Bom, penembakan massal, sabotase dan pembajakan, rasanya sering sekali memenuhi headline media massa beberapa tahun belakangan ini. Begitu banyak nyawa melayang karena aksi teror tersebut. Para pelaku tak memandang umur atau jenis kelamin korbannya. Seperti yang baru terjadi di Texas, AS. Penembakan massal dilakukan seorang pria di sebuah gereja dan menewaskan 26 orang serta menyebabkan puluhan lainnya luka-luka. Korban termuda kabarnya masih berusia 5 tahun.

Ya, terorisme dan radikalisme sekarang menjadi ancaman global yang terus meluas jika tidak diberantas. Di Indonesia sendiri seperti dilansir Rappler, ada 170 kasus terorisme yang ditangani kepolisian RI sepanjang tahun 2016. Naik dari tahun sebelumnya yang “cuma” 86. Beberapa di antaranya seperti bom Sarinah di Jakarta, bom di gereja Solo, dan bom Thamrin.

Advertisement

“Setiap dari kita harus dapat menjadi bagian upaya penciptaan perdamaian dunia.” – Presiden Jokowi dilansir Tempo.

Kejahatan kemanusiaan yang dilakukan perorangan atau kelompok ini tak bisa begitu saja dihilangkan tanpa campur tangan berbagai pihak. Semua harus saling bersinergi satu sama lain, mulai dari pemerintah, kepolisian, hingga orang biasa sekalipun. Kamu yang sedang membaca tulisan ini juga punya andil ikut menumpas aksi teror apapun yang terjadi di Indonesia. Jangan bayangkan caranya adalah dengan bergabung di Densus 88 atau TNI ya. Bahkan kamu cuma perlu duduk di rumah sambil bersantai kok. Simak dulu deh ulasan Hipwee News & Feature berikut ini.

Sebagai pengguna media sosial, kamu perlu waspada terhadap banyaknya konten berbau radikal yang tersebar bebas di semua platform

Waspada konten radikal via www.kwiknews.my

Berkembangnya teknologi tak hanya bisa dimanfaatkan oleh kita sebagai warga biasa, tetapi juga oleh banyak kelompok teroris untuk berkomunikasi atau menjaring anggota baru. Efektivitas dan efisiensi penggunaan media sosial dianggap bisa mendukung ‘kegiatan’ mereka. Tak jarang anggota-anggota kelompok ini menyusup ke grup-grup online dan mendoktrin pemahaman mereka lewat medium tersebut. Sebagai pengguna media sosial, kita tentu harus pintar-pintar membentengi diri dari pengaruh-pengaruh paham ekstremis macam itu. Jangan mudah terprovokasi. Sebaliknya, alihkan perhatianmu dengan memanfaatkan media sosial untuk hal yang jauh lebih baik.

Media sosial sifatnya sangat masif, kamu bisa berteman dengan siapapun. Saat kamu menemukan akun yang menjurus ke hal-hal berbau ekstremis, jangan diam saja!

Kalau ada akun nyeleneh, jangan diam saja via www.cbc.ca

Advertisement

Hal pertama yang harus kamu lakukan jika menemukan sebuah akun mencurigakan, kamu perlu menelusurinya lebih jauh. Kalau pakai istilah kids zaman now adalah kepo. Ya, kepo nggak cuma bisa kamu lakukan ke gebetan aja. Kepo ini bertujuan untuk mendalami profil orang yang dicurigai tersebut di media sosial. Sebuah akun bisa dibilang mencurigakan kalau ia rutin mengunggah dan berpartisipasi menyebarkan konten-konten berbau radikal, seperti penghinaan terhadap paham tertentu, unggahan intoleran, cara merakit bom, dan lain-lain. Aktivitas ini juga bisa dilihat dari kolom-kolom diskusi.

Selain kepoin mantan, kamu juga harus terus memantau aktivitas akun-akun mencurigakan setiap harinya

Pantau terus aktivitasnya via aboutmanchester.co.uk

Monitoring penting dilakukan karena sebagai masyarakat yang hidup di negara demokrasi, setiap orang sebenarnya punya kebebasan berbicara atau mengutarakan pendapat. Ini mutlak dan tak bisa diganggu gugat. Tapi lain cerita jika hak tersebut disalahgunakan untuk menebar kebencian, provokasi, atau konten-konten radikal. Nah, untuk meminimalisir kemungkinan salah sasaran, kamu perlu melakukan pemantauan secara terus menerus pada akun-akun media sosial yang kamu curigai.

Selanjutnya kamu juga bisa melaporkan akun-akun tersebut ke platform media sosialnya langsung, sekalipun itu adalah orang terdekat kalian

Jangan ragu untuk melaporkan ke platform bersangkutan via www.rodparsley.com

Setiap platform media sosial entah Twitter, Facebook, Youtube, atau Instagram, menyediakan opsi buat penggunanya melaporkan konten yang berbau SARA, pornografi, hingga radikal. Caranya juga terbilang cukup mudah, tak perlu bertele-tele dengan mengirimkan email atau apapun. Jangan berpikiran bahwa tim mereka tidak menggubris laporan kalian ya. Meski tentu ada ribuan laporan, mereka tetap akan memeriksanya.

Gullnaz Baig, Product Policy Manager Facebook khusus Asia Pasifik, dalam acara “APAC Launch of GIFCT and Tech Against Terrorism” di Jakarta 6-7 November lalu, menyatakan bahwa Facebook memiliki tim yang menguasai sekitar 40 bahasa untuk melacak konten-konten negatif dalam platformnya. Jika ada platform yang belum menyediakan pilihan ‘report’, cara lain adalah dengan block akun tersebut.

“Kami perlu bantuan dari semua lapisan masyarakat untuk memberantas terorisme di Indonesia. Mengingat tim kami yang hanya berjumlah sedikit ini harus memantau jutaan pengguna media sosial, tentu akan lebih mudah kalau masyarakat mau membantu menganalisa akun-akun yang berbau radikal serta melaporkan ke platform yang bersangkutan.” – Analis Media Sosial Densus 88, saat ditemui tim Hipwee.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya