Apa yang kira-kira bakal kamu lakukan setelah diberitahu kalau lolos magang di NASA? Update story Instagram? Ngepost di Facebook? Atau ngetweet kayak Mbak Naomi –calon karyawan magang NASA yang terpaksa harus dibatalkan kontraknya setelah dia ketahuan bicara kasar di Twitter–? Meluapkan kebahagiaan di media sosial sebenarnya sah-sah aja, apalagi kalau bisa menginspirasi orang lain. Tapi sebaiknya kamu hati-hati dengan cara kamu mengungkapkannya, kalau nggak mau bernasib sama kayak Naomi.

Advertisement

Peristiwa yang dialami Naomi ini penting banget kita jadikan pelajaran bersama. Meskipun mahir memanfaatkan segala fitur dalam medsos populer, nyatanya masih buanyak buanget orang yang nggak sadar kalau setiap harinya mereka telah merekam jejak digitalnya sendiri. Mungkin sekilas terlihat biasa aja, tapi rekam jejak digital ini justru bisa jadi bom buat kita sendiri. Dampaknya bisa sangat masif, saking hebatnya, sampai bisa mengacak-acak karier profesional seseorang. Hipwee News & Feature udah menyiapkan ulasan lengkapnya buat kamu. Yuk, simak!

Di zaman digital seperti sekarang, perekrut di perusahaan sering pakai cara kepo buat mengenal lebih dalam calon karyawannya. Bisa dibayangin gimana jadinya kalau kita nggak jaga sikap di medsos

Stalking sekarang tuh gampang banget via kelascinta.com

Employers are stalkers!”

Ungkapan di atas kayaknya nggak berlebihan kalau diucapkan di era digital seperti sekarang. Ya, semua orang bisa dan sah-sah aja jadi stalkers/tukang kepo, termasuk perekrut. Sejauh ini pun juga belum ada kebijakan yang mengatur pengguna medsos agar nggak kepoin akun orang lain. Aktivitas stalking dianggap bisa sangat membantu perekrut buat mencari kandidat yang benar-benar dibutuhkan. Berdasarkan survei, sekitar 47% perekrut memeriksa situs jejaring sosial pelamar; Facebook (76%), Twitter (53%), dan LinkedIn (48%), sesaat setelah menerima aplikasi mereka.

Advertisement

Hmm, wajar sih ya, tahu sendiri kalau CV atau surat lamaran itu sebenarnya nggak bisa dipercaya 100%, karena orang pasti akan berusaha menunjukkan sisi terbaiknya di situ. Lain halnya kalau perekrut diam-diam “menyusup” ke akun seseorang, kepoin aktivitas medsosnya & pakai akun rahasia. Siapa yang tahu kalau ternyata kata-kata kasarnya hari itu di medsos jadi penyebab ia ditolak dari pekerjaannya?!

Meskipun secara teori mungkin bisa dihapus, tapi persebaran konten di medsos itu gila-gilaan. Metode screenshot juga bisa dilakukan hampir di semua gadget

Distribusi konten sekarang ini cepet banget via dublinci.wordpress.com

Namanya orang pasti pernah khilaf, di medsos pun begitu. Mungkin kamu juga pernah marah-marah, nyinyir, atau berkata kasar di medsos. Dan ketika sadar itu salah, kamu pun menghapusnya. Tapi teknologi itu nggak cuma jalan di tempat lho. Sekalipun udah dihapus, mungkin aja ada orang yang udah gercep screenshot duluan. Zaman sekarang screenshot doang udah bisa jadi bukti lho. Mau nyebarin pun gampang banget, tinggal 1 kali klik di grup, belasan – puluhan orang jadi bisa langsung tahu. Belum kalau masing-masing dari mereka nyebarin lagi, tinggal dihitung aja tuh berapa banyak orang yang bakal tahu dalam 10 menit aja. Ngeri ya?

Ada juga anggapan kalau apa yang terjadi di ranah online ya cuma akan terjadi di sana aja, nggak bakal bisa “keluar”. Anggapan ini sama sekali nggak valid

Dunia online itu berhubungan sama dunia nyata ya via globalhealth.usc.edu

Eh, ternyata ada lho orang yang mikir apa yang terjadi di dunia maya ya cuma akan ada di sana. Padahal segala kehidupan yang kita jalani itu berhubungan. Adanya internet nggak lantas memutuskan hubunganmu dengan dunia nyata. Begitupun sebaliknya. Jadi kalau ada yang ngira apa yang kita tanam di dunia online, nggak akan kita tuai di dunia nyata, itu salah besar guys~

Mungkin bagi kebanyakan orang, jejak digital cuma akan jadi berharga kalau mereka udah jelas dirugikan atau dimanfaatkan sama pihak-pihak tertentu

Kalau udah dirugikan baru ngerasa berharga via dailypost.ng

Gwenn Schurgin O’Keeffe dalam jurnalnya “The Impact of Social Media on Children, Adolescents, and Families” mengatakan kalau sekalipun jejak digital punya risiko berbahaya, tapi umumnya orang malah nggak sadar. Kebanyakan justru baru menyadari setelah jejak digitalnya menimbulkan kerugian atau ketika informasi digitalnya dimanfaatkan orang lain. Ingat nggak ungkapan “Terkadang sesuatu itu akan terasa jauh lebih berharga setelah kita kehilangannya”? Rasanya pas banget buat mewakili yang satu ini ya~

Bisa aja sekarang-sekarang ini kita belum merasakan kerugian yang berarti. Tapi siapa yang tahu kalau suatu saat “bom sampah digital” itu meledak juga

Bisa jadi bom waktu via www.pcworld.com

Ibarat bom yang bisa meledak kapan saja, begitu pula dengan dampak masif yang dibawa rekam jejak digital kita sendiri di internet. Mungkin sekarang kita masih tenang-tenang aja, ya soalnya emang belum merasakan kerugian yang berarti. Tapi nggak menutup kemungkinan kalau someday bisa aja “bom sampah digital” itu benar-benar meledak. Ngeri kalau meledaknya di tempat yang tidak tepat dan sampai memengaruhi lingkungan tersebut.

Isu yang kita bahas di atas bukan berarti cuma bisa diselesaikan dengan libur bermedia sosial. Karena biar gimanapun, nggak memiliki jejak digital sama sekali di medsos itu bukanlah hal yang baik. Toh, banyak juga manfaat positif yang bisa kita temui di sana. Tinggal gimana cara memanfaatkan dengan bijak aja, nggak perlulah medsos dijadikan tempat marah-marah dan meluapkan emosi, apalagi sampai mendukung bullying, hate speech, dll. Yuk, mari bijak bermedsos!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya