Modus Pelaku Hampir Selalu Sama, Kenapa Masih Banyak yang Terbuai Penipuan Online?

Korban penipuan online

SoHip, coba deh cek isi kotak pesan di telepon pintar kamu! Ada orang asli atau hampir semua nomor yang masuk nggak dikenal dan mengirim pesan aneh?

Dulu, kita mungkin familier dengan pesan berisi kalimat ‘mama minta pulsa’ yang pernah heboh pada masanya dan nggak sedikit memakan korban. Nah, seiring bertambahnya waktu, akal orang untuk menipu pun makin lihai. Mulai dari menawarkan pinjaman online sampai memperdaya calon korban dengan iming-iming hadiah karena berhasil menang undian, semua dilancarkan.

“Selamat Anda beruntung mendapatkan hadiah senilai 100 juta rupiah…”

Begitulah kira-kira isi pesannya. Mungkin banyak orang yang mengira bahwa mereka akan mampu mendeteksi apakah pesan yang diterimanya merupakan penipuan atau sungguhan. Pasalnya, biasanya model dan modus yang digunakan serupa. Makanya, banyak yang mungkin berpikir ‘Kok masih ada aja korban-korban yang berjatuhan, ya?’ saat melihat realita.

Ternyata, penipuan online semacam phising (penipuan lewat telepon) tidak bisa diremehkan lo. Melalui penuturan para korban, cara pelaku melancarkan aksinya memang tak sembarangan. Singkatnya, pelaku memakai siasat yang bikin calon korban yang ragu-ragu berubah jadi yakin.

Siang itu, telepon Rudi berdering di sela-sela waktu bekerja. Awalnya, Rudi mengabaikan panggilan tak dikenal itu, tapi….

Awalnya bisa kena penipuan online | Photo by Mohamed Hassan on PxHere

Seperti hari-hari biasa, Rudi sibuk dengan tumpukan pekerjaan. Sebagai salah satu Public Relation di sebuah perusahaan, Rudi sudah bekerja hampir dua tahun lamanya. Konsentrasinya yang sedang tertuju ke layar komputer teralihkan saat ponselnya berdering. Nomor tak dikenal, pikir Rudi.

Panggilan itu pun berhenti karena diabaikan. Namun, nggak berselang lama, ponsel itu kembali berbunyi oleh panggilan dari nomor tak dikenal tadi. Didorong oleh rasa penasaran, ia pun mengangkat telepon.

“Halo,” ucap Rudi.

“Halo. Selamat siang, Bapak Rudi. Saya Amanda dari….” jawab sang penelpon.

Panggilan tak terduga itu akhirnya berlanjut cukup panjang. Setelah mendengarkan penjelasan si penelpon, Rudi baru tahu kalau dirinya penerima hadiah dari sebuah perusahaan aplikasi perbankan digital. Mendengar kabar itu, Rudi tentu senang. Meskipun sempat ragu, perlahan Rudi mulai percaya. Apalagi, ia ingat beberapa hari lalu menuliskan komentar di akun Instagram perusahaan tersebut. Oh, mungkin gara-gara itu, pikir Rudi.

Setelah berbincang banyak hal sekaligus menyakinkan diri, Rudi sampai pada titik keyakinan bahwa telepon tersebut memang benar. Dugaan soal penipuan hilang seketika. Ia mulai mengikuti arahan si penelepon. Saat itulah Rudi mulai masuk dalam jebakan pelaku voice phishing.

Setelah memberikan data pribadi yang diminta, uang dalam tabungan hasil jerih payah selama berbulan-bulan lenyap begitu saja

Pelaku penipuan online minta data pribadi korban | Credit: Wikimedia

Komunikasi terus berlanjut, Rudi diminta untuk mengaktifkan lagi akunnya di sebuah aplikasi perbankan digital.  Untuk mengaktifkanya, Rudi harus pakai akun teman yang masih aktif. Akhirnya, ia meminta bantuan seorang rekan kerja yang ada dalam satu ruangan.

Singkatnya, pelaku penipuan meminta nomor rekening, e-mail, dan nomor ponsel. Tanpa berpikir panjang, apalagi masih disibukkan dengan pekerjaan, teman Rudi menyanggupi. Ia memberikan data yang diminta dan mengirimkannya ke nomor pelaku. Sampai saat itu, baik Rudi maupun temannya nggak curiga sama sekali. Sampai akhirnya, teman Rudi membuka aplikasi tabungan digitalnya.

Bak petir di siang yang cerah, seluruh tabungan teman Rudi tak bersisa lagi. Semua uang lenyap. Rudi dan temannya langsung panik dan bingung setelah sadar  bahwa mereka telah menjadi korban penipuan.

Walaupun sudah melaporkan ke pihak kepolisian, penipuan yang menimpa keduanya tak bisa diusut. Soalnya, sesuai kronologi kejadian, korban dinyatakan dengan sukarela memberikan data pribadinya ke pelaku. Uang simpanan teman Rudi pun tetap melayang.

Berhasil sadar dari jebakan penipuan, Andini mengakui pelaku memang pintar memperdaya korban untuk menunjukkan data pribadinya

Sadar ditipu sebelum memberikan data pribadi | Photo by Mohamed Hassan on PxHere

Nasib mujur masih berpihak pada Andini. Tak sampai bernasib nahas seperti Rudi dan temannya, Andini sadar adanya kejanggalan di tengah obrolan dengan pelaku penipuan meskipun awalnya sempat yakin.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini