Nasib Kebun Binatang di Masa Pandemi. Kelaparan, Beberapa Hewan Harus Dikorbankan

Nasib kebun binatang di masa pandemi

Salah besar kalau manusia adalah satu-satunya korban di tengah wabah virus Corona. Kita memang menderita gara-gara virus ini. Setelah dua tahun berselang, kita masih terjebak dalam situasi yang rumit dan pelik. Bahkan, pandemi masih belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Bisa bertahan hidup hingga detik ini merupakan pencapaian plus keberuntungan yang luar biasa.

Akan tetapi, pandemi nggak cuma bikin kita saja yang merana. Selama ini, nasib kebun binatang sering kali luput dibicarakan, padahal nyawa di dalamnya juga terancam. Penutupan kebun binatang terjadi di mana-mana, pemasukan nol dan biaya operasional pun minus. Imbasnya, hewan-hewan di dalamnya pun dibayang-bayangi krisis kelaparan.

Sulitnya bertahan di tengah pandemi, kebun binatang sampai-sampai membuka donasi. Lewat pintu-pintu kepedulian kita, binatang-binatang bisa mendapatkan pakan. Langkah kecil kita dapat menyelamatkan mereka. Sebagai sesama makhluk hidup yang berbagi tempat di bumi ini, kita sudah sepatutnya peduli dengan para binatang. Akan tetapi, apakah cara tersebut akan efektif selamanya?

Kebun binatang ditutup sementara. Tidak ada pemasukan, biaya pakan binatang dapat dari mana?

Nasib para satwa di kebun binatang selama pandemi | Photo by Butterflystroke on Pixabay

Sejak tahun 2020 lalu, nasib kebun binatang sebenarnya mulai menghiasi pemberitaan. Sayangnya, semua berhenti sampai pemberitaan itu saja. Nasib tempat ini masih tak menentu dan kehidupan di dalamnya pun semakin suram. Bagaimana tidak? Banyak kebun binatang yang akhirnya ditutup sementara, demi mencegah kerumunan dan risiko penularan virus yang masih tinggi.

Namun, masalah nggak selesai hanya dengan menutup kebun binatang saja. Penutupan itu malah menimbulkan masalah baru yang menuntut solusi secepatnya. Lantaran tidak ada pemasukan, pihak kebun binatang kebingungan mencari pakan untuk hewan-hewan. Menggalang donasi jadi opsi setelah keadaan semakin mendesak.

Misalnya, sejak ditutup pada bulan Februari 2020 lalu, Jurug Solo Zoo nggak dapat pemasukan. Sementara itu, perawatan satwa harus tetap berjalan. Kondisi dilematis ini tentu serba sulit. Apapun yang terjadi, para satwa harus makan. Sehingga, berbagai cara tetap ditempuh pihak kebun binatang untuk mendapatkan jalan keluar, termasuk membuka donasi mulai dari Rp5000,00.

“Kita belum tahu pandemi akan berakhir, namun merawat satwa tidak boleh berakhir.” Tulisan dalam poster pembukaan donasi, dilansir dari Instagram @jurugsolozoo

Nasib malang kebun binatang Jurug Solo cuma contoh kecil dan paling baru. Sebelumnya, kebun binatang lain lebih dulu terjerat masalah serupa. Donasi pun jadi satu-satunya pilihan supaya para satwa tidak kelaparan.

Kebun binatang lain juga megap-megap di masa pandemi. Sebelum donasi, beberapa di antaranya bahkan hendak mengorbankan hewan-hewan tertentu

Rusa jadi pakan untuk satwa karnivora agar kebun binatang tetap bertahan | Credit: Wikimedia

Nasib Medan Zoo tidak lebih beruntung. Tahun 2020 lalu, Medan Zoo telah menggalang donasi. Keputusan itu diambil setelah melihat kondisi finansial kebun binatang yang makin tipis, sedangkan para satwa mulai di ambang kelaparan. Akhinya, ide penggalangan donasi dicetuskan. Berkat kepedulian-kepedulian sukarelawan, Medan Zoo bisa bernapas lebih panjang.

Bandung Zoological Garden alami masalah yang sama. Akibat tidak ada pengunjung, kebun binatang ini sampai berencana mengorbankan hewan-hewan tertentu. Mereka memotong hewan herbivora untuk pakan hewan karnivora. Pilihan sulit harus diambil agar krisis kelaparan tidak memburuk, meski caranya mungkin menyedihkan. Skenario terburuk itu jadi pertimbangan bila kondisi kebun binatang semakin memprihatinkan.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini