Beberapa waktu lalu Indonesia sempat digemparkan dengan kabar soal permen untuk anak-anak yang mengandung narkoba dan dijual bebas oleh pedagang-pedagang jajanan SD. Rumor ini jadi ketakutan tersendiri bagi para orang tua yang punya anak masih duduk di bangku sekolah. Mereka takut anak-anaknya tidak paham gimana membedakan permen yang layak konsumsi atau tidak.

Ternyata ketakutan mereka terbukti dengan terkuaknya kasus baru di mana balita 3 tahun di Riau yang positif narkoba setelah memakan permen. Katanya sehari sebelumnya, balita ini mengonsumsi permen yang dibelikan kakeknya. Meski yang membeli orang dewasa, nyatanya tidak menutup kemungkinan kalau produk yang dibeli itu berbahaya ya. Duh, gimana kisah selengkapnya? Yuk, simak ulasan Hipwee News & Feature berikut ini.

Sungguh malang nasib bocah asal Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau ini. Urinnya dinyatakan positif narkoba oleh RSUD setempat, padahal umurnya masih 3 tahun

Ilustrasi balita positif narkoba via news.detik.com

Advertisement

Sedih sekaligus miris, melihat nasib bocah 3 tahun asal Selat Panjang, Kepulauan Meranti, Provinsi Riau ini. Ia dinyatakan positif narkoba oleh RSUD setempat setelah menjalani serangkaian tes urin. Dari laporan yang dilansir Kompas, diduga anak ini mengonsumsi permen yang mengandung narkoba jenis methafetamin dan amphetamin. Permen itu ia dapatkan dari kakeknya yang membelinya di sebuah warung.

Menurut laporan keluarga, hari Jumat (30/3) malam, bocah ini tidak bisa tidur dan bertingkah laku aneh, serta terus meracau

Pemeriksaan urin via news.detik.com

Sekitar 3 jam setelah mengonsumsi permen yang diduga mengandung narkoba itu, bocah inisial R ini bertingkah laku aneh seperti berbicara tidak jelas dan kesulitan tidur. Intinya ia bersikap tidak seperti biasanya. Karena curiga terjadi sesuatu, keesokan harinya keluarga langsung melapor ke pihak berwajib. Berdasarkan keterangan Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP La Ode, saat itu keluarga dengan didampingi Anggota Sat Resnarkoba membawanya ke rumah sakit. Setelah diperiksa dan dites urin, ternyata malah dibilang positif narkoba. Kasihan…

Setelah diselidiki, ternyata ibu si bocah yang makan permen yang sama, juga positif narkoba. Saat ini permen yang dicurigai itu sedang diuji laboratorium

Permen yang disita polisi via daerah.sindonews.com

Usut punya usut, di hari sebelumnya, ibu bocah ini juga ikut mengonsumsi permen yang dimakan anaknya. Menurut keterangan keluarga, si kakek membeli 5 bungkus permen. Si anak memakan 3 bungkus, sedangkan ibunya memakan sisanya. Tidak seperti anaknya yang diperiksa di rumah sakit, si ibu justru diperiksa di rumah.

Inilah pentingnya jadi konsumen cerdas. Sebelum membeli produk, minimal bacalah label-label yang tertera di bungkusnya seperti label BPOM, tanggal kadaluarsa, dan lain-lain

Jadilah konsumen yang cerdas via www.clickhole.com

Advertisement

Di luar kekhawatiran akan persebaran narkotika dan obat-obat terlarang yang semakin tidak terkontrol, sebenarnya juga sudah jadi kewajiban kita sebagai konsumen untuk ‘melek’ terhadap produk yang dijual di pasaran. Meski labelnya lengkap sekalipun, toh ternyata banyak juga produsen tidak bertanggung jawab yang menempelkan label BPOM palsu. Selain label BPOM, konsumen juga perlu cek kadaluarsanya terlebih dahulu. Tapi meski tanggal expired-nya masih lama, ternyata ada juga kemungkinan labelnya dipalsukan lho, seperti kasus yang baru-baru ini terjadi, dimana polisi menggrebek gudang makanan kadaluarsa di Tambora.

Apalagi jika produk tidak ada labelnya sama sekali. Sudah seharusnya kita waspada. Belum ada keterangan lebih lanjut tentang jenis atau merek yang dikonsumsi balita dan ibu di Riau ini. Permen yang diduga mengandung narkoba itu kini juga sedang dalam tahap uji laboratorium. Sedangkan pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan, baik di keluarga korban maupun lingkungan sekitar mereka tinggal, termasuk distributor yang mengirim produk permen tersebut ke wilayah Selat Panjang.

Di zaman yang sudah seperti ini, kita memang harus ekstra hati-hati. Kasihan anak yang belum tahu apa-apa harus jadi korban. Jangan sampai deh kasus seperti ini terulang lagi guys. 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya