Menarik, 16 Seniman ini Gelar Konser Serupa Festival Cuma Lewat Stories Instagram Saja

mendesak tapi santuy

Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan

Advertisement

Jargon tersebut sangat pas menggambarkan gelombang protes yang beberapa waktu belakangan terjadi. Eskalasi aksi yang meningkat dari hari ke hari adalah bukti bahwa kondisi negeri semakin tidak baik-baik saja.

Menyadari itu, ruang perjuangan tentu mesti diperluas. Bersiasat dan memanfaatkan celah, adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan pergerakkan melawan #ReformasiDikorupsi. Setelah aksi langsung di jalanan direspons kebrutalan aparat keamanan, para aktivis, musisi, sastrawan dan seniman lintas disiplin lainnya pada Rabu (23/10/2019), bersatu dalam gelaran konser ‘Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital’. Acara ini adalah respon atas kebijakan pemerintah yang nggak pro-rakyat dan represifitas aparat dalam mengamankan massa aksi.

Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital, Rabu (23/10) via twitter.com

Setelah sukses menggelar konser dan bincang dengan tajuk ‘Mendesak Tapi Santuy Vol. I’ pada 9 Oktober lalu di Jakarta, akun twitter @AksiLangsung sebagai inisiator dan pemandu acara kembali menggelar hal serupa namun dengan cara yang unik. Kali ini, dengan menghimpun 16 kolaborator, mereka mendobrak batas geografis demi satu tujuan; membuat pergerakkan berdampak lebih masif, dengan memaksimalkan kekuatan media sosial. Melalui fitur live Instagram dan Twitter di masing-masing akun penampil, mereka menggelar konser dari berbagai tempat.

Terobosan menarik sebagai inisiatif menyuarakan aspirasi

Line Up ‘Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital’ via twitter.com

Jika pada umumnya konser diadakan di lokasi tertentu lengkap dengan tata panggung, Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital hadir berbeda. Setiap penampil tampil apa adanya. Seakan meniadakan jarak antara masing-masing penampil dan penonton, konser digital ini dapat dilihat sebagai bentuk pemaksimalan media sosial dan penyiasatan ruang untuk menyampaikan aspirasi. Seperti jalannya festival seni pada umumnya, Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital juga menerapkan jadwal dan urutan tertentu untuk setiap penampil.

Danto, panggilan akrab penggawa Sisir Tanah menyatakan konser ini adalah inisiatif baik dalam memaksimalkan media sosial. Ia berharap, acara serupa bisa jadi alternatif bagi para musisi lain dalam menyampaikan aspirasi.

Advertisement

Sisir Tanah dalam ‘Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital’, Rabu (23/10) via www.instagram.com

“Nggak tahu ini pernah dikerjakan apa enggak, tapi ini adalah terobosan menarik untuk sebuah inisiatif menyuarakan tujuan-tujuan tertentu melalui musik… Semoga terobosan ini bisa menjadi alternatif bagi para musisi lain dalam menyuarakan yang baik,” Ujar Danto dalam live Instagram di akun miliknya @sisirtanah, Rabu (23/10)

Sementara Iksan Skuter, musisi Folk asal Malang, dalam penampilannya mengatakan inisiatif konser ini sangat futuristik karena memanfaatkan media sosial sebagai panggung penampilan di dunia maya, dan menerapkan jadwal dan urutan tertentu.

Iksan Skuter dalam ‘Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital’, Rabu (23/10) via www.instagram.com

“Ini keren banget, ya. Milenial banget. Konser 4.0,” Lanjut Iksan dalam live Instagram di akun miliknya @iksanskuterofficial, Rabu (23/10).

Menyuarakan aspirasi dan menyampaikan apresiasi bagi mereka yang turun aksi

Melihat gelombang protes di beberapa daerah di Indonesia belakangan, yang direspons represif oleh aparat keamanan, tentu kita yang tak turun ke jalan patut angkat topi untuk keberanian gelombang massa yang mewakilkan aspirasi sebagian besar rakyat Indonesia.

Frau dalam ‘Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital’, Rabu (23/10) via www.instagram.com

Bagi para seniman yang terlibat, gelaran acara Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital adalah wujud kontribusi mereka dalam menyampaikan respon atas keadaan negeri, dan juga bentuk apresiasi mereka terhadap yang turun aksi. Seperti Leilani dari Frau, yang mendedikasikan keterlibatannya dalam gelaran ini untuk para mahasiswa, pelajar dan masyarakat sipil lainnya yang turun aksi, selain juga wadah baginya menyuarakan aspirasi.

“Ada berbagai macam perasaan ketika masyarakat buruh, pelajar, petani dan mahasiswa turun ke jalan melawan #ReformasiDikorupsi. Sedih karena ada korban meninggal,” Ucap Leilani dalam live Instagram di akun miliknya @Leliyani, Rabu (23/10).

Seniman pantomim, komikus dan penyair juga turut ‘Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital’

Wanggi Hoed dalam ‘Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital’, Rabu (23/10) via www.instagram.com

Nggak hanya melibatkan musisi, Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital juga melibatkan seniman lintas disiplin lain seperti Wanggi Hoed yang menampilkan pertunjukkan pantomim, Komikazer yang melakukan live drawing, dan Anya Rompas yang membacakan puisi miliknya. Seni yang berpihak pada kepentingan bersama disuguhkan dengan pesan kuat mendukung gerakan rakyat.

Anya Rompas dalam ‘Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital’, Rabu (23/10) via www.instagram.com

Pesan kuat mendukung gerakan rakyat tersebut disampaikan Komikazer sebelum melakukan live drawing. Ia mengatakan keterlibatan dalam acara ini adalah bentuk dukungan terhadap KPK yang dilemahkan dan perjuangan atas hak sebagai warga negara, sebagaimana yang juga diperjuangkan massa aksi.

“Kita harus tetap berjuang. Karena, meski kita nggak bisa ngerasain hari ini, tapi anak cucu kita nanti akan merasakan hasil perjuangan kita. Karena nggak ada perjuangan yang jadi dalam semalam,” Tutup pria yang akrab disapa Azer dalam live Instagram miliknya @komikazer (23/10).

Komikazer dalam ‘Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital’, Rabu (23/10) via www.instagram.com

Adapun yang akan tampil dalam gelaran Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital selain yang telah disebutkan di atas adalah Oscar Lolang, Wanggi Hoed, Jangar, The Hydrant, Anya Rompas, Westjamnation, Remissa, Deugalih, Efek Rumah Kaca, Heartcorner dan Sound of Reality. Konser digital ini dijadwalkan berlangsung dari pukul 16.30 hingga pukul 23.00 WIB.

Menyaksikan gebrakan dalam menyuarakan aspirasi, adalah alasan terbaik untuk optimistis bahwa perjuangan selalu bisa tumbuh di mana saja. Mendesak Tapi Santuy Vol. Digital memang bukan yang pertama dalam keberhasilan menghimpun massa dan memanfaatkan dunia maya sebagai ruang pertarungan melawan kesewenang-wenangan. Namun dalam format konser mendesak kebijakan, mereka yang pertama.

Acara ini selain bisa dimaknai sebagai hiburan, bisa pula menjadi ruang refleksi bagi masyarakat banyak, bahwa perjuangan harus terus digelorakan tanpa batasan dan sekat. Seperti kata Wiji Thukul, perjuangan itu adalah bunga yang menebar biji-bijinya, yang suatu saat akan tumbuh bersama, dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

colour my life with the chaos of trouble

Editor

ecrasez l'infame

CLOSE