Kronologi dan Penyebab Kubah Masjid Islamic Center Terbakar Hingga Ambruk

Masjid Jakarta Islamic Center (JIC) biasanya ramai dikunjungi jamaah yang hendak menunaikan salat di sana. Namun, pemandangan berbeda terjadi pada Rabu (19/10) sore kemarin, ketika kepulan asap hitam membumbung tinggi di langit sekitar masjid yang beralamat di Koja, Jakarta Utara itu. Kepulan asap itu berasal dari kubah Masjid JIC yang dilahap di jago merah.

Advertisement

Masyarakat sekitar yang melihat kejadian tersebut ramai berusaha memadamkan api, tapi cukup kesulitan, karena sumber api berada di atas bangunan yang cukup tinggi. Berbagai foto dan video peristiwa tersebut pun beredar luar di media sosial dan menjadi sorotan warganet.

Kebakaran kubah masjid JIC terjadi sore hari setelah jamaah menunaikan salat Ashar

Masjid jakarta islamic center Masjid jakarta islamic center

Situasi saat kebakaran dari luar bangunan masjid | Foto dari Instagram Humas Jakarta Fire

JIC saat sore hari memang cukup ramai dipadati jamaah yang singgah untuk salat. Beruntungnya, kebakaran terjadi sekitar pukul 15.15 WIB, setelah jamaah salat Ashar selesai. Melansir dari Republika, Humas JIC Paimun Karim menuturkan bahwa api pertama kali membakar sisi barat kubah masjid. Angin yang saat kejadian sedang cukup kencang membuat api cepat menyambar dan membakar bagian kubah lainnya.

Api yang kian membesar dan membakar seluruh bagian kubah selama kurang lebih setengah jam membuat bangunan itu roboh dan jatuh ke lantai satu bangunan masjid. Menurut Paimun Karim, bangunn cepat runtuh kemungkinan karena beban berat dari hiasan lampu kipas yang menggantung pada bagian atas bangunan.

Advertisement

“Cepat runtuhnya kubah juga mungkin disebabkan oleh beratnya beban dua belas lampu kipas khas Betawi dengan berat satu ton,” kata Paimun Karim, seperti yang Hipwee nukil dari Republika pada Kamis (20/10).

Seperti beberapa video kejadian yang diunggah Humas Jakarta Fire di Instagram, tampak kepulan asap dari api yang membakar bagian badan kubah. Ada pula video situasi di dalam masjid tampak lampu-lampu kipas raksasa yang dimaksud Paimun Karim masih menggantung di langit-langit masjid ketika serpihan bangunan mulai berjatuhan dari atas. Di slide berikutnya juga tampak detik-detik kubah masjid yang runtuh.

Kebakaran dipicu oleh aktivitas renovasi bangunan yang menimbulkan percikan api

Advertisement

Kebakaran yang melanda masjid JIC berawal dari aktivitas pekerja bangunan yang sedang merenovasi bagian kubah masjid. Melansir dari Kompas, Kasat Intelkam Polres Metro Jakarta Utara AKBP Slamet Wibisono mengungkapkan bahwa salah satu material renovasi yang digunakan menggunakan tripleks terbakar saat proses pemasangan, sehingga menimbulkan percikan api.

“Pekerja dari PT Dwi Agung Sentosa Pratama sedang melakukan renovasi atap kubah Masjid Islamic Center. Renovasi menggunakan bahan tripleks. Saat proses pemasangan, pekerja melelehkan membran menggunakan alat bakar. Saat itu muncul percikan api dari alat bakar,” tutur Slamet, dinukil dari Kompas.

Lebih lanjut Slamet menjelaskan bahwa pekerja sempat berusaha memadamkan api menggunakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan), tapi api semakin membesar, hingga akhirnya api menyebar ke seluruh bagian kubah. Untuk mengatasi kebakaran, Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Sudin Gulkarmat) Jakarta Utara mengerahkan 21 unit damkar dan 105 personel. Api baru berhasil dipadamkan secara keseluruhan pada pukul 18.53 WIB.

Beruntung api berhasil ditangani sebelum menjalar ke bangunan di sekitar seperti Gedung Sosial Budaya dan Gedung Bisnis yang letaknya cukup dekat dengan bangunan masjid. Nggak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran ini. Pengelola masjid juga berhasil menyelamatkan beberapa dokumen dan perangkat komputer milik lembaga.

Diketahui masjid JIC mulai dibangun pada 1 Oktober 2001 dan pertama kali digunakan salat Jumat pada 9 Septeber 2002 dan diresmikan pada 4 Maret 2003. Bangunan berdiri di bekas lokalisasi Kramat Tunggak di atas tanah seluas 10.9 hektar. Masjid ini diklaim memiliki keunikan berupa bentang kubah tanpa tiang terpanjang se-Asia Tenggara.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE