Kurangi Kepadatan Kota, Jepang Iming-imingi 1 Juta Yen Biar Warganya Mau Pindah dari Tokyo

Kepadatan penduduk di daerah perkotaan memang kerap memicu berbagai masalah, mulai dari lingkungan, hingga tingkat kriminalitas. Nggak heran bila ada negara yang berupaya mengurangi kepadatan penduduk dengan cara yang mereka anggap bisa lebih efektif. Seperti yang dilakukan pemerintah Jepang saat berupaya mengurangi kepadatan penduduk di Tokyo.

Advertisement

Pemerintah Jepang menawarkan dana insentif sebesar 1 juta Yen atau Rp118 juta tiap anak dalam sebuah keluarga bila mereka mau pindah dari Tokyo. Kebijakan ini pun jadi sorotan dunia internasional, meski bukan kali pertama bagi Negeri Sakura itu untuk memberikan insentif terkait kebijakan yang sama, tapi dana insentif kali ini cukup tinggi, bahkan mencapai tiga kali lipat dari yang sebelumnya.

Kepadatan Tokyo makin meningkat sementara angka kelahiran di pedesaan menurun

Pemerintah jepang insentif 1 juta yen

Kepadatan penduduk | Foto dari Pexels

Kebijakan insentif untuk keluarga yang mau pindah dari Tokyo dilakukan untuk mengurnagi kepadatan Tokyo yang kian meningkat sejak beberapa tahun terakhir. Sebagai ibukota negara, kota Tokyo memang jadi pusat kehidupan dan perekonomian.

Namun, saat ini pemerintah Jepang menemui masalah baru, di mana Tokyo yang makin padat berbanding terbalik dengan kondisi di pedesaan. Melansir dari CNN, angka kelahiran di pedesaan Jepang justru cenderung menurun. Hal itu membuat pemerintah Jepang membuat kebijakan baru lagi soal insentif bagi keluarga yang mau pindah dari Tokyo ke daerah lain.

Advertisement

Mulai April 2023 mendatang, setiap keluarga berhak menerima 1 juta Yen per anak jika mereka pindah ke daerah yang berpenduduk rendah. Kebijakan itu berlaku bagi anak usia di bawah 18 tahun atau 18 tahun ke atas tapi masih bersekolah.

Melansir dari DetikNews, kebijakan insentif bagi keluarga yang mau pindah dari Tokyo ini bukan kali pertama dilakukan oleh pemerintah Jepang. Namun, besaran insentif kali ini cukup fantastis, karena mencapai tiga kali lipat dari kebijakan sebelumnya.

Advertisement

Sejak tahun 2019 diketahui pemerintah Jepang pertama kali meluncurkan kebijakan itu untuk menarik minat penduduk Tokyo agar pindah. Saat itu pemerintah menawarkan pekerja di Tokyo yang sudah 5 tahun tinggal di sana bisa meberima gaji 600 ribu Yen atau Rp70 juta bila mau pindah tinggal di pedesaan.

Tampaknya upaya belum cukup berhasil, karena di tahun 2022 pemerintah Jepang menawarkan pada tiap keluarga di Tokyo dana insentif sebesar 300 ribu Yen atau Rp 35,6 juta per anak bila mereka mau pindah ke pedesaan. Lagi-lagi upaya itu belum cukup berhasil, hingga di tahun 2023 ini pemerintah Jepang kembali mencoba pola kebijakan yang sama dengan insetif yang lebih besar.

Ketimpangan hidup di kota dan di pedesaan Jepang akibat pola migrasi besar-besaran

Pemerintah jepang insentif 1 juta yen

Desa yang sepi | Foto dari Pexels

Kepadatan penduduk di Tokyo meningkat secara signifikan sejak beberpa tahun lalu. Sekitar satu dekade terakhir, orang di berbagai penjuru Jepang berbondong-bondong migrasi ke kota besar untuk mencari kerja. Melansir dari CNN, di Tokyo sendiri saat ini menjadi kota terpadat dengan 37 juta penduduk.

Populasinya makin meningkat saat pandemi Covid-19. Saat itu jumlah warga yang bemigrasi ke Tokyo lebih besar daripada warga yang memilih pulang ke pedesaan. Data statistik Jepang bahkan hanya mencatat 80 ribu jiwa yang meninggalkan Tokyo.

Lonjakan migrasi ini bikin pedesaan di Jepang makin sepi karena ditinggal penduduk usia produktif merantau ke kota. Hal itu bikin angka kelahiran dan jumlah anak di pedesaan makin menurun, karena pasangan yang menikah memilih tetap tinggal di kota untuk mendapat fasilitas kesehatan dan pendidikan yang lebih maju.

Sementara itu, di pedesaan usia produktif sangat sedikit. Bahkan banyak fasilitas pendidikan yang tutup, karena nggak punya murid lagi. Jutaan rumah dan apartemen di pedesaat juga kosong karena ditinggal penghuninya bermigrasi. Hal ini bikin kualitas penduduk di pedesaat makin merosot.

Kondisi tersebut berbanding terbalik di kota besar. Kawasan pemukiman makin padat, ketersediaan rumah dan apartemen makin sedikit dengan harganya yang terus melambung. Secara ekonimi pun makin ketat, bahkan Tokyo menempati urutan kelima secara global sebagai kota paling mahal untuk ditinggali pada 2022.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE