Baru setahun Trump menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, dunia tampaknya udah banyak berubah. Kayaknya belum pernah deh ada presiden yang sekontroversial ini. Tiap hari ada aja headline atau berita soal pernyataan atau cuitan Twitter Trump yang menyinggung seseorang, satu negara, sampai mungkin sebagian besar populasi dunia. Pernyataan perang kepada negara lain pun seringkali diumbar di forum resmi maupun platform media sosial. Saking seringnya melemparkan ancaman atau gertakan yang nggak masuk akal, sampai banyak yang menganggap segala aksi Trump hanya lelucon belaka.

Salah satu gertakan yang akhir-akhir ini seringkali dilontarkan Trump adalah akan menekan ‘tombol’ nuklir jika pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, terus berulah. Menyusul pernyataan Kim bahwa tombol nuklir selalu ada di mejanya, Trump seakan-akan tidak ingin kalah mengancam dengan menyebutkan bahwa dirinya juga punya tombol nuklir yang jauh lebih besar dan benar-benar bisa berfungsi.

Cuitan Presiden Amerika via twitter.com

Advertisement

Tapi jangan disangka kalau tombol nuklir yang banyak disebut oleh dua pemimpin dunia ini benar-benar berbentuk tombol lho guys. Meskipun jelas diklasifikasikan informasi rahasia, banyak ahli keamanan yang meyakini kalau tombol peluncur nuklir yang dimiliki negara-negara di dunia sebenarnya jauh berbeda dari bentuk tombol. Yuk lihat penampakannya sebenarnya dari tombol nuklir ini bareng Hipwee News & Feature!

Netizen terlanjur heboh dengan pernyataan kedua presiden nyentrik tersebut tentang tombol nuklir. Tapi para ahli menjelaskan tidak akan semudah itu meluncurkan senjata nuklir

Kalau hanya tombol begitu bisa-bisa kalau Trump ketiduran, nggak sengaja bisa jadi perang nuklir dong! (Ilustrasi) via www.the-postillon.com

Banyak orang yang menduga bahwa jika memang ada, apa tidak bahaya jika tombol itu tidak sengaja pencet dan bahkan saat nggak berniat meluncurkan misil? Dr. Peter Feaver, seorang profesor kebijakan publik dan ilmu politik dari Duke University sampai angkat bicara menanggapi tombol nuklir. Ia mengatakan mustahil jika misil diluncurkan hanya dengan satu tombol.

“Sistem peluncuran nuklir bukanlah sebuah tombol dimana Presiden bisa tidak sengaja bersandar di meja kerjanya dan kebetulan menyebabkan misil terbang ke area publik, saya pikir, akan banyak ketakutan jika begini.” Feaver melalui CNN.

Advertisement

Permasalahan tombol nuklir langsung dimentahkan oleh ahlinya. Kedua presiden yang memang sering berseteru ini bisa jadi hanya menggunakan metafora ‘tombol nuklir’ untuk mendefinisikan betapa mudahnya misil untuk terbang menyerang satu sama lain. Nyatanya, meski hanya pengandaian, peluncuran misil tetap tidak semudah itu.

Secara umum, alat atau sistem peluncuran nuklir biasanya tersimpan dalam sebuah tas hitam yang selalu mendampingi presiden ke mana pun ia pergi

Di AS, selalu ada petugas militer yang berada di belakang presiden dengan membawa tas kulit hitam via vox.com

Setelah tragedi Hiroshima dan Nagasaki, senjata atau bom nuklir jadi instrumen militer paling berbahaya dan ditakuti di dunia. Bahkan hanya ada lima negara yang secara legal diakui dan diperbolehkan memiliki senjata nuklir dalam perjanjian Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT) : Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Perancis, dan Cina. Tiap-tiap negara ini punya prosedur pengelolaan atau peluncuran senjata nuklir sendiri-sendiri. Informasi ini pastinya dijaga ketat karena risiko senjata nuklir yang sangat mengerikan.

Yang secara umum diketahui, sistem atau alat peluncuran nuklir populer disebut dengan panggilan ‘nuclear briefcase‘. ‘Briefcase‘ atau tas yang digunakan biasanya berwarna hitam dan berbahan kulit. Di Amerika Serikat, tas ini lebih sering disebut ‘nuclear football’. Sedangkan tas serupa di Rusia dinamai ‘Cheget’ dan terdapat acara penyerahan resminya tiap kali pergantian presiden. Di Perancis, meskipun tak hanya mengatur peluncuran senjata nuklir saja, ada tas yang disebut ‘mobile base‘. Sedangkan di Inggris, tampaknya tidak ada laporan adanya tas nuklir yang selalu tampak di samping Perdana Menterinya. Kalau di Cina sih memang serba tertutup dan rahasia, jadi hanya beberapa kalangan elit politik teratas saja yang mungkin tahu faktanya.

Upacara penyerahan tas nuklir ‘Cheget’ di Rusia via dailymail.co.uk

Menurut para ahli, di dalam tas nuklir itu pun sebenarnya tidak ada tombol. Isinya adalah serangkaian kode rahasia untuk mengomunikasikan keputusan presiden kepada pihak lain yang berwenang

Isinya folder, buku, dan kartu  via www.graphicnews.com

Koper hitam yang selalu berada di dekat presiden-presiden negara pemilik senjata nuklir ini biasanya dibawa langsung oleh perwira tinggi militer. Kalau di Amerika Serikat, personil yang membawa ‘nuclear football‘ dirotasi untuk mencerminkan beberapa cabang angkatan militer yang ada. Meski tampak basic, tas  yang merupakan modifikasi dari tas merek Zero Halliburton ini jelas bukan tas biasa. Sekilas dari tampakan luar, terlihat ada sebuah antena kecil di ujung-ujung tas hitam itu. Pada dasarnya, tas nuklir atau ‘nuclear briefcase‘ ini memang alat komunikasi untuk menyambungkan presiden kepada personil militer lain jika memutuskan meluncurkan nuklir.

Tapi sebenarnya apa sih isi tas hitam ini?

Sebagaimana dilaporkan CNN, ‘nuclear football‘ sebenarnya berisi 4 hal : folder manila tentang prosedur ‘Emergency Broadcast System’ untuk berkoordinasi dengan personel militer lain, buku hitam terkait pilihan serangan nuklir yang ada, buku tentang tempat-tempat persembunyian rahasia yang dapat dipakai untuk mengamankan presiden, dan yang terakhir kartu plastik berisi kode autentifikasi disebut ‘nuclear biscuit‘.

Peluncuran misil bukan sebuah permainan perang-perangan, hingga kini bahkan aksi peluncuran senjata nuklir sebenarnya masih dianggap ilegal

Hyten akan menolak jika diperintahkan meluncurkan nuklir begitu saja via www.dw.com

Gen. John Hyten, komandan dari US Strategic Command bahkan mengatakan jika presiden benar-benar memerintahkan militer untuk meluncurkan serangan nuklir, ia akan memilih untuk memberikan nasihat pada presiden.

“Jika presiden memerintahkan melakukan hal ilegal, saya akan berkata: Pak Presiden, tindakan ini ilegal” Hyten melalui CNN.

Hyten juga lebih menyarankan untuk meberikan respon yang sesuai dengan kapabilitasnya. Ia pun menganggap bahwa permasalahan ejekan nuklir itu tidak serumit yang dipikirkan Trump. Namun tentunya meluncurkan misil juga tidak sesederhana memencet tombol setelah mengunggah cuitan di twitter.

Banyak orang merasa tidak aman dan khawatir akan terjadinya perang akibat perseteruan dua kepala negara ini. Nggak sedikit netizen yang kemudian membalas cuitan Trump dengan nada kesal. Kalau kedua presiden ini saling benci satu sama lain karena alasan personal, mengapa melibatkan dan mengorbankan kepentingan publik yang nggak tau apa-apa? Pada akhirnya publik dan orang-orang tak bersalah lainnya yang akan paling menanggung akibatnya jika terjadi perang nuklir sesungguhnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya