Tingginya tingkat orang yang mengalami gangguan mental di kota besar, mungkin jadi gambaran betapa banyaknya orang yang tidak menjaga keseimbangan work-life balance-nya. Sibuk mencari duit dan mengejar posisi, emang sering bikin banyak orang lupa untuk menikmati hidup. Nah sebuah perusahaan di New Zealand baru-baru ini berupaya memperbaiki keseimbangan work-life karyawannya dengan menerapkan sebuah aturan yang revolusioner: kerja cuma 4 hari aja! 

5 hari kerja atau weekdays dari Senin sampai Jumat sudah berkembang jadi norma umum. Karena masih tingginya tingkat stres karyawan dengan pola kerja seperti itu, perusahan New Zealand yang bernama Perpetual Guardian mencoba memotong hari kerja menjadi 4 hari dan memperpanjang hari libur menjadi 3 hari. Setelah percobaan itu, sebagaimana dilansir dari CNN, produktivitas kerja para karyawan justru meningkat! Kok bisa ya?!

Advertisement

Perusahaan ini bahkan rencananya akan menjadikan aturan ini permanen dan merekomendasikannya kepada perusahaan lain untuk dicoba. Mau tahu cerita lengkapnya, yuk simak ulasan Hipwee News & Feature!

Eksperimen work-life balance ini emang penting banget di New Zealand. Produktivitas di negara ini ternyata masih tergolong rendah

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, pekerjanya termasuk kurang produktif via ofwjobslist.com

Menurut laporan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), produktivitas kerja di New Zealand masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya. Maka dari itu, banyak perusahaan yang selalu berupaya meningkatkan tingkat produktivitas karyawannya termasuk dengan meningkatkan keseimbangan work-life. Yang terbaru ya eksperimen dari perusahaan Perpetual Guardian yang berani memotong hari kerja menjadi 4 hari aja.

Eksperimen 4 hari kerja perusahaan Perpetual Guardian ini dinilai sukses besar. Tingkat stres karyawan berkurang dilaporkan berkurang sebanyak 7%

Bisa mengurangi tingkat stres karyawan via recruitingtimes.org

Salah satu hasil nyata yang paling cepat terukur adalah menurunnya tingkat stres karyawan di perusahaan itu. Dengan tambahan satu hari libur, wajar sih kalau orang akan cenderung lebih rileks dan tidak terlalu rindu dengan liburan weekend. Ya mungkin ke depannya, durasi liburan per minggu yang paling sesuai — 2 hari seperti pada umumnya atau 3 hari seperti perusahaan ini, bisa diperdebatkan. Tapi menurut hasil eksperimen perusahaan di New Zealand ini, libur 3 hari lebih oke sih buat kesehatan mental karyawannya.

Bukan cuma lebih nggak stres, produktivitas kerja juga naik karena karyawan kini lebih jarang mengecek email atau medsos pribadi di jam kerja. Kerjasama tim juga naik sebesar 20%

Cukup libur, karyawan lebih gampang fokus kepada pekerjaannya via www.callcentrehelper.com

Advertisement

Bukan cuma tingkat stres yang menurun, 4 hari kerja juga berhasil meningkatkan produktivitas kerja di perusahaan Perpetual Guardian. Selama eksperimen ini, para peneliti bisa mengamati perubahan perilaku karyawan selama jam kerja. Seorang karyawan mengaku tidak lagi sering mengecek email pribadi dari istrinya karena mereka memiliki cukup waktu membicarakan personal di luar jam kerja. Mungkin karena memiliki waktu yang lebih banyak untuk urusan personal saat libur, karyawan perusahaan ini juga lebih fokus dan kompak ketika bekerja.

Secara keseluruhan, keseimbangan work-life dengan 4 hari kerja ini jauh lebih baik. Kini 78% karyawan dari perusahaan itu mengaku bisa mengatur keseimbangan pekerjaan dan hidupnya

Lebih bahagia dan tidak stres di kantor via www.dglproject.com

Sebelum eksperimen ini dimulai, hanya sekitar 54% karyawan Perpetual Guardian yang bisa mengatur tekanan pekerjaan dalam hidupnya. Setelah kebijakan 4 hari kerja diberlakukan, angka itu naik tajam menjadi 78%. Artinya lebih dari 3/4 dari total karyawannya, kini bisa menyeimbangkan beban pekerjaan sambil menikmati hidup alias lebih bahagia! Dari hasil-hasil positif di atas, perusahaan ini rencananya akan terus mempertahankan 4 hari kerja sebagai kebijakan permanen dan mendorong perusahaan-perusahaan lain untuk mengikutinya.

Hasil positif dari penelitian ini jelas bergantung pada banyak faktor, dari jenis pekerjaan hingga kultur pekerja. Bisa jadi hasil yang sama tidak akan diperoleh di perusahaan yang bergerak di bidang lain, atau mungkin di negara lain seperti Indonesia. Tapi inti dari kesuksesan eksperimen ini sebenarnya adalah komitmen perusahaan untuk selalu memperhatikan dan mendengarkan keluhan karyawan, lalu membentuk kebijakan yang sesuai dengan kondisi tersebut.

Kalau menurut kalian gimana guys? Kerja 4 hari itu oke dan bikin tambah semangat atau oke-oke aja dengan pola 5 hari kerja? Bagi komentarmu di bawah ya….

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya