Siapa sih orang tua yang tega melihat anaknya merengek minta dibelikan sesuatu? Rasanya hampir semua orang tua bakal luluh setiap sang buah hati memelas bahkan sampai menitikkan air mata… Tapi tentu nggak semua ortu bisa setiap waktu menuruti permintaan si anak. Kebanyakan alasannya ya karena keterbatasan ekonomi. Kalau harga barangnya cuma seribu dua ribu sih nggak masalah. Tapi kalau udah puluhan ribu bahkan ratusan ribu gimana? Ya kecuali ortunya keturunan keluarga Bakrie, mau merengek minta fosil dinosaurus langka juga kayaknya bakal dikasih.

Kemarin media sosial ramai membicarakan curhatan seorang ayah di Facebook yang meminta semua minimarket atau supermarket di Indonesia untuk memindahkan produk cokelat Kinder Joy dari dekat kasir ke tempat lain. Nggak main-main, dalam postingannya lelaki dengan nama akun Alice Pramac ini mengaku mewakili suara jutaan bapak-bapak di luar sana, yang keberatan kalau posisi Kinder Joy ada di dekat kasir. Ini karena seringkali produk mungil dengan harga selangit (untuk ukuran cokelat dua biji dan mainan seupil) ini menyebabkan anak-anak di seluruh Indonesia sering merengek sampai guling-guling, minta dibelikan.

Advertisement

Sebentar… sebentar, sebelum saling menyalahkan pihak A, B, C, D, sebaiknya sih kita telaah satu-satu, kenapa sih sebenarnya anak jadi suka jajan? Karena nggak ada asap kalau nggak ada api, ‘kan~

1. Bukan buat menyalahkan para pegiat iklan ya, tapi ketertarikan anak akan suatu produk, sedikit banyak dipengaruhi juga oleh deretan iklan jajanan menarik di Minggu pagi

Anak nonton TV via www.popmama.com

Setelah penat belajar di sekolah dari Senin sampai Jumat, bahkan Sabtu, udah jadi kegiatan favorit anak buat ambil posisi di depan TV pada Minggu pagi. Apalagi yang ditunggu kalau bukan kartun… Sadarkah kamu kalau penayangan iklan TV akan disesuaikan dengan hari dan jam tertentu. Ya karena target pasarnya berbeda-beda. Inilah kenapa iklan rokok selalu tayang tengah malam. Karena di jam-jam itu sedikit banget anak kecil yang masih terjaga. Begitupun di Minggu pagi, jadi waktu yang pas buat pegiat iklan menayangkan produk jajanan anak-anaknya di TV.

2. Sudah jadi kewajiban ortu buat menyayangi anaknya sepenuh hati. Tapi kalau terus menerus menuruti permintaan anak buat jajan-jajan lucu, lama-lama anak jadi terbiasa. Nanti, sehari nggak jajan aja bisa gelisah

Anak tantrum via www.szepesiandrea.hu

Orang tua memang wajib mengasihi anaknya tanpa henti. Sering perasaannya ini dicurahkan dengan menuruti keinginan anak membeli barang. Apapun yang diminta anak sebisa mungkin dituruti. Tapi hati-hati, kalau kebiasaan ini terus dipupuk malah bikin anak konsumtif. Sedikit-sedikit jajan, kalau nggak jajan sehari bisa gatal-gatal. Kalau nggak diturutin? Berontak deh…

3. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Peribahasa itu cocok banget kalau dihubungin sama kebiasaan jajan anak, yang mungkin dipengaruhi juga sama kebiasaan ortunya sendiri

Meniru orang tua via www.candyboximages.com

Advertisement

Kebiasaan buruk ortu yang terang-terangan ditunjukkan ke anak juga bisa bikin mereka ketularan. Jangan salahkan anak kalau kemudian dia hobi jajan karena punya orang tua yang juga suka belanja. Budaya konsumerisme kalau dibiarkan bisa berujung ke banyak hal. Ya kalau duitnya turah-turah sih nggak masalah. Tapi kalau pas gede si anak belum punya gaji memadai, dan malah mendorong kriminalitas, itu yang bahaya sis~

4. Perubahan bentuk toko dari kelontong biasa jadi minimarket modern yang kini udah tersebar ke seluruh penjuru negeri, nggak sadar semakin memupuk konsumerisme pada manusia, termasuk anak-anak

Konsep toko yang berubah~ via www.campingsalata.com

Seringkali kita nggak sadar. Kalau dipikir-pikir toko kelontong itu bisa bantu kita mengerem keinginan belanja lebih banyak lho. Dulu kita tiap mau beli sesuatu harus bilang dulu ke penjualnya mau apa, baru dikasih tuh barangnya. Nah kalau sekarang konsep minimarket ‘kan udah beda. Kita bebas mengambil apapun yang kita mau, jadi kadang susah mau mengontrol ‘lapar mata’. Pasti kamu pernah deh merasa, “Awalnya mau beli apa, eh yang kebeli apa…”

5. Tata letak produk di minimarket juga berpengaruh banget sih. Mungkin kalau kasus Kinder Joy ini memang jadi strategi marketing perusahaan, biar bisa dilihat anak-anak, makanya produk ditaruh dekat kasir yang raknya rendah

Letak produk berpengaruh via www.dailymail.co.uk

Kamu yang anak ekonomi pasti paham banget teori ini. Iya, produk-produk di minimarket itu bukan ditaruh sembarangan lho. Ada sederet produk tertentu yang sengaja ditaruh sejajar dengan mata pengunjung buat menarik perhatian dan meningkatkan penjualan. Bandingkan aja sama produk yang ditaruh di bawah, orang udah malas duluan buat jongkok-jongkok, jadinya ya nggak terlihat. Kinder Joy mungkin memang sengaja ditaruh rak pendek dekat kasir. Karena menyesuaikan tinggi anak-anak. Hmm…

6. Lingkungan juga jelas bisa berpengaruh. Kalau si anak kebanyakan bergaul sama anak-anak borjuis yang tiap ke sekolah bawa bekal Kinder Joy, ya wajar kalau besokannya dia tantrum di minimarket, minta dibelikan juga

Lingkungan berpengaruh via womantalk.com

Memangnya cuma orang dewasa aja yang seringkali terjebak pada tuntuan pergaulan? Anak-anak juga lho. Apalagi mereka kadang belum paham apa itu berhemat. Jadinya tiap ada temannya yang punya barang baru kemungkinan besar pasti ikut-ikutan pengen. Belum lagi anggapan-anggapan bocah, “Yang nggak ikutan nggak gaul”. Wajar aja kalau anak rela merengek gulung-gulung demi nggak dianggap kuper.

Hmm… Jangan dikira dunia anak-anak itu nggak rumit ya. Intinya sih jangan mentah-mentah salahkan anak atau adik yang jadi hobi jajan. Alangkah baiknya kalau kalian memetakan apa kira-kira faktor di baliknya~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya