Seorang Perawat Berbagi Kisah, Betapa Berat Jalani Hari di Tengah Wabah Covid-19 Seperti Ini

Kisah perawat di tengah corona

Menjadi tenaga medis sesungguhnya adalah pekerjaan yang cukup berat. Terlebih di saat-saat genting seperti sekarang ini, ketika dunia sedang dilanda wabah penyakit yang persebarannya bisa dibilang begitu cepat. Mereka, para tenaga medis, harus berjaga lebih lama dari biasanya, mengerahkan waktu dan tenaga lebih banyak dari biasanya, dan dituntut untuk bergerak lebih cepat dari biasanya. Saat ini, mereka lah yang jadi garda terdepan dalam memberantas virus corona. Mereka lah yang diharapkan bisa mewujudkan impian masyarakat agar kehidupan kembali berjalan normal seperti biasanya.

Advertisement

Namun, fakta di lapangan seringkali tak berjalan sesuai harap. Kini mulai banyak tenaga medis yang kehabisan alat pelindung diri, masker, hand sanitizerdan perlengkapan lain yang mereka butuhkan untuk merawat pasien Covid-19. Pekerjaan mereka jadi terhambat. Tak sedikit yang sampai harus bertaruh nyawa demi tetap bisa merawat pasien, walau perlengkapan medisnya terbatas dan ala kadarnya.

Seorang perawat bernama Perwira Tunjung Mustika (Wira) yang bertugas di IGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates, Kulonprogo, Yogyakarta, membagi kisahnya kepada Hipwee. Ia dan ke-12 rekan medisnya harus diisolasi setelah kontak dengan pasien yang ternyata positif virus corona. Ada juga pasien PDP yang awalnya nggak berkata jujur kalau ia baru datang dari daerah terjangkit. Belum lagi keterbatasan perlengkapan medis yang membuat Wira dan teman-temannya kesulitan.

Saat Hipwee wawancara via WhatsApp, Wira dan 12 temannya masih dalam masa isolasi. Mereka “dirumahkan” setelah kontak dengan pasien di IGD yang ternyata positif virus corona

Seorang pasien datang ke rumah sakit tempat Wira bekerja dan dirujuk ke IGD dengan keluhan awal sesak napas. Menurutnya, si pasien sudah memiliki riwayat sesak napas sebelumnya. Beberapa tenaga medis, termasuk Wira, menangani pasien tersebut hanya mengenakan sarung tangan dan masker bedah, tanpa APD. Di satu sisi jumlah APD di sana memang terbatas. Sekitar seminggu setelahnya, ternyata baru diketahui kalau pasien positif Covid-19.

Advertisement

Atas alasan itulah Wira dan teman-teman terpaksa harus “dirumahkan” alias isolasi mandiri sampai 7 hari. Mereka sebenarnya berharap diisolasi di rumah sakit aja, mengingat ada riwayat kontak dengan pasien yang jelas-jelas positif. Kalau di rumah masing-masing, khawatir justru akan menulari orang lain.

Selain rawan terinfeksi, menjadi tenaga medis di tengah wabah seperti ini bukan perkara mudah bagi Wira, sebab ia dan rekan-rekannya pun rentan mendapat stigma negatif dari masyarakat

Wira bercerita, ada salah satu temannya yang setiap hari bertandang ke rumah pasien untuk melakukan homecare. Namun setelah keluarga pasien mengetahui kalau temannya itu juga perawat pasien Covid-19 di rumah sakit, mereka memutuskan untuk menghentikan rutinitas homecare tersebut. Selain itu banyak juga teman-temannya yang dijauhi masyarakat dan terpaksa harus ngekos. Lingkungannya menganggap bahwa tenaga medis itu ikut menyebarkan virus. Huhu, kasihan banget ya..

Berbagai keluh kesah yang dirasakan para tenaga medis seperti Wira menjadi bukti kalau bukan hanya perlengkapan medis saja yang belum merata, tapi juga informasi soal wabah itu sendiri belum dipahami sepenuhnya oleh masyarakat

Wira adalah satu dari sekian banyak tenaga medis yang merasakan bagaimana harus bergantian memakai APD, pusing mikirin masker yang semakin menipis, disinfektan, atau bahkan hand sanitizer. Padahal segala perlengkapan itu bisa jadi “tameng” bagi mereka yang sehari-harinya menangani pasien-pasien baik yang suspect maupun yang sudah dinyatakan positif. Belum lagi informasi soal wabah ini juga belum dipahami sepenuhnya oleh masyarakat, membuat munculnya stigma-stigma negatif, perundungan, dan juga pengucilan.

Advertisement

Wira berharap banyak pada pemerintah pusat, seperti kabar soal insentif untuk tenaga medis dari Jokowi, ia harap akan benar-benar sampai ke daerah juga, bukan hanya di Jakarta

Melihat kasus persebaran virus corona yang sudah merambah ke daerah-daerah, membuat nggak hanya tenaga medis di kota-kota besar aja yang kewalahan, melainkan juga mereka yang bertugas di daerah. Wira pun berharap, bahwa insentif yang sempat disebut Jokowi akan diberikan kepada tenaga medis, nggak hanya diperuntukkan bagi mereka yang di Jakarta saja, tapi juga yang di daerah.

Wira juga berpesan kepada seluruh masyarakat untuk berdiam dulu di rumah jika nggak ada urusan yang sangat mendesak plus rajin cuci tangan dan menjaga kebersihan, demi memutus persebaran virus ini. Tak lupa, ia meminta kepada siapa pun yang merasakan gejala awal virus corona atau yang baru berkunjung ke wilayah terjangkit untuk berkata jujur pada tim medis, supaya nggak merepotkan dan malah bikin persebaran makin masif.

Buat kalian yang mungkin ingin berdonasi dan mendukung RSUD Wates tempat Wira mengabdi, silakan cek poster di bawah ini dan hubungi nomor yang tertera di bawahnya ya…

Terakhir, mari kita doakan supaya Wira dan seluruh tenaga medis di dunia diberi kesehatan, keselamatan, dan ketenangan dalam bekerja. Dan yang terpenting, semoga wabah ini bisa segera berakhir. Aamiin…

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE