Sesaknya ‘Ketempelan’ Jin; Punggung Terasa Sangat Berat, Suhu Kamar Jadi Panas, dan ….

Ketempelan jin

*Kamis Mistis akan rutin menyapa kamu seminggu sekali. Kamu akan ditemani ulasan-ulasan menarik yang membuat bulu kuduk berdiri. Pernahkah mendengar orang yang ‘ketempelan’? Itu lo, istilah untuk mereka yang diikuti oleh jin atau setan. Terdengar nggak masuk akal memang, tapi ketempelan makhluk astral pernah dialami oleh beberapa orang, salah satunya Ranti (25 tahun).

Punggung terasa berat sudah dikeluhkan Ranti selama seminggu lebih. Rasanya bukan seperti pegal-pegal, tapi seakan batu besar berada di atas punggungnya. Sesuai saran seorang teman kos, Ranti memeriksakan diri ke dokter. Tapi, hari itu Ranti malah mendapatkan jawaban yang aneh. Dari hasil pemeriksaan, dokter mengatakan tidak ada masalah dengan kesehatannya.

Sepulang dari klinik kesehatan, pikiran Ranti dipenuhi banyak pertanyaan. Dugaan-dugaan nggak logis mulai ‘mampir’ juga ke kepalanya. Namun, Ranti mengusir pikiran itu segera. “Ah, nggak mungkin,” batinnya.

Sepekan sebelum punggungnya terasa sangat berat, Ranti dan beberapa kawannya mendaki sebuah gunung di pinggir kota

Awalnya pendakian biasa saja, tapi…. | Credit: Pxfuel

Sama-sama merasakan kepenatan akhirnya mendorong Ranti dan empat kawannya mendaki gunung. Menepi sebentar dari rutinitas perkuliahan dan tuntutan tugas akhir adalah cara terbaik agar tetap waras. Meskipun keempatnya berbeda universitas, mereka cukup sering menghabiskan waktu bersama.  Tak butuh waktu lama, tiga hari setelah sepakat mendaki gunung, mereka berangkat. Perjalanan menuju pos pendakian dimulai pada sore hari.

Selama perjalanan, Ranti dan teman-temannya melewati jalur pendakian seperti tim lainnya. Tetapi, di tengah pendakian, mereka baru sadar kalau melewati trek yang lebih terjal dan sulit. Makanya, mereka merasa lebih lelah. Padahal, seharusnya pendakian ini tak terlalu menguras tenaga karena gunung yang terletak di pinggir kota Batu masih cukup ‘ramah’ untuk para pemula.

Menjelang tengah malam, udara makin dingin. Laju tim Ranti pun makin lambat. Seorang teman, sebut saja Alan, bahkan sempat terpisah jauh di belakang. Di saat-saat tenaga mulai menipis, keempatnya harus menjaga konsentrasi dan tetap fokus. Ranti yang awalnya cukup yakin mendaki sampai pos terakhir pun mulai ragu. Pikiran untuk balik badan dan turun gunung beberapa kali muncul. “Bodo amat dengan puncak gunung,” pikir Ranti.

Namun, pendakian ini sudah kepalang tanggung karena sudah separuh jalan. Ranti akhrirnya memutuskan untuk tetap lanjut sampai puncak. Nah, saat itulah Ranti baru menyadari satu keanehan. Temannya yang bernama Intan (nama samaran) sering melihat ke belakang, tepatnya ke arah Alan yang berada paling bontot.

“Kenapa sih ngelihat ke belakang terus?” tanya Ranti.”

“Udah,, nggak apa-apa,” tukas Intan.

Turun dari pendakian, Intan bilang kalau sesosok makhluk gaib menyukai salah satu dari rombongan Ranti

Makhluk gaib mengikuti rombongan Ranti | Photo by Darkmoon_Art from Pixabay

Setelah itu, Ranti tak mau ambil pusing. Ia melanjutkan pendakian sampai di pos terakhir. Ketika turun gunung sore harinya, perjalanan Ranti dan teman-temannya bisa dikatakan mulus. Bahkan, mereka tak jarang bersenandung riang mengikuti alunan lagu yang diputar. Pemandangan alam dari ketinggian dan musik nan syahdu membuat perjalanan pulang itu terasa lebih ringan.

Sesampainya di pos pertama pendakian, mereka membersihkan diri dan memulihkan energi lagi sebelum pulang. Saat itu, Intan yang duduk di samping Ranti menyinggung kejanggalan selama pendakian.

“Kayaknya penunggu gunung ada yang ‘suka’ dengan salah satu orang di antara kita,” kata Intan.

Walaupun Ranti sudah pernah dengar bahwa Intan cukup peka dengan hal-hal mistis dan gaib, ia masih meragukannya.

“Ah, masa sih? Jangan aneh-aneh kamu!” timpal Ranti.

“Serius. Dia ngikutin kita dari awal ndaki.”

“Memangnya dia suka sama siapa?” tanya Ranti yang mulai penasaran.

Bukan jawaban pasti, Intan malah menggeleng. Respons yang membuat Ranti sedikit jengkel. Diam-diam Ranti sudah punya dugaan sendiri. Ia pikir Alan yang berjalan paling akhir adalah orangnya. Apalagi, selama mendaki Alan merasakan tubuhnya berat, padahal ia tidak membawa tas ransel sama sekali. Ia hanya membawa tas selempang kecil. Kemungkinan Alan adalah orang yang diikuti oleh makhluk penunggu gunung itu.

Sepulang dari mendaki gunung, Ranti mulai merasakan serangkaian keanehan. Mulai dari punggungnya terasa berat, suhu kamarnya berubah drastis, hingga…

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini