Lato-lato Bepotensi Bikin Cedera, Ternyata Pernah Dilarang di Sejumlah Negara

Permainan lato-lota saat ini memang sangat populer di berbagai kalangan, baik anak-anak hingga orang dewasa seolah berlomba memainkannya. Seiring populernya mainan ini, juga makin banyak insiden celaka karena main lato-lato. Mulai dari memar-memar di tangan, benjolan di dahi, gigi patah hingga luka di area mata.

Advertisement

Insiden terbaru yang cukup viral menimpa seorang bocah di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Bocah tersebut bahkan sampai harus menjalani operasi karena luka sobek di bagian matanya akibat terkena pecahan lato-lato. Ternyata, nggak hanya di Indonesia saja, di sejumlah negara seperti Amerika Serikat (AS), beberapa negara di Eropa, dan Mesir pun pernah melarang permainan ini, loh. Apa ya alasan pelarangan tersebut?

Lato-lato pecah mengenai mata sebabkan cedera parah di Kalimantan Barat

tren lato lato

Lato-lato | Foto dari Instagram

Lato-lato memang bukan kali ini saja populer di Indonesia, di sekitar tahun 2000-an, bahkan tahun-tahun sebelumnya lato-lato juga pernah jadi mainan yang ngetren. Popularitas lato-lato kembali lagu belum lama ini dan menjadi tren yang sangat menjamur di manapun.

Di balik manfaatnya yang dianggap sejumlah ahli bisa mengalihkan ketergantungan anak terhadap gadget, lato-lato juga menimbulkan bunyi bising yang cukup mengganggu dan bahkan menyebabkan cedera. Cederanya pun beragam, mulai dari lebab, benjol, hingga cedera parah pada mata.

Advertisement

Melansir dari CNN Indonesia, hal itu dialami oleh berinisial AN dari Kubu Raya, Kalimantan Barat. AN cmengalami cedera parah pada matanya usai terkena pecahan lato-lato. Matanya mengalami luka robek sehingga harus dioperasi untuk mendapat jahitan.

Permainan lato-lato yang terdiri dari dua bola plastik yang dikaitkan dengan tali kemudian digoyang hingga saling berbenturan di titik atas dan bawah itu memang bisa memicu bahaya. Benturan bola plastik yang padat bila terlalu kencang bisa mencederai tubuhh, apalagi bila pecah dan mengenai mata.

Advertisement

Mengingat potensi bahaya itu, sudah seharusnya lato-lato nggak boleh dimainkan sembarang usia. Melansir dari DetikHealth, pemerhati anak Retno Listyarti menegaskan sebaiknya lato-lato dimainkan oleh anak minimal usia 8 tahun. Kalaupun anak balita belum bisa main yang serius, alias hanya ikut-ikutan saja, tapi cukup sering lato-lato digunakan untuk memukul teman atau bahkan bermain dengan cara yang nggak benar hingga melukai diri sendiri.

“Saya mendorong batas usia anak bermain lato-lato minimal 8 tahun. Karnea anak usia 8 tahun ke atas telah memiliki kemampuan kognitif untuk menangkap aturan saat bermain lato-lato baik dilakukan sendiri maupun bersama teman-temannya,” ungkap Retno, dinukil dari DetikHealth.

Akibat bahaya yang mengancam, lato -lato pernah dilarang di sejumlah negara di Amerika

lato lato dilarang

Lato-lato dilarang disejumlah negara | Foto dari YouTube

Populernya lato-lato memang nggak hanya di Indonesia saja. Pada tahun 1960-an, lato-lato juga cukup populer di AS. Di sana, lato-lato dikenal dengan clackers ball. Mainan itu terbuat dari kayu dan kaca, sehingga bila pecah serpihannya akan terpental dengan kencang. Hal itu menyebabkan berbagai insiden cedera mata yang serius.

Melansir dari Groovy History, maraknya insiden cedera karena lato-lato membuat permainan itu sempat ditarik dari peredaran. Kemudian lato-lato mengalami perubahan bahan, yang dulunya dari kaca mulai berganti dari plastik padat. Namun, rupanya nggak membuat insiden cedera berkurang. Sebab, bola plastik padat pun bisa pecah.

Berdasarkan laporan New York Times, tercatat ada empat kasus cedera serius akibat pecahan lato-lato di tahun 1971. Beberpa insiden parah pun membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) melarang lagi peredaran lato-lato. Bahkan, banyak komunitas yang mendukung pelarangan itu, karena lato-lato dianggap meresahkan.

Enggak hanya insiden dalam permainan saja yang membuat lato-lato dilarang. Permainan ini juga kontroversi karena menyerupai boleadora yaitu senjata koboy asal Argentina untuk menangkap hewan buruan. Alat yang terdiri dari bola dan tali itu dilempar ke arah hewan buruan, kemudian mencerat kaki atau sayap hewan.

Inggris melarang lato-lato karena menimbulkan kebisingan dan kekacauan sosial

Nggak hanya berpotensi menyebabkan cedera, bunyi lato-lato yang nyaring apalagi saat dimainkan bersamaan juga cukup mengganggu, seperti yang terjadi di Inggris Raya. Melansir dari Clover Cloud, lato-lato sempat dilarang karena dianggap sangat mengganggu aktivitas publik akibat bunyinya itu. Lato-lato juga menyebabkan banyak insiden cedera yang dialami anak-anak di Inggris.

Clover Cloud melaporkan banyak anak-anak mengalami tulang retak hingga patah tulang akibat terbentur bola lato-lato. Seiring banyaknya insiden cedera dan laporan keresahan masyarakat, akhirnya pemerintah mengeluarkan larangan lato-lato di Inggris.

Lato-lato pernah dilarang di Mesir karena dianggap melecehkan presiden

Nggak cuma bikin potensi cedera dan suara bising yang mengganggu saja, loh. Di Mesir, lato-lato dilarang karena dianggap melecehkan pemerintahan. Melansir dari DetikEdu, lato-lato dilarang di Mesir pada tahun 2017.

Lato-lato di Mesir disebut sisi’s balls. Kata ‘sisi’ sianggap mirip dengan nama presiden yang saat itu dijabat oleh Abdul Fattah as-Sisi. Sementara itu, kata ‘balls’ mengacu pada testis atau bagian dari organ reproduksi laki-laki. Makanya, mainan itu dianggap melecehkan presiden dan pemerintahan.

Pro dan kontra lato-lato memang terus jadi pembicaraan di samping potensi bahaya yang mengancam, lato-lato juga dianggap bisa mengasah keterampilan, ketangkasan tangan, hingga mengalihkan kecanduan gadget pada anak. Dilema pelarangan lato-lato juga pasti terjadi di masyarakat. Seperti pelarangan lato-lato di sekolah juga dianggap kurang bijak oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), karena dianggap merampas hak anak untuk bermain.

Momen anak main lato-lato harusnya jadi momen penting untuk transfer nilai-nilai seperti mengupayakan bagaimana bermain yang aman untuk diri sendiri, dan orang-orang di sekitar, waktu bermain yang sesuai, hingga melatih kegigihan dan keterampilan anak. Maka dari itu permainan lato-lato juga harus dalam pengawasan orang dewasa.

Seperti saat membeli lato-lato untuk memilih kualitas yang bagus, tak mudah pecah, tali yang kuat jadi tak mudah terlepas dan sebagaianya. Pembatasan usia bermain lato-lato juga harus diterapkan, untuk meminimalkan anak cedera ataupun mencederai orang lain.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE