Saat ini krisis pangan menjadi isu yang mengkhawatirkan dan banyak dibicarakan berbagai pihak karena menjadi ancaman yang besar bagi dunia. Jumlah penduduk dunia tidak diimbangi dengan peningkatan produksi pertanian dan kesadaran para pemimpin negara untuk melakukan pembangunan yang bijak.

Dilansir dari CNN, sebagai kawasan yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi di dunia, populasi di kawasan Asia Pasifik tergolong tidak seimbang. Asia Pasifik memenuhi 50 persen jumlah populasi dunia, tapi hanya memiliki 20 persen lahan untuk memproduksi pangan. Ini menambah kekhawatiran akan berjalannya pemerataan pangan global.  Jika krisis pangan dibiarkan, maka harga-harga pangan bisa melonjak naik. Bayangkan saja jika harga pangan melonjak pesat, maka bagaimana para penduduk miskin di seluruh dunia dapat bertahan hidup?

Advertisement

Tidak hanya itu saja, ancaman iklim juga berpengaruh terhadap kelangkaan pangan yang terjadi di dunia. Kekurangan dan kelangkaan pangan akan bertambah di banyak negara jika akses mereka terhadap sumber pangan terhambat oleh adanya perubahan iklim yang tidak menentu. Dilansir dari Kompas, Berdasarkan kajian Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bersama Kementan serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang dirilis Januari 2018, tanaman padi sangat rentan terdampak perubahan iklim. Dalam kurun waktu 20-50 tahun mendatang, diperkirakan akan terjadi penurunan produksi padi hingga 1,5 ton per hektar di delapan provinsi penghasil utama padi di Indonesia.

Sebagai negara berkembang dengan jumlah impor bahan pangan yang tinggi, tidak mengherankan bahwa Indonesia juga akan terkena dampak krisis pangan. ironis, mengingat sumber daya alam di Indonesia itu melimpah. Nah Simak 5 hal kecil berdampak besar yang bisa kita lakukan untuk mengatasi krisis pangan ini ya, Guys!

1.  Mulailah untuk menghabiskan makanan yang kamu konsumsi setiap harinya. Sebab makanan yang terbuang dalam jumlah banyak akan menambah sampah baru lho untuk lingkungan kita

sisa makanan yang terbuang sia-sia via fiisanatos.info

Dari mulai sisi produksinya, banyak sekali makanan yang terkadang kurang sempurna untuk didistribusikan sehingga dibuang begitu saja. Ini masih ditambah sisi konsumsinya. Kita terkadang ingin memakan banyak makanan tanpa memperhatikan kapasitas perut kita sendiri dan pada akhirnya terbuanglah makanan itu dengan sia-sia. Mari kita pikirkan, jika satu tempat makan saja membuang banyak makanan dalam jumlah banyak, bagaimana dengan satu negara Indonesia jika terlampau banyak makanan yang terbuang sia-sia?

2. Dengan lebih banyak mengonsumsi sayur, maka kita akan berpartisipasi kepada dunia untuk mencegah krisis pangan yang mengancam negeri

produksi daging membuat efek rumah kaca via pixabay.com

Advertisement

Lingkungan yang baik akan berpengaruh terhadap kualitas pangan yang baik pula. Memilih makanan nabati dibanding makanan daging adalah salah satu caranya. Data yang diungkap FAO pada tahun 2006 menjelaskan bahwa daging merupakan komoditi penghasil emisi karbondioksida paling tinggi(20%) bahkan melampaui jumlah emisi gabungan dari semua kendaraan di dunia. Mencengangkan bukan? Yuk mulai belajar dengan melakukan hal kecil seperti lebih menyukai sayur dibanding daging, sehingga kita bisa membantu mengurangi efek rumah kaca yang bisa mengganggu iklim dunia.

3. Ikut menjadi pemerhati lingkungan adalah salah satu upaya kecil namun penting yang bisa ditularkan kepada orang lain. Yang penting, tetap menjaga lingkungan agar seimbang

perlindungan hutan untuk mencegah perubahan iklim via pixabay.com

Sudah kita ketahui bahwa salah satu faktor penyebab krisis pangan adalah perubahan iklim. Salah satu yang paling berpengaruh adalah kelestarian hutan yang merupakan jantung hidup dunia untuk tetap bisa menyeimbangkan iklim yang tak menentu. Hal kecil yang bisa kita lakukan adalah ikut menjadi pemerhati lingkungan dengan mengampanyekan kalimat super klise tapi penting seperti “sebaiknya membuang sampah ditempatnya yaa” dan “tanamlah pohon kembali setelah engkau menebangnya yaa” kepada orang-orang terdekat.

4. Salah satu penyebab terbesar krisis pangan adalah rakusnya korporasi-korporasi yang melakukan penggusuran hutan dan lahan-lahan pertanian demi berbagai pembangunan, maka kita bisa turut mendukung gerakan-gerakan perlawanan dalam kasus-kasus konflik agraria

Pagar hidup melawan penggusuran tanah via www.warningmagz.com

Beragam jenis pembangunan, baik oleh perusahaan swasta atau pemerintah, termasuk pembangunan jalan, pelabuhan, bandara, yang harus mengorbankan sawah atau lahan-lahan produktif jelas menghancurkan ekosistem produksi pangan kita. Sekilas, ini adalah persoalan dilematis. Namun, selain banyaknya manipulasi yang biasa dilakukan oleh para penggusur, seharusnya ketersediaan pangan sudah menjadi prioritas di atas kepentingan apapun di era krisis sekarang. Jangan ragu untuk mulai menunjukan keberpihakan pada petani atau mereka yang mencoba mempertahankan tanah dan sumber produksi pangan kita. Tak harus dengan ikut demonstrasi, lakukan lewat segala cara yang kamu bisa.

5. Bacalah jurnal-jurnal ilmiah untuk mendalami isu krisis pangan yang sedang ramai diperbincangkan, supaya kita dapat menemukan solusi dan turut serta membantu keseimbangan pangan Indonesia

buku merupakan sumber ilmu via www.pexels.com

Jika kamu hobi membaca maka tidak ada salahnya untuk mendalami isu-isu mengenai krisis pangan dengan membaca buku terkait atau jurnal-jurnal ilmiah. Banyak sekali jurnal yang bisa kamu pelajari untuk mengatasi permasalahan krisis pangan di Indonesia. Bisa juga untuk mempelajari bagaimana solusi yang dihadapi negara lain contohnya adalah seperti Negera Jepang yang mengganti tepung gandum dengan tepung umbi sebagai upaya mempertahankan kedaulatan pangan.

Jangan anggap remeh catatan di atas ya. Sedikit hal kecil akan menjadi kebiasaan baik yang akan terus berkelanjutan dalam jangka panjang lho. Pahami bahwa pangan adalah kebutuhan yang paling utama dari yang utama bagi manusia. Maka itu yang harus diprioritaskan dibanding isu lainnya. Ingat, “Ketika pohon terakhir ditebang, ketika sungai terakhir dikosongkan, ketika ikan terakhir ditangkap, barulah manusia menyadari bahwa dia tidak dapat memakn uang.” – Eric Weiner.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya