“Waah… Nggak bener, nih. Masa agama gue dikatain!”
“Hah? Lu baca apaan sih?”
“Ini nih berita di Facebook. Kurang ajar banget emang!”
“Yah itu mah berita hoax, cuy…”

Percakapan seperti itu sudah sering terjadi baru-baru ini. Ya, semua bermula ketika teknologi sudah mengambil alih persebaran informasi di dunia. Platform sosial media seperti Facebook yang dulu isinya cuma curhat-curhatan, kini mulai banyak berita palsu yang tersebar karena orang seringkali share tanpa berpikir panjang. Tanpa mengecek validitas atau keabsahan sumber berita, masyarakat terlebih dulu terpancing emosi dan bereaksi. Masalah persebaran berita palsu atau hoax ini sudah menjadi fenomena global yang meresahkan semua kalangan tanpa terkecuali.

Terutama di negara dengan populasi besar seperti Indonesia, dimana tiap harinya informasi dari 200 juta lebih penduduk berputar tanpa kendali. Jika tidak mau jadi korban hoax, harus ada kesadaran pribadi untuk berhati-hati menanggapi berita yang dibaca. Tapi pemerintah juga punya tanggung jawab untuk meminimalisir dampak buruk dari kebebasan persebaran informasi di era serba canggih ini. Maka dari itu, baru-baru ini pemerintah mengumumkan inisiatifnya memerangi hoax dengan mengikuti model pemerintah Jerman. Seperti apa sih itu? Yuk simak bersama.

Pemerintah Indonesia terinspirasi oleh keberanian Jerman menerapkan sistem denda untuk setiap hoax yang tersebar di Facebook

Facebook memang jadi sarang persebaran berita palsu via yahoo.com

Sepanjang tahun 2016 kemarin, Facebook memang sudah melakukan banyak hal dalam usahanya menyetop berita palsu. Fitur-fitur baru dikenalkan, hingga bilik pengaduan dibuka untuk penggunanya. Namun hal itu dinilai kurang efektif mengurangi penyebaran berita palsu.

Advertisement

“Di Jerman itu rencananya baru akan dibuat UU untuk denda yang konon (setara) Rp 7 miliar per hoax,” Menteri Rudiantara – Dikutip dari Kompas

Setelah mendengar Jerman berani mengeluarkan denda, pemerintah Indonesia langsung bertindak reaktif. Pemerintah kita tengah mengkaji kemungkinan untuk meniru langkah berani Jerman tersebut. “Jika dalam waktu 24 jam berita palsu dan meresahkan tidak dihapus dari Facebook, siap-siap saja mereka kena denda!”

Komitmen pemerintah Indonesia juga disambut baik oleh pemimpin Facebook, Mark Zuckerberg. Bahkan dia akan segera berkunjung ke Jakarta untuk khusus membahas perkara pelik ini

Perlu kerjasama semua pihak untuk menanggulangi masalah ini via rappler.com

Banyaknya pihak tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan Facebook untuk memperoleh keuntungan pribadi dengan menyebar berita palsu jelas merisaukan. Karenanya pemerintah kita kini kian getol menggilas peredaran berita palsu tersebut. Salah satu langkahnya adalah memanggil petinggi Facebook.

Facebook yang dinilai sebagai sarang penyebaran berita palsu dinilai wajib bertanggung jawab untuk menghentikannya. Karenanya, Mark Zuckerberg selaku pendiri dan CEO Facebook bakal datang memenuhi ajakan kerjasama pemerintah kita. Agendanya adalah bagaimana cara penanggulangan berita palsu. Memang dibutuhkan upaya bersama untuk membantas kultur hoax yang sudah menyebar luas ini.

Masalah hoax ini jelas tidak bisa disepelekan. Bukan lagi sekadar berimbas konflik online, berita hoax pun ditengarai bisa menyetir masa depan sebuah negara

Bahkan dituduh berandil besar dalam kemenangan Trump via www.maxmanroe.com

Harus diakui, Facebook adalah sosial media paling ramai di Indonesia. Karena penggunaannya yang mudah serta fitur-fitur asik yang ditawarkan oleh Facebook, sosmed yang satu ini sudah jadi kecintaan warga Indonesia sejak 2007 silam. Karenanya Facebook cocok jadi corong utama persebaran berita hoax.

Kasus terbaru adalah tuduhan bahwa Facebook turut andil dalam terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika. Kabarnya karena berita palsu yang menyebar di Facebook, banyak rakyat Amerika yang terpancing dan kemudian memilih Trump sebagai presidennya. Lihat kondisi Amerika saat ini. Rakyatnya terpecah sejak Trump terpilih. Ini yang dikhawatirkan bisa terjadi di Indonesia.

Tapi pertahanan terakhir dan paling efektif untuk menangkal hoax, memang kembali ke diri sendiri. Selalu berpikir kritis dan menjaga emosi adalah strategi terbaik

Mungkin karena masyarakat Indonesia masih kurang kritis via cdn.meme.am

Di Indonesia sendiri perkembangan teknologi tak diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. Hasilnya, apa-apa yang dilihat di sosial media seringkali langsung diproses sebagai kebenaran dan berita yang segera harus dibagi. Padahal banyak berita yang akhirnya dikonfirmasi salah, padahal sudah ada keributan dimana-mana.

“Faktanya, Indonesia termasuk dalam lima besar negara pengguna smartphone dunia. Namun tingkat literasinya di posisi kedua terendah di bawah Botswana di Afrika”

Dalam beberapa bulan terakhir, banyak berita palsu yang beredar dengan memanfaatkan tingkat kemalasan orang Indonesia dalam hal membaca dan mencari fakta. Kalau hal ini dibiarkan, bisa-bisa negara ini bakal ditutupi dengan kebencian yang disebar melalui berita hoax.

Yah, meski masih dalam tahap pembahasan dan belum benar-benar dilaksanakan, namun sepertinya langkah berani seperti yang dilakukan Jerman wajib diterapkan oleh pemerintah kita. Tujuannya jelas. Agar Indonesia benar-benar terbebas dari berita palsu yang meresahkan rakyatnya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya