Tinggal di kota pelajar yang kini makin riuh sesak memang selalu punya dilemanya sendiri. Yang paling sering terasa adalah kesementaraan hubungan di kota ini. Bukan karena sudah tidak sejalan lagi tapi lebih seringnya karena orang merasa mudah stuck di sini.

Entah darimana awal mulanya, Jogja sering disalahkan atas rasa mentok tidak bisa kemana-mana. Tidak punya impian besar setelah lulus kuliah yang jadi kesimpulannya,

Advertisement

“Ah ini pasti karena aku masih tinggal di Jogja.”

Merasa karir tidak bisa berkembang karena memilih stay di kota ini kemudian berkoar-koar di sosial media:

“Jogja memang nyaman. Tapi yang terlalu nyaman bisa membuat kita mati rasa. Lupa kalau masih ada mimpi yang harus dikejar.”

Advertisement

Mereka yang tetap memilih bertahan di kota ini selepas punya kebebasan menentukan yang dimau dalam hidup sering dianggap kurang pemberani. Hidupnya kurang menantang, tidak seperti solo traveler yang berani berpetualang ke negeri asing dengan suhu dibawah 0 derajat.

Tinggal dan memilih berakar di Jogja adalah perjalanan mengabaikan alis yang sedikit terangkat selepas mendengar di mana kamu berdomisili. Berbeda dengan pandangan kebanyakan di luar sana, orang yang berani menantang diri untuk tetap tumbuh di Jogja adalah orang dengan daya juang paling gila.

Orang bisa kembali dengan nostalgia, sementara buatmu ini medan perang yang mesti dihadapi setiap harinya

Kawan-kawan kuliahmu bisa kembali ke Jogja dengan perasaan sentimentil. Mereka ingin napak tilas ke lesehan Mas Kobis yang katanya rasa MSGnya tetap tidak ada duanya. Mampir ke ayam geprek Bu Rum yang dulu murah meriah tapi sekarang sudah merangkak naik harganya. Malamnya lanjut ke Pak Pong karena tidak puas kalau tidak makan klatak saat sudah ke Jogja.

Jenis-jenis manusia dengan hati penuh nostalgia ini tidak akan keberatan kalau harus membayar 10-15 ribu lebih mahal saat membayar makanan. Kemungkinan kecil pula menggerutu saat melihat Jalan Kaliurang yang makin ruwet, bikin pusing kepala.

Sementara buatmu Jogja pelan-pelan berubah dari zona nyaman jadi zona berjuang. Di kota ini kamu tidak lagi bisa menitipkan harapan untuk kembali kalau sudah jenuh bekerja. Bagaimana bisa jadi distraksi kalau setiap hari kamu harus pulang ke kota yang sama? Jogja juga tidak bisa kamu jadikan gua untuk menyepi saat cutimu diapprove oleh HRD. Hal yang buat orang lain eksotis sudah jadi biasa di matamu. Memutuskan bekerja dan tinggal di sini membuat Jogja tidak lagi seseksi dulu.

Berdamai dengan lapangan pekerjaan yang tidak kunjung bertambah. Melatih diri supaya tidak lemah

Berbeda dengan pendapat orang yang menganggap Jogja selalu terjangkau, kamu yang tinggal di sini setiap hari merasa sebaliknya. Harga-harga makin meroket, godaan nongkrong lebih banyak. Kalau mau cari makanan 10 ribuan kenyang sih ada. Tapi kamu yang sudah hidup irit dari jaman mahasiswa sesekali ingin makan enak juga kan? Keinginan menyamai hingar bingar pusat pemerintahan membuat Jogja dijamuri banyak tempat nongkrong baru. Gaya nongkrong berubah, harga yang harus dibayar juga bertambah.

Meniti karir di Jogja juga tricky. Tampak tidak seperti hutan rimba, kesempatan di kota ini lebih sempit jika kamu hanya ingin sekadar mengikuti jenjang karir. Dengan semua kenyamanannya, Jogja menantangmu untuk menciptakan kesempatan-kesempatan baru. Belum banyak perusahaan yang mau membuka kantor pusatnya di kota ini. Jika kamu bukan pemilik usaha maka pilihan pekerjaannya bisa berkutat di lingkup yang itu-itu saja.

Pilihannya kamu berkarir di kantor seharian untuk hanya jadi medioker. Atau punya pemasukan tetap tapi harus berusaha dua kali lebih keras untuk menciptakan peluang sendiri.

Bekerja di kota ini menantangmu pintar memikirkan culture hack supaya tetap bisa berkembang. Jika enggan dikalahkan rasa ‘tidak enakan’ kamu harus belajar jadi orang yang keluar dari cangkang budaya yang selama ini diamini. Mengangkat suara ketika tidak sepaham, belajar berkonfrontasi walau rasanya tidak enak sekali.

Cuma pembelajar yang bisa menang di sini. Social support untuk sukes (jika tidak diciptakan sendiri) minim sekali

Di Jogja kamu perlu jadi masokis untuk mencambuk diri sendiri supaya performa tetap on point. Tidak mudah datang ke kantor yang berbentuk rumah kontrakan, bertemu orang-orang berkaus yang hobinya gojeg kere —kemudian harus membahas sprint mingguan atau rancangan KPI. Tidak mudah bangun di kota yang sama saat kamu masih bisa malas-malasan sebagai mahasiswa — dengan mindset berbeda. Sekarang kamu bukan lagi cari ilmu dan bisa leha-leha. Ada banyak cicilan yang harus dibayar, ada jenjang karir yang mesti dikejar.

Tidak ada ‘bantuan’ dari baju kantoran, meeting dengan petinggi di ruangan dingin, kegiatan bertukar kartu nama di business meeting yang membuatmu harus berperilaku profesional. Semua mesti datang dari integritas dan kesadaran. Kalau orang bilang Jakarta cuma bisa dimenangkan oleh orang-orang tangguh, mereka yang memilih menaklukkan dunia dari Jogja sebenarnya punya mental lebih edan.

Di balik kultur merunduk yang sering terbawa ke mana-mana Jogja tidak pantas disalahkan untuk kemandegan apapun di hidupmu

Jika masih menyalahkan Jogja sebagai faktor berhentinya roda perkembangan hidup, maka mentalmu yang perlu dipertanyakan. Jangan-jangan selama ini kamu terlalu terbiasa membebankan keengganan berusaha ke orang lain yang sebenarnya tidak berdosa. Atau kamu yang terlalu malas berusaha. Mudah dipatahkan oleh keterbatasan, malas bergerak padahal punya impian-impian besar.

Stuck lebih sering datang bukan karena tempat, tapi apa yang tidak kita lakukan dengan kuat. Lingkungan yang santai dengan suasana laid back tetap bisa membuatmu berlari kencang. Jogja, dengan sejuta anggapan orang atas ke-selowannya sebenarnya punya tantangan rumit seperti labirin yang tidak semua orang bisa memecahkannya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya