Viral Foto Komodo “Hadang” Truk, Masyarakat Tolak Rencana Pemerintah Bangun Geopark di NTT

Komodo hadang truk

Selama ini, komodo adalah hewan langka yang menjadi kebanggaan Indonesia karena hanya ada di Nusa Tenggara Timur. Komodo disebut juga kadal terbesar di dunia, sebab bisa berukuran sampai 3 meter! Agar spesies ini bisa hidup dengan aman, mereka dirawat di Taman Nasional Komodo yang mencakup tiga pulau besar yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar.

Advertisement

Selain untuk melindungi satwa, Taman Nasional Komodo dijadikan objek wisata yang telah menarik banyak wisatawan. Tetapi, pemerintah belum puas dengan kondisi tersebut sehingga akan membangun geopark yang bisa berdampak buruk pada satwa dan masyarakat di sana. Masalah ini pun menjadi viral di media sosial berkat sebuah foto unik.

Sungguh miris, ada foto seekor komodo yang seolah menghalangi truk. Ternyata foto ini menangkap momen pembangunan “Jurassic Park” di habitat komodo

Komodo | Illustration by Hipwee via www.hipwee.com

Baru-baru ini, warganet dihebohkan oleh sebuah foto unik. Tampak seekor komodo yang seolah menghadang sebuah truk pembangunan di Pulau Rinca. Ternyata momen tersebut terjadi karena pemerintah akan mengubah Taman Nasional Komodo menjadi geopark atau taman bumi. Kurang lebih, konsepnya seperti Jurassic Park yang muncul dalam film populer.

Dari segi pariwisata, proyek besar ini memang bisa menarik banyak turis. Tetapi bagaimana dari segi lingkungan? Jika dilihat dari foto yang viral tadi, seolah komodo yang merupakan penghuni asli tempat itu menolak proyek geopark karena ingin melindungi habitatnya. Foto ini pun dijadikan simbol penolak dari masyarakat.

Advertisement

Proyek ini mendapat kritik dari banyak orang, terutama para aktivitas lingkungan. Sebab bisa berakibat buruk pada satwa dan masyarakat sekitar

Komodo menghadang truk | Illustration by Hipwee via www.hipwee.com

Dilansir dari CNN, komunitas Garda Pemuda Komodo mendesak pemerintah untuk menghentikan proyek geopark di Taman Nasional Komodo. Pasalnya, mereka khawatir proyek tersebut justru mengancam kelangsungan komodo dan lebih dari 200 spesies hewan lainnya yang hidup di sana.

Selain itu, mereka cemas karena masyrakat sekitar bisa dirugikan. Sebab, proyek geopark bisa menjadi ladang monopoli lahan oleh sejumlah perusahaan yang sudah bekerja sama dengan pemerintah. Bisa-bisa lahan untuk pertanian dan perikanan bagi warga sekitar akan semakin berkurang.

Oleh karena itu, Garda Pemuda Komodo berusaha menghentikan proyek geopark dengan cara mengirim surat ke UNESCO sejak September silam. Mereka berharap agar UNESCO bisa meneliti kelayakan proyek dan berbicara dengan pemerintah Indonesia. Tetapi jika hal tersebut nggak dipenuhi, Garda Pemuda Komodo akan mendesak UNESCO untuk mencabut status Taman Nasional Komodo sebagai situs warisan dunia. Lalu masyarakat sekitar akan mengelola Pulau Komodo secara mandiri dan swadaya.

Advertisement

Menanggapi kritik masyarakat, Kementerian PUPR berkata akan melakukan pembangunan tanpa merusak atau mengganggu habitat komodo. Tetapi, tetap perlu diawasi nih!

Komodo di habitatnya | Photo by SURZet on Deposit Photos via id.depositphotos.com

Akhirnya Kementerian PUPR angkat bicara setelah foto seekor komodo yang “menghadang” truk menjadi viral. Untuk menenangkan masyarakat, mereka berkata akan melaksanakaan penataaan di kawasan Pulau Rinca dengan penuh kehati-hatian.

“Pembangunan infrastruktur pada setiap KSPN direncanakan secara terpadu baik penataan kawasan, jalan, penyediaan air baku dan air bersih, pengelolaan sampah, sanitasi, dan perbaikan hunian penduduk melalui sebuah rencana induk pengembangan infrastruktur yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimoeldjono seperti dikutip dari Kompas.

Meskipun pemerintah telah berjanji seperti itu, masih banyak orang yang merasa sangsi. Apalagi Taman Nasional Komodo sudah ditutup sejak 26 Oktober 2020 demi pembangunan. Hingga kini masyarakat masih berusaha menolak pembangunan tersebut, jadi kita tunggu aja perkembangan selanjutnya. Semoga keputusan yang diambil menjadi lebih baik bagi satwa maupun masyarakat di sana.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Tinggal di hutan dan suka makan bambu

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE