Perjalanan Para Ilmuwan yang Ngotot Bisa Prediksi Kematian Manusia Lewat Kecerdasan Buatan

Prediksi kematian lewat kecerdasan buatan

Kecerdasan buatan atau istilah kerennya artificial intelligence sudah bukan istilah asing di telinga orang-orang yang demen banget sama teknologi. Tapi buat orang yang nggak hobi update teknologi baru, mungkin AI ini kedengarannya masih awam, rumit, dan membosankan. Sekarang sih di Indonesia masih belum begitu banyak yang pakai peralatan canggih berteknologi AI. Namun nggak menutup kemungkinan AI bakal mendominasi setiap lini kehidupan beberapa tahun ke depan, melihat masa depan industri robotika yang kayaknya lumayan menjanjikan.

Advertisement

AI ini nggak melulu soal robot atau mobil yang bisa jalan sendiri tanpa sopir. Belakangan ini nggak sedikit ilmuwan yang terus-terusan ngotot membangun teknologi AI biar bisa memprediksi kematian manusia! Sepenasaran itu mereka sama kematian, dengan mengelaborasi data-data riwayat kesehatan pasien di rumah sakit, pemeriksaan anggota tubuhnya, dan tentu saja pengembangan AI yang kalau dijelasin bakal njelimet, mereka berharap bisa menebak kapan kira-kira ajalnya tiba.

1. Tim peneliti dari University of Nottingham pernah membangun sistem AI untuk memprediksi kematian manusia

Prediksi kematian oleh tim peneliti dari University of Nottingham via www.mygreatlearning.com

Tahun 2019, tim peneliti dari University of Nottingham membuat sistem AI yang berguna untuk memprediksi kapan manusia mati. Sistem ini “membaca” data berupa informasi kesehatan dari lebih dari setengah juta orang di Inggris dengan rentang usia 40-69 tahun. Selain itu, sistem ini juga menganalisis data demografis dan gaya hidup sampai konsumsi buah, sayur, dan daging harian mereka!

Tapi diakui Profesor Joe Kai, kalau algoritma ini nggak selalu tepat, ada kalanya prediksinya meleset atau kurang akurat.

Advertisement

2. Selain kelompok peneliti di atas, ada juga layanan kesehatan bernama Geisinger di AS yang getol banget mengembangkan sistem AI buat memprediksi kematian

Prediksi kematian layanan kesehatan Geisinger via gritdaily.com

Brandon Fronwalt, seorang penyedia layanan kesehatan Geisinger, pada 2019 lalu membangun sistem AI untuk memeriksa 1,77 juta hasil rekam jantung (EKG) dari hampir 400.000 orang. Hal itu dilakukan untuk mengetahui siapa yang bakal meninggal duluan di tahun berikutnya. Penelitian ini juga melihat faktor historis si pasien, termasuk riwayat penyakit dan lain sebagainya.

3. Google juga nggak ketinggalan membangun algoritma yang bisa memprediksi kematian seseorang lo

Google prediksi kematian via nypost.com

Perusahaan Google pernah menerapkan algoritmanya pada pasien yang mengidap kanker payudara. AI milik Google itu menganalisis ratusan ribu titik catatan kesehatan pasien, termasuk kondisi organ-organ vitalnya dan riwayat medisnya.

Menurut algoritma tersebut, pasien punya peluang 19,9% untuk meninggal di rumah sakit, sedangkan presentase harapan hidup di rumah sakit hanya 9,3%. Dan ternyata prediksi itu lumayan akurat karena kurang dari 2 minggu aja, si pasien meninggal dunia.

Advertisement

4. Ada juga kelompok ahli Kardiologi di Eropa yang membangun sistem AI tak hanya untuk memprediksi kematian tapi juga serangan jantung

Memprediksi serangan jantung via www.thelivemirror.com

Para peneliti di Eropa menggunakan algoritma pembelajaran mesin yang dinamakan LogitBoost. LogitBoost pernah menganalisis data jantung dari 950 pasien di Turku PET Center Finlandia. Menurut peneliti, LogitBoost mampu menunjukkan akurasi 90% dan bisa memprediksi serangan jantung serta kematian dini pasien.

5. Gero, startup asal Rusia juga pernah bekerja sama dengan kelompok ilmuwan, membangun sistem AI yang bisa menentukan harapan hidup

Prediksi kematian lewat smartphone via www.inquisitr.com

Sebuah startup di Rusia bekerja sama dengan para ilmuwan di Institut Fisika dan Teknologi Moskow (MIPT). Mereka membangun algoritma berbasis AI yang bisa melacak aktivitas dari smartphone dan smartwatch untuk menentukan harapan hidup seseorang. Sistem milik mereka melacak jumlah langkah orang, kebiasaan tidur, dan lain-lain. Mereka bahkan mengembangkan versi beta yang bisa memprediksi usia penggunanya.

Tapi sayangnya, teknologi ini bisa dibilang kurang lengkap karena nggak menganalisis data kesehatan atau genetika seseorang. Meski begitu mungkin teknologi besutan Gero bisa cukup menjanjikan di masa depan, tentu dengan sedikit polesan sana-sini.

Sekilas mungkin terdengar terlalu ambisius, karena nggak pernah ada yang tahu kapan tepatnya manusia mati. Yang sehat bisa aja tiba-tiba meninggal padahal nggak punya riwayat penyakit sebelumnya. Sebaliknya, yang sudah sakit-sakitan nggak menutup kemungkinan diberi umur panjang. Tapi teknologi di atas cukup berguna untuk orang menentukan perawatan kesehatan apa yang perlu ia jalani, atau bisa membantu tenaga kesehatan memberikan pelayanan yang terbaik bagi para pasiennya. Bisa dibilang “Sedia payung sebelum hujan” lah~

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE