Kuda Andong di Malioboro Tumbang, Katanya Gara-gara Diklakson Waktu Macet. Kasihan Banget Kudanya!

Kuda tumbang karena klakson kendaraan

Saat libur Natal dan Tahun Baru datang, kota-kota favorit destinasi liburan selalu dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah. Mereka datang berbondong-bondong untuk menghabiskan waktu berlibur bersama keluarga, sanak saudara, atau teman-teman. Salah satu kota yang nggak pernah sepi waktu akhir tahun adalah Yogyakarta. Kota yang katanya “Berhati Nyaman” ini punya banyak destinasi menarik buat dikunjungi. Siapa yang sepakat kalau Malioboro adalah salah satunya?

Advertisement

Tapi nih guys, kemarin sempat ada insiden miris yang terjadi di Malioboro lo. Seekor kuda penarik andong tumbang di tengah jalan diduga karena diklakson kendaraan saat lagi macet. Kejadian ini diunggah oleh pengguna Twitter lengkap dengan videonya. Banyak yang bertanya-tanya, kenapa ada orang tega membunyikan klakson ke hewan penarik andong. Wah, gimana sih kisah selengkapnya? Simak bareng Hipwee News & Feature yuk!

Kejadian ini terjadi saat libur panjang kemarin, saat Malioboro dipenuhi wisatawan dan lalu lintas lagi macet-macetnya

Buat yang tinggal di Jogja atau pernah ke Jogja, mungkin sudah paham kalau Malioboro itu pasti ramai banget setiap lagi musim liburan. Jadi, wajar kalau kemacetan di sekitarnya hampir nggak bisa dihindari. Selain sebagai destinasi wisata belanja, jalanan Malioboro juga dipenuhi andong dan becak sebagai angkutan tradisional.

Nah kemarin, tepatnya 24 Desember 2018 malam, ada insiden tumbangnya kuda andong di kawasan Malioboro. Katanya kuda itu jatuh lantaran diklakson kendaraan di belakangnya yang terjebak macet. Kejadian ini direkam dalam sebuah video dan diunggah di Twitter oleh akun @iamMariza. Kita aja yang manusia suka kaget dan kesal kalau diklakson tiba-tiba dari belakang waktu macet, apalagi kuda??

Namanya daerah turis, harusnya kita paham lah ya kalau ada risiko kena macet kalau melintas di sana. Lagipula, mengklakson andong kan nggak ada gunanya juga…

Jangan mengklakson andong via soloraya.solopos.com

Sebenarnya belum bisa dipastikan juga sih apakah kuda itu tumbang beneran karena klakson, atau mungkin karena kelelahan. Soalnya masih minim informasi gitu, dan videonya juga cuma merekam saat-saat si kuda sudah jatuh di jalan. Tapi yang jelas, kasus semacam ini bisa banget jadi pelajaran terutama buat kita yang hobi jalan-jalan keluar kota. Harusnya sebagai turis, kita paham dengan risiko kemacetan yang mungkin terjadi di kota-kota destinasi wisata saat lagi musim liburan. Dan secara logika aja sih, mau mengklakson kuda kayak gimana sebenarnya juga nggak ngaruh, malah bisa bikin si kuda stres terus jatuh atau kabur.

Dulu pernah ada kejadian serupa, lokasinya di Jogja juga. Seekor kuda mengamuk setelah diklakson bus yang waktu itu hendak mendahului andongnya

Kudanya jadi lari tanpa arah via www.kompasiana.com

Advertisement

Seperti dikisahkan Riana Dewie di Kompasiana, kejadian serupa pernah juga terjadi di Jogja. Waktu itu ada andong yang mau mengantar wisatawan ke toko bakpia. Tapi tiba-tiba ada bus yang ingin mendahului dan membunyikan klakson dengan keras. Alhasil, si kuda kaget dan lari tanpa arah sampai menabrak counter HP dan warung kaki lima. Ia juga terlepas dari talinya, membuat pak kusir kewalahan mengejar.

Ia pun harus meregang nyawa via www.kompasiana.com

Setelah akhirnya berhasil ditangkap, ternyata si kuda mengalami pendarahan di bagian kakinya. Darahnya mengalir dengan derasnya. Tapi si kusir tetap menggiring kudanya pulang, tanpa ada keinginan buat mengobatinya dulu. Di tengah perjalanan, kuda nahas itu tergeletak di jalan, mungkin karena kehabisan darah dan kelelahan. Kondisinya terus menurun sampai akhirnya mati begitu saja.

Sebagai kota yang masih membebaskan andong dan becak beroperasi, alangkah lebih baik kalau pemerintah mulai memikirkan cara buat memisahkan jalur angkutan tradisional dan kendaraan biasa

Harusnya dibuat jalur terpisah via nasional.tempo.co

Jogja memang kota yang masih menjaga warisan budayanya, makanya andong dan becak masih beroperasi dengan bebas di sana. Bukannya mau angkutan-angkutan ini dihentikan, tapi mungkin pemerintah bisa memikirkan cara buat membangun sistem lalu lintas yang memisahkan angkutan tradisional dengan kendaraan biasa seperti mobil, motor, atau bus. Apalagi di jalan-jalan yang sering dipenuhi turis. Mungkin dengan membuat jalur kendaraan tradisional sendiri, kemacetan dan kekacauan seperti kasus-kasus di atas bisa lebih diminimalisir.

Kita sebagai warga lokal atau wisatawan yang berkunjung, paling ya cuma bisa bersabar kalau harus kena macet karena harus “berbagi” jalan dengan andong atau becak. Intinya sih jangan egois aja~

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

CLOSE