Bayangkan jika ada sekolah yang membebaskan muridnya bertindak sekehendak hati mereka. Tak ada pelajaran formal di ruang kelas, tak ada ujian, tak ada pelajaran menghafal, bahkan siswa tak diharuskan pandai membaca dan menulis, apalagi berhitung matematika. Sekolah ini, Summerhill School, juga tak mengikuti kurikulum nasional, hingga membuat Pemerintah Inggris kesulitan menilai akreditasi sekolah ini.

Jika kamu pernah membaca buku Totto Chan yang menceritakan tentang sekolah Tomoe di Jepang, maka kamu akan menemukan kemiripan antara sekolah yang digambarkan dalam buku itu dengan Summerhill School di Inggris. Kedua sekolah tersebut sama-sama mengusung kebebasan berkreasi, namun tetap menuntut muridnya bertanggungjawab.

Advertisement

Democratic School adalah konsep yang diusung oleh Summerhill dalam menerapkan pendidikan di lingkungan sekolah. A.S. Neill, pendiri Summerhill, percaya bahwa anak-anak bisa menentukan jalannya sendiri tanpa ada intervensi dari orangtua maupun sekolah. Orangtua dan sekolah hanya berfungsi sebagai pendamping dan penunjuk jalan. Anak-anaknya sendiri yang menentukan kemana mereka melangkahkan kaki.

Di Summerhill, murid dibebaskan memilih mengikuti atau membolos pelajaran

Memilih pelajaran yang mereka suka via www.summerhillschool.co.uk

 “[Saat sekolah dulu] Ketika aku lapar, aku pergi ke kelas memasak dan membuat kue, ketika aku menginginkan pedang mainan, aku pergi ke gudang kayu dan membuatnya”

– Caspar Walsh, 44 –

Ketika sekolah dulu kita harus berangkat pagi, dan tak jarang pulang sore demi mengikuti pelajaran tambahan. Namun di Summerhill, anak-anak dibebaskan mengerjakan apapun, dan melakukan apapun, selama tak mengganggu orang lain. Jika kamu punya minat dalam hal seni dan olahraga, kamu tak harus menghadiri kelas Bahasa maupun Matematika.

Advertisement

Mencorat-coret tembok, memecahkan kaca, dan bahkan merokok di dalam lingkungan sekolah pastilah tak mungkin dilakukan para siswa. Bisa-bisa siswa kena sanksi atau hukuman. Namun lain halnya dengan apa yang terjadi di Summerhill. Mereka justru membebaskan murid-muridnya untuk melakukan apapun yang mereka suka, dengan catatan tak menyakiti dan mengganggu orang lain.

Meskipun demikian, bebas bukan berarti bebas sebebas-bebasnya. Di ruang makan Summerhill terpampang kurang lebih 172 peraturan, sekaligus konsekuensi yang harus dilakukan oleh para siswa di sana. Sebagai contoh: denda £5 untuk merokok, 50 penny untuk meludah sembarangan, dan £2 bagi mereka yang mencorat-coret dinding, di luar dinding yang memang diizinkan untuk dipakai jadi graffiti. Namun sebelum membuat peraturan-peraturan ini, pihak sekolah selalu mengajak anak-anak dan para wali murid untuk berembuk bersama. Jadi, peraturan-peraturannya tidak berasal dari sekolah. Mereka adalah hasil rembukan semua pihak yang terlibat di Summerhill.

Pendiri Summerhill yakin bahwa anak-anak bisa menentukan sendiri kemana mereka ingin melangkah, tanpa campur tangan orang dewasa

Bebas menentukan pilihan via www.summerhillschool.co.uk

“Tidak ada orang dewasa yang cukup bijak atau cukup baik untuk membentuk karakter seorang anak.”

– A.S. Neill –

Begitulah pesan yang diwanti-wanti oleh pendiri Summerhill. Setiap anak-anak memiliki karakter, bakat, dan ketertarikannya masing-masing. Beliau percaya bahwa menjejali anak-anak dengan banyak materi justru tak akan efektif. Sebaliknya, biarkan anak-anak memilih hal-hal yang mereka sukai, dan mengembangkan bakat mereka dalam hal-hal tersebut.

Hal ini diakui oleh salah seorang alumni Summerhill, Nathan Clutterbuck. Ia mengakui bahwa dirinya sering menghabiskan banyak waktu di galeri seni, ruang kerajinan, serta membuat pertunjukkan untuk kemudian dipertontonkan kemada murid-murid lain. Bahkan Nathan mengaku bahwa ia lupa sama sekali kapan dia belajar membaca dan menulis. Namun meski demikain, akhirnya toh dia bisa lulus kuliah, dan bekerja menjadi desainer grafis. Jadi, masa kecilnya di Summerhill bukanlah menjadi rintangan.

Diberi kebebasan, berarti mengharuskanmu bertanggungjawab atas segala tindakan

Meski bebas, namun kamu harus tetap bertanggung jawan via www.summerhillschool.co.uk

Seorang mantan siswa di Summerhill bernama Nathalie Gensac menuturkan bahwa hidup dalam suatu lingkungan komunitas berarti mengharuskanmu bertanggung jawab atas segala tindakanmu. Mulai dari pakaian yang kamu kenakan, hingga caramu dalam memperlakukan orang lain. Meski bebas, bukan berarti bebas mengintervensi kebebasan orang lain.

Ternyata, tak semua siswa di Inggris pada waktu itu mendapat kesempatan untuk mengutarakan pendapat mereka. Nathalie yang kemudian pindah ke sekolah negeri mencoba untuk mengemukakan pendapat dan ketidaksetujuannya kepada gurunya, namun ia malah mendapatkan teriakan “Ini pasti gara-gara kamu anak Summerhill!”

Karena keunikan itulah, banyak pihak yang ingin menutup Summerhill

Banyak pihak yang tak suka dengan sistem Summerhill via www.summerhillschool.co.uk

Office for Standards in Education (Ofsted) yang merupakan semacam departemen pendidikan di Inggris sana mencoba menutup sekolah ini karena dianggap menerapkan kurikulum yang tak umum. Mereka beranggapan bahwa anak-anak seharusnya diberi “bekal” berbagai macam pelajaran, mengikuti kursus ini-itu, dan memastikan mereka mendapat nilai tinggi di semua mata pelajaran.

Atas dasar alasan tersebutlah mereka mencoba mengintervensi Summerhill. Bahkan stasiun-stasiun televisi raksasa seperti BBC rela menyajikan drama dan hal-hal negatif di layar kaca tentang sekolah ini. Drama, isu, dan desas-desus tentang apa yang terjadi di Summerhill, membuat para orangtua khawatir mendaftarkan anaknya kesana, yang secara tak langsung telah melarang anak-anak tersebut mengikuti kata hati mereka.

Program di Summerhill menentang pandangan umum para pakar tentang bagaimana seharusnya anak-anak belajar

Memahami anak-anak via www.summerhillschool.co.uk

Umumnya mereka adalah para pakar, dan orang pemerintahan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan anak-anak. Banyak orang yang masih berpikir konservatif, sehingga pendidikan yang ditawarkan Summerhill dianggap tak cocok diterapkan pada anak-anak. Kebebasan berpendapat seakan-akan dianggap masih terlalu dini untuk diajarkan kepada anak-anak.

Namun ini tak membuat pihak Summerhill mengubah kurikulum mereka. Hingga sekarang, Summerhill tetap bertahan dengan keunikannya.

Tak hanya guru, seluruh siswa juga ikut andil dalam menentukan peraturan-peraturan yang akan berlaku terhadap mereka

Siswa diberi kebebasan untuk membuat peraturan via www.summerhillschool.co.uk

Peraturan yang berlaku di dalam dinding Summerhill sangatlah fleksibel. Selain guru, siswa juga dapat mengikuti rapat kecil untuk menentukan peraturan-peraturan di sekolah mereka. Setiap siswa memiliki satu suara, begitu pula guru-guru. Summerhill mempercayakan para siswanya untuk mengambil keputusan, dan mengizinkan mereka untuk berbicara kepada orang dewasa mengenai hal-hal apa saja yang menurut mereka benar.

Karena kita, dan sebagian besar orang dewasa lainnya menganggap diri kita sebagai orang yang lebih tahu, merasa paling benar, dan oleh karenanya membuat kita layak didengarkan tanpa mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak-anak. Tak jarang karena alasan itu, banyak anak-anak yang merasa diperlakukan dengan tidak adil, sehingga mereka tak bisa mengembangkan minat dan bakat bahkan tak jarang muncul tindakan-tindakan destruktif.

Summerhil dianggap sebagai sekolah utopis alias “tidak mungkin ada di dunia nyata”. Namun hingga sekarang, sekolah ini berhasil bertahan, dan alumni-alumninya pun banyak merasa berhutang atas pendidikan yang telah diterima mereka.

Ini hanyalah salah satu contoh saja. Hanya sebuah informasi untuk membuka pikiranmu bahwa ada juga pendidikan di luar sana yang tak menganut sistem pendidikan yang selama ini diadopsi kita. Hipwee tak bermaksud untuk menilai bahwa pendidikan di sana lebih baik dari yang kita miliki. Masing-masing anak (dan mantan anak) tentu tahu apa yang cocok untuk diri mereka sendiri.

Jadi, gimana menurutmu?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya