Sering Jadi contoh Makanan Nggak Sehat, Yuk Simak Penjelasan Soal Junk Food dari Pakar Kesehatan

Junk Food

Istilah junk food sudah sangat familier di kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan mungkin kamu termasuk yang sering makan junk food. Biasanya, junk food ini dikaitkan dengan gaya hidup nggak sehat dan penyebab berbagai penyakit gawat di dunia medis seperti hipertensi, stroke, jantung, diabetes, dan kanker. Namun, sebenarnya apa sih junk food itu? Lalu apakah junk food benar-benar nggak boleh dikonsumsi sama sekali?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Hipwee sudah ngobrol dengan para pakar kesehatan, yaitu dr. Ingkang Helena Nedy Grace selaku dokter sekaligus Kasie Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya dan juga drg. Vitri Dewi sebagai Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Yuk, simak!

Selama ini kita mengenal junk food sebagai makanan cepat saji. Sebenarnya junk food itu apa sih?

Hotdog

Junk food tidak selalu cepat saji (foto: Caleb Oquendo / Pexels)

Kalau dengar istilah junk food, mungkin kita langsung terpikirkan makanan-makanan instan atau makanan yang dijual di restoran cepat saji. Namun, ternyata junk food itu nggak terbatas pada makanan cepat saji saja, lho. Karena, istilah junk food itu sebenarnya merujuk ke kandungan gizi yang nggak ada atau minim sekali. Gampangnya sih sama kayak kalau kita membuang sampah, gitu. Barang-barang yang di sana sudah tidak bisa memberikan banyak manfaat pada tubuh kita.

Menurut dr. Ingkang Helena Nedy Grace, selaku Kasie Promosi Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya, junk food merupakan makanan yang tidak memiliki gizi seimbang, dan tidak selalu dalam bentuk makanan cepat saji. 

“Biasanya junk food lebih banyak terdiri dari karbohidrat dengan penyedap atau gula dan garam yang tinggi,” tutur dr. Ingkang Helena dalam online interview bersama Hipwee (19/01/2021).

Contoh makanan cepat saji yang bukan junk food misalnya kebab dan salad. Sedangkan contoh makanan tidak cepat saji tetapi merupakan junk food misalnya olahan jeroan dan nasi goreng. Nah, contoh junk food lainnya adalah gorengan, mi instan, makanan kalengan, sosis, nugget, es krim, dan masih banyak lagi.

Padahal sebagaimana yang kita tahu, tubuh kita kan butuh banyak nutrisi. Terutama remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan sepertimu yang butuh banyak protein dan makanan kaya zat besi untuk menghindari anemia. Jadi kesimpulannya, junk food mungkin memang membuatmu kenyang, tetapi, kebutuhan gizimu nggak terpenuhi.

Selaras dengan penjelasan dr. Ingkang, drg. Vitri Dewi, selaku Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, juga menjelaskan bahwa junk food menang di tampilan dan rasa, tetapi nggak bisa memenuhi kebutuhan gizi harian tubuh.

“Kebutuhan nutrisi harus lengkap, ada vitamin ada mineral, ada protein ada lemak. Berapa kandungan protein yang dibutuhkan oleh tubuh, berapa lemak yang dibutuhkan, karbohidrat yang harusnya masuk. Nah, remaja kita, mohon maaf, kalau kemudian mereka (makan) junk food itu, tidak memenuhi kebutuhan mereka. Karena Junk food enak di rasa, tampilannya menarik, dan gaya,” ungkap drg. Vitri Dewi dalam phone interview bersama Hipwee (14/01/2021).

Apa sih yang akan terjadi pada tubuh remaja jika terlalu banyak mengonsumsi junk food?

dampak junk food pada tubuh (foto: Thomas Kelley/Unsplash) via www.hipwee.com

dr. Ingkang Helena lebih lanjut menjelaskan bahwa anak atau remaja yang terlalu banyak mengonsumsi junk food akan merasa kenyang, sehingga tidak menerima makanan sehat, akibatnya, kurang mendapatkan asupan gizi yang seharusnya mereka dapat. dr. Ingkang juga menjelaskan bahwa junk food bisa merusak selera makanan, sehingga para remaja nggak suka lagi rasa makanan yang sehat. Hal ini dikarenakan junk food biasanya tinggi gula dan garam, sehingga rasanya memang cenderung tajam dan memanjakan lidah. Sementara makanan sehat dan bergizi rasanya cenderung kurang tajam. Karena itulah remaja dan anak-anak lebih suka makanan junk food yang jelas nggak bisa memenuhi kebutuhan gizi. Padahal, kebutuhan gizi harian kita harus terpenuhi supaya seluruh sel dan organ tubuh kita bisa bekerja dengan baik.

“Tidak sehat, bisa malnutrisi atau obesitas. Bisa juga terkena penyakit infeksi kalau junk food (yang dikonsumsi) tidak higienis,” terang dr. Ingkang menjelaskan tentang dampak junk food bagi tubuh kita.

Sementara itu, drg. Vitri Dewi menjelaskan terdapat perbedaan antara efek junk food terhadap remaja dan orang dewasa atau usia senja. Tubuh orang dewasa atau usia senja diibaratkan dengan mesin mobil yang sudah tua. Jika diberikan bahan bakar yang buruk, akan langsung terasa dampaknya. Sedangkan remaja diibaratkan dengan mesin mobil yang masih baru. Sekali – dua kali diberikan bahan bakar yang buruk tidak akan terasa bedanya. Namun jika terus-terusan, dampaknya akan terlihat bertahun-tahun mendatang.

“Jadi, kalau orang tua dampaknya langsung kelihatan, kalau remaja dampaknya 10 tahun ke depan akan nampak di sana,” ungkap drg. Vitri.

Mungkin karena efek yang nggak kunjung terlihat ini banyak remaja yang kemudian terlena. Karena tubuh masih baik-baik saja, lantas nggak merasa harus menjaga apa yang masuk ke dalam tubuh. Padahal efek bisa terjadi dalam jangka panjang. Misalnya, kalau kamu suka makanan yang tinggi gula plus cuma kaya karbohidrat aja, kamu akan berisiko terkena diabetes dan obesitas. Lalu makanan yang tinggi garam bisa meningkatkan risiko hipertensi. Yang nggak kalah bahaya, konsumsi makanan yang tinggi lemak, bisa meningkatkan penumpukan kolesterol di organ dalam maupun di pembuluh darahmu. Akibatnya, risiko penyakit jantung dan stroke mengancam. Efeknya nggak main-main, ‘kan?

Sudah tahu buruk bagi tubuh, kenapa sih remaja masih senang mengonsumsi junk food?

Boba milk tea (foto: Rosalind Chang / Unsplash) via www.hipwee.com

Nah, sudah tahu nih kalau junk food itu cuma beri kenyang dan puas karena rasanya yang enak, tapi sama sekali nggak memenuhi kebutuhan tubuh? Tapi kok masih banyak remaja yang lebih senang jajan junk food dibandingkan makan masakan rumah yang sudah jelas sehat dan higienisnya?

Terkait hal ini, drg. Vitri Dewi memperkirakan bahwa selain menang di rasa dan tampilan, juga terdapat keterkaitan antara kesukaan konsumsi junk food pada remaja dengan trend ataupun gengsi. Seperti yang sudah dijelaskan tadi, junk food identik dengan tempat-tempat nongkrong anak muda. Belum lagi adanya trend mukbang di sosial media yang seringkali menggunakan makanan junk food dalam jumlah besar dalam sekali duduk.  Ditambah lagi, sekarang junk food juga banyak bermunculan sebagai makanan kekinian. Salah satu contohnya adalah boba. Remaja tentu akan lebih merasa percaya diri jika jalan-jalan sembari minum boba ketimbang membawa es cincau ke mana-mana. Adanya gengsi semacam ini, membuat remaja nggak lagi peduli dengan kandungan gizi makanan atau minuman yang dikonsumsi.

“Makanan itu membawa satu gengsi buat satu komunitas. Gitu kan? Nah, di kalangan remaja, nyebutnya begini: remaja kekinian itu kalau makan makanan kekinian juga, katanya kan gitu. Itu lho yang kemudian labellingnya menjadi dia lebih kuat asal makan, tetapi dia tidak melihat kandungan gizinya,” tutur drg. Vitri Dewi.

Selain itu, terdapat pemahaman yang salah mengenai body image, di mana remaja percaya cantik itu identik dengan kurus. Karena itulah, mereka mati-matian menurunkan berat badan dengan mengurangi makan nasi misalnya. Sebagai alternatif, mereka memilih makanan lain yang mungkin dianggap nggak bikin gemuk, seperti cemilan junk food. Padahal, kalau dipikir-pikir, junk food malah mengandung banyak lemak dan gula yang bisa berpotensi menyebabkan obesitas.

Iya sih, junk food memang nggak bagus untuk kesehatan dan harus dikurangi. Tapi susah banget …

Sekali seminggu bolehlah (foto: cottonbro/pexels) via www.hipwee.com

Mungkin banyak dari kita yang menjadikan “berhenti makan junk food” sebagai resolusi tahunan. Tapi seberapa banyak yang akhirnya berhasil mewujudkannya? Harus diakui, meskipun udah tahu bahaya-bahayanya makan junk food, rasanya susah banget untuk berhenti makan junk food sama sekali. Apalagi kalau pas jalan dengan teman. Penginnya jajan ini dan itu, terus lupa kewajiban menjaga asupan makanan yang masuk ke tubuh.

“Sebetulnya kita tidak boleh mengonsumsi junk food. Tapi kita sering tergoda untuk menikmati junk food, terutama saat kumpul-kumpul dengan teman-teman. Untuk meminimalisir dampak setelah kita mengonsumsi junk food adalah dengan makan makanan yang sehat, misalnya buah-buahan dan sayuran yang banyak mengandung serat. Menambah porsi minum air putih dan menambah olahraga,” ungkap dr. Ingkang. 

Jadi, ada baiknya kita mulai membiasakan diri “merasa bersalah” setelah mengonsumsi junk food. Karena itu, kita harus membayar rasa bersalah tersebut dengan menerapkan pola hidup lebih sehat, terutama rutin olahraga setiap hari minimal 30 menit.

Nah, buat kamu yang masih kesusahan melepaskan diri dari junk food, drg. Vitri Dewi punya tips menarik yang mungkin bisa kamu terapkan dalam mengatur pola makan sehari-hari. 

“Misalnya kamu dalam seminggu, itu kan ada tujuh hari, 6 hari makananmu harus benar-benar makanan yang bergizi dan sehat. Nah, boleh ada cheating day. Jadi ada hari yang kamu boleh bebas dan nakal sedikit. Misalnya di hari Sabtu karena kamu mau jalan dengan temanmu, boleh beli junk food. Oke, satu minggu satu hari saja,” saran drg. Vitri. 

Dengan memberikan kelonggaran satu hari untuk makan apa saja, siapa tahu nanti lama-lama kamu jadi terbiasa makan makanan sehat dan nggak doyan junk food lagi. Tapi dengan catatan, 6 hari lainnya kamu harus benar-benar tertib mengonsumsi makanan sehat, ya?

Apakah ada hubungan antara hobi makan junk food dengan risiko terkena anemia pada remaja?

Kaitan junk food dan anemia (foto: maroke / iStockphoto) via www.hipwee.com

Seperti yang kita tahu, remaja termasuk golongan yang rentan mengalami anemia. Lalu, apakah ada kaitan antara hal ini dengan hobi makan junk food? Jelas. Seperti yang sudah dijelaskan tadi, junk food bisa mengubah selera makan dan memberikan rasa kenyang tetapi tidak memenuhi kebutuhan gizi harian tubuh.

Dalam kaitannya dengan anemia, tubuh kita membutuhkan banyak zat besi yang bisa diperoleh dari makanan-makanan tinggi protein dan kaya zat besi seperti hati ayam, ikan, dan sayur-sayuran. Namun, karena kita hanya senang mengonsumsi junk food yang nggak punya kandungan protein, alhasil zat besi dalam tubuh juga nggak tercukupi. Sedangkan penderita anemia seringkali ditemukan pada orang-orang yang secara reguler mengonsumsi junk food dibandingkan yang tidak.

Hal ini juga diperkuat dengan hasil penelitian yang diterbitkan oleh Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Dalam penelitian Hubungan Kebiasaan Konsumsi Junk Food dengan Anemia Gizi Besi Pada Remaja SMA Negeri 4 Tangerang Selatan Tahun 2017 yang melibatkan 178 siswa SMA, membuktikan adanya hubungan erat antara kebiasaan konsumsi junk food dengan anemia gizi besi yang dialami oleh remaja.

Itu dia penjelasan tentang junk food dan mengapa kita seharusnya menghindarinya. Selain makan makanan bergizi dan tinggi protein, mineral, dan vitamin, jangan lupa untuk minum Tablet Tambah Darah atau TTD secara rutin 1 tablet setiap minggu, ya. TTD akan membantumu menjaga kadar zat besi dalam tubuh sehingga kamu terhindar dari anemia. TTD bisa kamu minum setelah makan dengan air putih, hindari minum TTD bersamaan dengan teh, kopi, dan susu, ya, karena tiga minuman tersebut akan membuat penyerapan zat besi kurang optimal. 

Ingat, lho, kebutuhan nutrisi tubuhmu harus dipenuhi. Sayang kan kalau makan cuma asal kenyang, tapi nutrisinya keteteran?

Ditinjau oleh: dr. Haryo Dimasto Kristiyanto

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kopito Ergo Sum -- Aku minum kopi maka aku ada.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi