Strategi di Balik Kemenangan Jepang Lawan Corona. Nggak Pakai Lockdown & Kebijakan Ketat Lainnya

Strategi Jepang lawan corona

Pemerintah Jepang baru aja mencabut status darurat nasionalnya. Status itu ditetapkan awal April lalu setelah angka kasus virus corona di sana mencapai 700-an kasus sehari. Padahal sebelum-sebelumnya cuma sekitar 200 aja. Perdana Menteri Shinzo Abe langsung mendesak gubernur-gubernur buat meminta warganya tetap di rumah dan menutup bisnisnya. Meskipun imbauan itu nggak disertai hukuman bagi yang melanggar, tapi langkah Abe dianggap berhasil meratakan kurva persebaran virus corona. Status darurat pun dicabut.

Advertisement

Di samping itu, Jepang juga termasuk negara maju dengan angka kasus relatif rendah lo, dibanding Eropa, AS, atau Brasil. Padahal, banyak orang khawatir padatnya kereta komuter Jepang bakal jadi lahan subur bagi virus menginfeksi manusia, plus di Jepang juga banyak penduduk lanjut usia. Ya, walaupun nggak sedikit juga sih yang nyinyir dan beranggapan kalau kasus di Jepang rendah karena emang pemerintahnya nggak mengutamakan tes masif. Bisa jadi angka sebenarnya lebih tinggi. Terlepas dari itu sih, sepertinya langkah pemerintah Jepang memang patut diapresiasi, ditambah kesadaran warga di sana soal kebersihan juga begitu tinggi~

Tanpa lockdown, Jepang dianggap sukses melawan wabah virus corona setelah kurva kasus di sana kembali rata

Jepang melawan virus corona via www.ft.com

Bisa dibilang, langkah Jepang melawan corona nggak se-ngoyo banyak negara lainnya. Sejak diumumkannya kasus Covid-19 di Jepang Januari lalu, pemerintah sama sekali nggak menguncitara wilayahnya. Ketimbang menerapkan tes massal kayak Korea Selatan, Jepang lebih memilih melacak kontak dengan pasien positif. Jadi yang dites tuh yang emang terbukti pernah interaksi sama pasien positif aja. Selebihnya, warga diminta tetap di rumah dan mengikuti protokol kesehatan.

Japan model” di atas didukung juga sama kebiasaan sehari-hari penduduk Jepang yang suka pakai masker dan jarang berjabat tangan

Bentuk salam orang Jepang via www.thoughtco.com

Alasan lain yang mendukung kebijakan “tidak seberapa” pemerintah Jepang di atas adalah kebiasaan penduduk yang cinta kebersihan. Warga di Jepang terbiasa memakai masker saat keluar rumah, bahkan jauh sebelum wabah virus corona melanda dunia. Mereka juga selalu melepas sepatu saat masuk rumah dan menggunakan pose menunduk sebagai ungkapan salam alih-alih berjabat tangan. Ditambah, masyarakat di sana memang patuh sama pemerintah. Meski begitu, kombinasi faktor yang memengaruhi keberhasilan Jepang di atas nggak sepenuhnya jelas juga, menurut ahli.

Advertisement

Untuk pencabutan status darurat, katanya bakal berlangsung selama 3 fase, ditandai dengan pembukaan tempat-tempat umum secara bertahap

Sekolah kembali dibuka hari Senin kemarin via www.kompas.com

Pencabutan status darurat dilakukan PM Abe pada Senin, 25 Maret kemarin. Mulai Senin itu sejumlah pusat perbelanjaan mulai dibuka kembali, salah satunya Matsuya department store di Tokyo. Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti para karyawannya yang memakai pelindung wajah dan menyapa pengunjung menggunakan gestur, bukan secara verbal. Gubernur Tokyo juga akan membuka lagi sekolah, perpustakaan, museum, dan memperpanjang jam buka restoran.

Lalu tahap kedua yang entah kapan, sejumlah ruang publik lain seperti bioskop, fasilitas olahraga, dan perusahaan komersil juga akan dibuka. Selanjutnya di tahap ketiga, klub malam, karaoke, dan panggung-panggung hiburan akan menyusul dibuka juga. Meskipun sudah lebih longgar, tapi PM Abe menekankan supaya warganya tetap menghindari “three Cs”: closed spaces, crowded places, dan close contact.

Indonesia sendiri mungkin memang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan kurva. Tapi harapan untuk segera pulih akan tetap ada. Untuk kamu dan kita semua, jangan patah semangat ya. Yuk, kita lalui ini semua bersama-sama! 🙂

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE