Bukan hanya terjadi di Indonesia, krisis air bersih memang tengah melanda dunia. Dilansir dari National Geographic, saat ini satu dari sepuluh penduduk dunia tidak memiliki akses ke air bersih. Hanya kurang dari 1 persen jumlah air di bumi kita yang nyatanya bisa dikonsumsi makhluk hidup. Jumlah sumber daya alam yang secara kasat mata ini sangat terbatas semakin tertekan oleh adanya pertumbuhan jumlah penduduk dan beragam industri. Sebanyak 99 persen lebih jumlah air di bumi, ialah air asin atau beku yang tak bisa digunakan untuk minum ataupun mandi.

Saking mirisnya, beragam forum pemerhati sumber daya alam memperkirakan kalau pada tahun 2030, 50 persen manusia akan berada dalam kelangkaan air yang tak terkira. Krisis air sendiri telah menjadi isu global sejak tahun 2012 silam. Indonesia tentu saja tak luput dari ancaman krisis air. Banyak daerah yang sudah mengalami defisit air bersih. Bahkan sebagian besar air tanah di Ibu Kota telah dikategorikan tak layak minum. Di mana-mana masyarakat makin tergantung dengan air kemasan yang pasti harganya akan naik dari tahun ke tahun.

Advertisement

Tanpa disadari, masalah ini sudah dalam keadaan pelik dan kita butuh solusi segera. Hipwee News & Feature sudah mengumpulkan beberapa solusi kreatif yang semoga dapat menjamin pasokan air minum kita di masa depan. Yuk simak!

Air kencing saja sekarang sudah bisa diubah jadi air minum lho. Para astronot di luar angkasa sudah bisa menikmatinya

Ya gimana, kalau sumber air bersih nggak ada kamu mau minum apa? via foxnews.com

Di NASA, ada satu orang yang memiliki pekerjaan unik. Bernama Jennifer Pruitt, yang bekerja di bagian pemrosesan air seni. Dikutip dari VICE, tugasnya ialah mengurus sistem pemanfaatan air pada Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) untuk astronot yang tinggal di sana. Air kencing sendiri berisi sekitar 95% air dan sisanya ialah bahan kimia buangan tubuh. Semakin banyak air yang dapat didaur ulang dari dua kakus angkasa luar ISS, maka akan semakin sedikit yang perlu dibawa dari bumi.

Saat para astronot menggunakan toilet, air seni tidak dibiarkan terbuang percuma begitu saja. Ada sejumlah bahan kimia yang digunakan agar pipis mereka tidak terurai dan menghindari tumbuhnya bakteri. Kemudian, air hasilnya digabungkan dengan uap dari udara di ISS yang sebagian besar ialah keringat astronot itu sendiri. Jadilah air minum. Astronot rata-rata meminum 730 liter urine dan keringat daur ulang dalam misi selama satu tahun. Mau coba?

Sebuah chip sederhana pun telah diciptaan untuk mengubah agar air laut bisa langsung diminum. Teknologi memang tengah berkembang tak terbantahkan

Alat super kecil ini nantinya akan kamu butuhkan via i1.wp.com

Advertisement

Para peneliti telah membuat sebuah alat kecil yang mampu menghilangkan kadar garam dalam air laut. Berangkat dari sangat terbatasnya pasokan air di berbagai negara membuat mereka yang berasal dari University of Texas dan University of Marburg di Jerman berinisiatif menciptakan alat sederhana yang ternyata sangat bermanfaat.

Dinamakan water chip, berbentuk mungil dan berdampak besar. Alat ini mampu menghasilkan electrical field mini yang akan mendesalinasi air laut. Caranya yaitu dengan menggunakan medan listrik, sehingga pemisahan kadar garam dengan air akan terjadi. Kalau sebelumnya hanya mampu menghilangkan kadar garam 25% saja, sekarang diklaim hingga 99%.

Ada pula Tiny UV Water Purifier. Tak sampai hitungan jam, air bersih bisa dihasilkan hanya dalam kurun waktu 20 menit saja

Sumber air bersih menipis dan manusia harus bersiasat untuk mengatasinya via www.kged.org

Faktanya, orang yang kekurangan pasokan air bersih bukan hanya yang tinggal di daerah gersang dan apalagi terpencil. Seringkali krisis ini menjangkit mereka yang hidup di kota besar. Air PDAM pun juga sering bermasalah, salah satu faktornya yaitu karena banyak zat berbahaya yang mengontaminasi air itu. Solusi untuk memurnikan kembali pasokan air minum sampai sekarang prosesnya masih lama dan memakan biaya besar. Dua hambatan itulah yang berupaya dikurangi atau bahkan kalau bisa dihilangkan di masa depan.

Para peneliti di Stanford University dan SLAC National Accelerator Laboratory berhasil mengembangkan sebuah UV water purifier berbentuk kotak hitam kecil. Meski gadget ini masih berupa prototipe, tetap saja alat ini akan sangat dibutuhkan manusia ke depannya. Proses penjernihan air yang biasanya hingga 48 jam, dengan ini bisa dipangkas hanya dengan 20 menit saja.

The Pipe, sebuah proyek desilinasi terapung di California yang dinilai sangat menjanjikan. Alat ini bisa memproduksi banyak air bersih lho

Alat yang eye catching ini begitu berguna bagi peradaban via inhabitat.com

Menggunakan metode electromagnetic desalination, alat ini sanggup mengubah air laut menjadi air bersih, menyaring garam dan mengembalikannya ke laut. Kalau pembangunannya berjalan mulus, The Pipe bisa memproduksi hingga 1,5 juta galon air bersih. Siapa yang nggak takjub dengan teknologi macam ini? Airnya bisa digunakan untuk didistribusikan ke daerah rawan air di sekitar California.

The Pipe menggunakan teknologi tenaga matahari untuk proses desilinasinya. Selain berguna untuk menjaga ketersediaan air minum bagi manusia, teknologi ini juga ramah lingkungan. Dibanding alat berat yang sarat manfaat, The Pipe malah sering dikira sebagai karya seni, sebab desainnya yang unik dan futuristik.

Inilah Fog Harvester atau alat pemanen awan terbesar di dunia. Dibangun di daerah Maroko, alat ini terbukti sangat membantu

Saatnya memanen awan via twitter.com

Fog harvester atau alat pemanen awan. Ya, teknologi macam ini memang sudah ada. Yang terbesar di dunia dibangun di daerah gurun Maroko, digunakan untuk memanen awan yang kemudian diolah menjadi air minum. Fog harvester sendiri menggunakan pagar jaring besar untuk menangkap kabut di gurun Maroko.

Memiliki permukaan seluas lebih dari 600 meter persegi, alat ini disebut telah memproduksi 17 galon air bersih siap minum per meter persegi dari luas jaring. Adanya pompa tenaga matahari, bersama dengan pipa telah berhasil mengalirkan air untuk 400 penduduk lokal yang berjuang keras mendapat air bersih di area gurun.

Di beberapa daerah Indonesia sendiri telah ada alat pemanen air hujan atau rain water harvesting sebagai alternatif sumber air. Sebuah universitas swasta negeri kita dalam beberapa tahun terakhir ini juga sudah mengembangkannya yang diaplikasikan di beberapa sekolah Jakarta. Alat ini juga mulai masuk ke komunitas masyarakat di rumah-rumah susun. Alat yang berguna untuk mengumpulkan air hujan dalam suatu tangki atau waduk alami ini akan beguna untuk banyak aktivitas warga. Seperti mencuci, menyiram tanaman, dan sebagainya.

Kalau krisis makin parah, harga air bersih pun akan makin mahal. Di Ambon pada tahun 2016 lalu misalnya, harga air bersih yang mulanya Rp120 ribu naik menjadi Rp350 ribu per tangkinya. Nggak kebayang ‘kan zaman anak cucumu nanti bakal gimana? Karena itulah para ilmuwan dan peneliti di seluruh dunia sedang sekuat tenaga mengembangkan beragam gadget, besar ataupun kecil untuk menghasilkan air bersih.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya