6 Penemuan Fantastis di Masa Lalu yang Tercipta Saat Lockdown. Karya Isaac Newton Masuk Jajarannya

Penemuan saat lockdown

Akibat pandemi corona, orang-orang harus berada di rumah terus untuk menghindari penyebaran virus. Mungkin awalnya terasa menyenangkan, tetapi lama-lama bosan juga. Setiap hari terasa sama karena menjalani rutinitas yang monoton. Belum lagi ada perasaan waswas dan cemas akibat pandemi yang nggak kunjung berakhir.

Advertisement

Ternyata situasi semacam ini telah terjadi berulang-ulang. Puluhan bahkan ratusan tahun lalu, banyak orang terpaksa mengalami lockdown akibat wabah dan bencana alam. Sebagian orang pun memanfaatkan waktu luangnya untuk berkarya dengan produktif. Yuk, simak sejumlah penemuan dan karya hebat yang diciptakan selama masa mengisolasi diri!

1. Teori gravitasi yang sangat berguna ditemukan oleh Isaac Newton saat mengisolasi diri akibat wabah. Nggak nyangka ya!

Isaac Newton dan pohon apel di rumahnya via id.wikipedia.org

Isaac Newton masih berusia 20 tahun dan baru lulus kuliah saat wabah “The Great Plague” melanda London. Pada 1666, dia kembali ke pertanian keluarganya dan memanfaatkan waktu luang untuk belajar. Nah, kebetulan tepat di luar jendela rumahnya ada pohon apel. Dari pengamatannya pada buah apel yang jatuh ke tanah, Newton menemukan teori gravitasi yang bermanfaat sampai sekarang. Keren banget! Pada masa yang sama, Newton juga mengembangkan kalkulus serta ilmu optik dan cahaya.

2. William Shakespeare terkenal karena telah menciptakan berbagai karya sastra yang fenomenal. Ternyata beberapa karya hebatnya dibuat saat wabah

William Shakespeare dan karyanya via id.wikipedia.org

Semasa hidupnya, Shakespeare telah mengalami beberapa gelombang wabah yang menewaskan banyak orang. Pada Juli 1606, kondisi semakin parah dan Shakespeare yang berusia 42 tahun terpaksa menutup gedung teaternya, The Globe. Lalu dia harus berada di rumah terus. Waktu luangnya pun dimanfaatkan untuk menulis dengan serius. Shakespeare berhasil menciptakan tiga karya hebat yang berjudul King Lear, Macbeth, serta Anthony dan Cleopatra. Hingga kini karya tersebut masih dibaca dan diadaptasi oleh banyak orang.

Advertisement

3. Pernah membaca buku atau menonton adaptasi Frankenstein? Ternyata, karya menyeramkan ini dibuat oleh Mary Shelley di tengah lockdown

Mary Shelley dan bukunya via bookriot.com

Pada 1816, kehidupan Mary Shelley berubah akibat lockdown. Saat itu kota-kota ditutup akibat erupsi Gunung Tambora. Supaya nggak bosan selama berada di rumah, Shelley yang berusia 19 tahun memutuskan untuk menulis. Dia berhasil menelurkan novel Frankenstein yang diikutkan ke kompetisi menulis cerita hantu. Siapa sangka, ternyata buku tersebut digemari banyak orang dan menjadi populer di seluruh dunia. Tokoh Frankenstein pun menjadi ikonis sampai sekarang.

4. Tahu lukisan The Scream yang legendaris? Sang pelukis, Edvard Munch, menghasilkan karya penting yang lain selama wabah flu Spanyol

Edvard Munch dan lukisannya via news.artnet.com

Pada 1893, Munch membuat lukisan The Scream yang terkenal di seluruh dunia. Tetapi, lukisan tersebut bukan hasil karya saat wabah. Munch baru menghadapi wabah flu Spanyol pada awal 1919. Pria ini terserang penyakit dan berusaha cepat memulihkan diri. Setelah fisiknya lebih kuat, Munch membuat lukisan berjudul Self-Portrait with the Spanish Flu. Karya terkenal yang merekam sejarah itu menunjukkan dirinya saat sedang sakit.

5. Saat wabah pes menewaskan keluarganya, Giovanni Boccaccio berusaha tetap bertahan hidup. Dia mengabadikan masa-masa itu menjadi karya berjudul The Cameron

Giovanni Boccaccio dan bukunya via www.magnoliabox.com

Pada 1348, wabah pes melanda Kota Florence di Italia. Ayah dan ibu tiri Boccaccio meninggal karenanya. Dia pun berusaha menyelamatkan diri dengan pindah ke pedesaan yang sepi. Dalam periode ini, Boccaccio yang berusia sekitar 35 tahun memutuskan untuk banyak menulis. Dia berhasil menelurkan The Decameron, yakni kumpulan novelet tentang orang-orang yang mengisolasi diri di vila selama wabah. Banyak orang masih membacanya sampai sekarang.

Advertisement

6. Salvator Rosa kehilangan putranya akibat wabah. Kemalangan ini dituangkan olehnya dalam lukisan berjudul Human Frailty

Salvator Rosa dan lukisannya via commons.wikimedia.org

Kota Napoli di Italia diserang wabah pada 1656. Akibatnya, Rosa kehilangan putra yang sangat disayanginya. Wabah ini juga merenggut nyawa dua saudara Rosa. Dalam kondisi berduka, dia membuat lukisan suram yang berjudul Human Frailty. Karya yang kental akan kesedihan ini menggambarkan putranya yang telah meninggal. Banyak orang yang memuji dan menelitinya sampai sekarang.

Itulah berbagai karya hebat yang dihasilkan selama lockdown akibat wabah dan bencana alam. Orang-orang tersebut sangat hebat karena bisa tetap produktif dalam kondisi yang nggak mendukung. Semangatnya patut kita tiru nih!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Tinggal di hutan dan suka makan bambu

Editor

An amateur writer.

CLOSE