagian lagi pura-pura nggak tahu padahal diam-diam mendengarkan.

Advertisement

Biasanya sih yang jadi sasaran gosip itu adalah orang yang berada di luar lingkungan kita, orang yang kita –atau kelompok kita– benci, atau orang yang memang punya “nama” alias terkenal. Tapi nggak jarang juga sih yang jadi korban adalah inner circle kita sendiri. Ehem, bener aja atau bener banget nih? Namun pada intinya tetap sama, hampir semua dari kita suka gosip. Kalau nggak, mustahil akun-akun perlambean punya pengikut sampai berjuta-juta dan lebih laku dibanding akun-akun tentang pengetahuan ilmiah. Nah, ternyata, ada lo alasan psikologi di baliknya.

1. Kita, manusia, cenderung ingin menjadi “unik”, dalam konteks positif. Begitu pun saat hidup berkelompok, kita cenderung merasa lebih dibanding kelompok lain

Kita cenderung merasa lebih unggul via psychology-spot.com

Udah jadi semacam kebutuhan psikologis dasar manusia, di mana kita seringkali ingin dipandang unik atau lebih dari yang lain. Begitu pun saat hidup berkelompok, “insting” ini juga tetap berlaku, bedanya skalanya aja yang lebih besar. Kita (dan kelompok kita) cenderung merasa lebih unik dibanding kelompok lain.

Konsekuensinya, seringkali yang menonjol dari kelompok lain atau orang lain itu ya keburukannya. Secara logika, sulit memang untuk melihat kelebihan orang lain di saat kita aja merasa lebih baik dari orang itu. Nah, itulah yang kemudian suka jadi bahan gosip saat kita ketemuan sama sesama kelompok kita. Hasrat bergosip makin menjadi-jadi bila orang atau kelompok yang kita omongin itu adalah rival kita. Hadeeeh~

Advertisement

2. Ada juga teori lain yang bilang kalau kita cenderung suka membanding-bandingkan. Sialnya, akan terasa lebih memuaskan jika perbandingannya bersifat downgrade

Suka membanding-bandingkan via www.hrpayrollsystems.net

Ketimbang merasa lebih buruk, kayaknya banyak orang lebih memilih untuk merasa lebih baik dibanding orang lain. Inilah yang dinamanya downgrade comparison. Kita cenderung suka memandang rendah orang lain. Terlebih jika kita dihina atau diremehkan, pernah ada penelitian yang menyimpulkan, dihina ternyata bisa membuat orang makin hobi merendahkan orang lain. Nggak mesti dengan ngata-ngatain, bisa juga dengan hanya merasa aja bahwa dirinya lah yang lebih baik.

3. Selain itu, bisa juga justru karena diri kita sendiri yang seringkali fokus pada keburukan kita, bukan kebaikan. Otomatis, cara kita menilai orang lain juga lewat keburukannya

Dalam lubuk hati terdalam sebenernya nggak pede juga via www.mnn.com

Pernah denger nggak kalau apa yang kita lakukan pada orang lain itu sebenarnya semacam proyeksi dari apa yang juga kita lakukan pada diri kita. Misal kita sering tersinggung omongan orang, ya kita bakal sering merasa menyinggung orang lain, padahal bisa jadi orang itu ngerasa biasa aja, tapi kita udah overthinking duluan. Sama halnya dengan apa yang lagi kita bahas ini. Alasan kenapa kita lebih sering fokus sama keburukan orang lain, bisa jadi selama ini kita pun lebih sering fokus sama keburukan kita sendiri. Hayo, coba introspeksi lagi~

4. Kemungkinan lain, mungkin ada pengaruhnya juga dari cara kita dibesarkan, atau seperti apa lingkungan tempat kita tumbuh. Yang pada akhirnya memengaruhi persepsi kita terhadap orang lain

Advertisement

Lingkungan juga bisa berpengaruh via www.thoughtco.com

Cara kita dibesarkan, dan gimana kondisi lingkungan tempat kita tumbuh, sangat memengaruhi segala yang melekat dalam diri kita, seperi fisik, mental, cara berpikir, hingga cara kita menilai orang lain. Kalau sejak kecil kita selalu diajarkan menghargai perbedaan, menerima kebaikan beserta keburukan orang lain, mungkin kecil risikonya saat dewasa kita fokus sama kejelekan orang aja. Meski nggak selalu ya, karena saat tumbuh dewasa, perilaku orang juga bakal dipengaruhi lingkungan luarnya sih.

Ini bukan berarti kita mesti “melegalkan” gosip ya Guys. Karena mau senatural apapun kelihatannya, bergosip tetap bisa berdampak buruk terhadap tubuh kita, salah satunya meningkatkan stres. Pada nggak mau kan, stres cuma gara-gara keseringan bergosip~

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE