Ditolak Bank, Orang Rimba ini Terpaksa Menyimpan Kembali Uang Rp1,5 Miliar dalam Tanah

orang rimba ditolak bank

Orang Rimba, sebutan ini diberikan pada Suku Kubu yang masih menetap di provinsi Jambi. Penamaan itu tak bisa dilepaskan dari kebiasan hidup Orang Rimba yang tinggal di hutan. Sesuai ajaran nenek moyang, mereka menetap di hutan dan menyatu dengan alam. Karena terpisah dari kehidupan kota dan desa, Orang Rimba cenderung asing dengan berbagai sistem modern termasuk menyimpan tabungan di bank. Seperti yang dirasakan oleh Haji Jaelani.

Advertisement

Sebagai Orang Rimba yang menghabiskan hidup di hutan, Jaelani baru mengenal bank baru-baru ini. Sayangnya, ketika ia hendak menyimpan uangnya dalam jumlah besar, ia justru ditolak oleh pihak bank. Mau tak mau, ia harus kembali menyimpan uangnya di dalam tanah di hutan. Bagaimana kisah Jaelani sampai ditolak bank? Berikut ceritanya!

Dari hasil kebun sawit dan karet, Jaelani mengumpulkan uang sampai jumlahnya Rp1,5 miliar. Selama ini ia simpan di bawah tanah

Orang rimba tinggal di hutan | Credit: Kompas

Dengan mengandalkan kebun sawit dan karet belasan hektare, Jaelani bertahan hidup di hutan. Setiap masa panen tiba, ia selalu menyimpan uang hasil penjualan sawit dan karet di sebuah plastik hitam. Lalu, ia taruh plastik berisi uang itu di dalam tanah di hutan. Selama 2,5 tahun, ia mengumpulkan uang belasan juta setiap bulan di dalam tanah sampai-sampai ia baru sadar tabungannya sudah mencapai 1,5 miliar.

Waktu itu, Jaelani belum mengenal bank dan sistem tabungan modern. Jadi, ia hanya menguburkan uang tabungannya di tanah kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas. Di atas tabungannya, ia membangun pondok sementara dengan atap terpal dan lantai susunan kayu. Nah, setelah bertemu dengan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warung Informasi Konservasi (Warsi), ia baru mengetahui tentang keberadaan bank. Ia pun tertarik menabung di bank karena merasa lebih aman. Selama ini, ia sering resah gara-gara menyimpan uang miliaran di tanah.

Advertisement

Pengin menabung di bank, Jaelani pun membongkar tabungannya di tanah. Sayangnya, pihak bank menolak

Orang Rimba ditolak pihak bank | Credit: Lend Academy

Dengan membawa uang tabungan, Jaelani pergi ke Kota Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi. Sesampainya di kota, ia langsung menyetorkan uang 1,5 miliar rupiah pada pihak bank. Namun, di luar dugaan, pihak bank menolak permintaan Jaelani lantaran ia tak punya KTP.

“Saya tidak punya kartu tanda penduduk (KTP) dan alamat rumah saya hutan. Maka, saya disuruh orang bank membawa uang itu pulang,” terang  Jaelani dalam sebuah wawancara di Desa Air Panas, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi, pertengahan Mei.

Dilansir Kompas, ia mengaku sedih saat itu. Menurutnya, pihak bank tak memiliki belas kasihan sehingga tega membuatnya kembali menyimpan uang di tanah. Padahal selama ini selalu merasa resah dan takut menyimpan uang sebanyak itu di hutan, apalagi penduduk di kampung transmigrasi mulai mendengar soal tabungannya. Ia khawatir orang-orang jahat berbuat hal buruk padanya. Namun, ia juga tak bisa berbuat banyak. Akhirnya, ia pulang ke hutan dan menyimpan kembali uangnya di dalam tanah.

Advertisement

Setelah kejadian tak mengenakkan itu, Jaelani membuat TKP agar bisa meminjam uang di bank. Lagi-lagi, ia menerima diskriminasi

Bank/ Credit: evening_tao

Gara-gara tak punya KTP, Orang Rimba tak bisa mengakses jasa keuangan seperti warga biasa yang tinggal di pemukiman. Bahkan setelah Jaelani memiliki KTP, ia pun mengaku masih menerima tindakan diskriminasi. Pada tahun 2004 silam, Jaelani membuat KTP dan menetap di pemukiman di kaki Bukit Duabelas.

Selepas insiden penolakan bank, Jaelani membelanjakan uangnya untuk membeli kebun sawit lagi. Dengan uang itu pula Jaleani dan keluarga pergi naik haji. Ia pun membeli rumah di kampung para penduduk transmigrasi dan mencoba hidup di luar hutan. Disebabkan biaya kebutuhan di kampung makin tinggi, uang tabungannya menipis. Belum lagi harga sawit dan karet kian merosot. Alhasil, ia berniat meminjam uang di bank demi penghijauan hutan yang kritis. Namun, ketiadaan penjamin membuat Jaelani gagal meminjam uang di bank padahal ia sudah memiliki KTP sesuai persyaratan.

“Sekali lagi saya ditolak bank karena tidak ada penjamin (orang yang dipandang kaya dan tinggal di kampung untuk menjamin Jaelani saat meminjam uang),” ungkap Jaelani.

Di tengah kondisi yang makin sulit karena pandemi, Orang Rimba semakin terhimpit keadaan. Apalagi kehidupan mereka sudah terancam sejak maraknya deforestasi. Ketika mengakses layanan publik pun mereka sering terganjal proses administrasi. Makanya, Orang Rimba terus mendesak pemerintah untuk membuat kebijakan yang ‘ramah’ bagi mereka.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE