Polusi Udara Makin Parah, 1,32 Juta Warga Thailand Alami Sejumlah Penyakit Pernapasan

Kualitas udara memang jadi persoalan pelik selama ini. Gimana nggak, sebut saja Jakarta sebagai representasi Indonesia, memiliki kualitas udara yang buruk banget. Bahkan, situs IQAir beberapa kali ‘mendapuk’ Jakarta sebagai kota dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia dalam Indeks Kualitas Udara dengan skor 163 alias tidak sehat. Dampak dari kondisi ini juga nggak main-main. Beragam gangguan pernapasan seperti flu, asma, pneumonia bukannya nggak mungkin akan menjangkiti kita.

Seperti yang baru-baru ini terjadi pada warga Thailand. Diketahui, sekitar 1,32 juta warga Thailand terserang berbagai penyakit terutama gangguan pernapasan akibat polusi udara yang semakin buruk. Bahkan, pemerintah setempat berencana menerapkan kembali kebijakan Work From Home (WFH) dan meminta warganya untuk membatasi pemakaian kendaraan agar mengurangi polusi udara.

ADVERTISEMENT

Sekitar 1,32 juta warga Thailand sakit lantaran polusi udara di sana makin memburuk beberapa waktu terakhir

1,32 juta warga Thailand sakit

1,32 juta warga Thailand sakit | Credit: Photo by anon-tae on iStock

Warga Thailand sekali lagi harus menelan pil pahit lantaran kualitas udara negara mereka yang buruk. Untuk kamu ketahui, Ibukota Thailand, yakni Bangkok sebenarnya merupakan kota megapolitan yang hampir sama dengan Jakarta. Kepadatan aktivitas warga di dalamnya membuat kualitas udaranya juga seburuk Jakarta.

Namun sayangnya, beberapa bulan terakhir, dampak negatif dari polusi udara di sana semakin membahayakan kesehatan warganya. Seperti laporan dari Sekretaris Tetap Kesehatan Masyarakat Thailand, Opart Karnkawinpong, sebanyak 1.325.838 warga Thailand menderita beragam penyakit akibat polusi udara.

Ditemukan 582.238 kasus penyakit pernapasan terjadi selama awal Januari hingga 5 Maret 2023.  Selain itu, Thailand juga mencatat 267.161 kasus infeksi kulit, 242.805 infeksi mata, dan 2018.880 kasus stroke dalam kurun waktu yang sama. Selain itu, ada sekitar 200 ribu warga yang dirawat di rumah sakit dalam sepekan terakhir. Bahkan, pemerintah Thailand sampai menyediakan ruang anti debu bagi anak-anak kecil.

“Minggu ini saja sudah ada 196.311 kasus penyakit akibat polusi udara,” kata Opart, dilansir dari detikHealth.

ADVERTISEMENT

Polusi udara di Thailand makin buruk seiring meningkatnya mobilitas warga usai pandemi Covid-19

Mobilitas warga meningkat

Mobilitas warga meningkat | Credit: Photo by Domepitipat on iStock

Deretan penyakit yang diderita warga Thailand itu disebut sebagai dampak dari polusi udara parah yang meningkat setelah pandemi Covid-19 mereda. Masih dari laporan Sekretaris Tetap Kesehatan Masyarakat Thailand, polusi udara tersebut berasal dari debu dengan materipartikulat (PM) hingga 2,5, dan asap dari kebakaran hutan dan pembakaran limbah.

PM2,5 itu juga muncul seiring meningkatnya mobilitas atau perjalanan warga usai pandemi Covid-19. Untuk kamu ketahui, PM2,5 merupakan salah satu polutan udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer). Nah, apabila polutan sekecil itu masuk ke paru-paru manusia, bisa menyebabkan masalah pada hidung, tenggorokan, dan mata seperti yang dialami jutaan warga Thailand saat ini.

ADVERTISEMENT

Sejumlah wilayah di Thailand mengalami polusi udara melebihi tingkat aman selama tiga hari berturut-turut

Polusi Udara Makin Parah, 1,32 Juta Warga Thailand Alami Sejumlah Penyakit Pernapasan

Polusi memburuk 3 hari berturut-turut | Photo by Chris LeBoutillier on Unsplash

Departemen Pengendalian Polusi Thailand juga mengeluarkan laporan tentang tingkat polusi udara di negara gajah putih itu. Menurut laporan tersebut, polutan PM2,5 terdeteksi melebihi tingkat aman yang bisa diterima di negara itu, yakni 50 mikron. Parahnya lagi, kondisi itu sudah berlangsung selama tiga hari berturut-turut di sejumlah wilayah.

Wilayah-wilayah tersebut antara lain Chiang Mai, Chiang Rai, Phrae, Phayao, Lamphun, Lampang, Mae Hong Son, Uttaradit, Sukhothai, Tai, Phitsanulok, Nan, Nonthaburi, Phetchabun, dan 50 distrik lainnya di Bangkok. Di sisi lain, sebenarnya masih ada 36 provinsi lain yang juga dilaporkan mendapat 50 mikron polutan PM2,5, tapi nggak berlangsung selama tiga hari berturut-turut.

Salah satu kota yang terdampak, yakni Chiang Mai memang tergolong wilayah dengan polusi udara terburuk di dunia. Dilansir dari The Sun Daily, pada pukul 13.00 tanggal 11 Maret 2023 lalu, indeks kualitas udara kota ini tercatat di tingkat 191. Menurut IQ Air, tingkat tersebut sangatlah nggak sehat. Bahkan, IQ Air pernah mencatat bahwa udara Chang Mai jauh lebih buruk dibandingkan Mumbai (179), Lahore (156), dan New Delhi, India (154). Saking parahnya, diketahui warga Chang Mai sampai nggak bisa melihat gunung Doi Suthep saking udaranya ditutupi zat polutan yang tebal.

ADVERTISEMENT

Pemerintah Thailand berencana menerapkan kembali pemakaian masker dan WFH

Polusi udara

Work From Home | Credit: Photo by ake1150sb on iStock

Di saat banyak negara di dunia mulai resmi nggak mewajibkan masyarakatnya pakai masker lagi, Thailand justru terpaksa harus kembali menerapkan peraturan tersebut. Bukan untuk mencegah penularan virus Covid-19, melainkan untuk melindungi pernapasan warganya dari bahaya polusi udara.

Dilansir dari CNN Indonesia, pada Sabtu (11/3), Menteri Dalam Negeri Thailand, Anupong Paojinda mengatakan kalau kebijakan Work From Home (WFH) sepertinya akan digalakkan lagi di Bangkok imbas dari tingkat polusi udara yang memburuk. Anupong juga membeberkan kalau warga di sana nggak diizinkan untuk membawa kendaraan supaya polusi nggak makin parah.

Permasalahan polusi udara ini juga harus diperangi bersama-sama. Maksudnya, nggak cuma pemerintah yang menerapkan kebijakan ini dan itu agar kondisi terkendali, melainkan warganya pun harus ikut aktif. Seperti yang dianjurkan oleh Departemen Pengendalian Polusi Thailand, pihaknya menyarankan masyarakat untuk rajin memantau tingkat debu khususnya pada tanggal 15-18 Maret 2023 ini. Pasalnya, diprediksi pada tanggal tersebut kemungkinan tingkat debu makin parah karena ada partikel debu yang ditiup angin dari daerah luar Bangkok.

Sementara itu, Presiden Asosiasi Kualitas Udara Dalam Ruangan, Praphan Phongkiatkul menyarankan warga Thailand untuk mengenakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Writing...

Editor

Writing...

CLOSE