Kalau laki-laki melakukan sunat sih sudah biasa. Hampir semua laki-laki di Indonesia mengalaminya. Tujuannya baik, yaitu untuk alasan kesehatan dan kebersihan. Tetapi ketika mendengar istilah sunat perempuan, pasti banyak yang bakal kebingungan dan tidak dapat membayangkan. Nyatanya, sunat perempuan itu benar-benar ada dan masih terus dipraktikkan. Termasuk di Indonesia. Bahkan di Gorontalo, salah satu daerah yang masih melakukan praktik ini, bocah atau balita perempuan semuda 18 bulan banyak yang harus dipotong alat kelaminnya.

Advertisement

Kira-kira apa sih tujuannya? Jeritan balita yang belum mengerti apa-apa itu jelas membuat kita kembali berpikir, apakah praktik seperti ini perlu terus dilestarikan atas nama tradisi atau agama. Padahal banyak ahli kesehatan seperti dr Artha Budi Susila Duarsa, M Kes, dari Lembaga Studi Kependudukan dan Gender Universitas YARSI, menjelaskan ‘sunat’ atau pemotongan alat kelamin perempuan itu nggak ada manfaatnya sama sekali. Bahkan bisa sangat berbahaya dan justru dapat dikategorikan sebagai bentuk kekerasan seksual. Terus kenapa masih dipraktikkan ya? Negara atau daerah mana saja sih yang masih mempraktikkan tradisi yang mengerikan? Pahami lebih dalam mengenai sunat perempuan bersama Hipwee News & Feature yuk~

1. Sunat perempuan mirip dengan sunat pada laki-laki. Dilakukan tindakan pemotongan alat kelamin perempuan meskipun tidak ada kepentingan atau alasan medis

Dengan sengaja, alat kelamin perempuan dilukai. Duh, sakit~ via www.irishtimes.com

2. Ada empat jenis sunat perempuan menurut WHO. Mulai dari memotong klitoris, memotong klitoris dan labia minora, mempersempit lubang vagina, hingga hanya menggores klitoris saja

Alasan dan caranya berbeda-beda via www.allsingaporestuff.com

3. Kalau di Indonesia, sunat perempuan dilakukan dengan sedikit menggores klitoris. Biasanya sih karena tradisi yang juga diyakini sebagai ketentuan agama

Di Gorontalo, balita perempuan berusia 18 tahun  ini harus disunat demi mengukuhkan dirinya adalah seorang penganut agama Islam via www.cnnindonesia.com

4. Selain di Asia seperti Indonesia, sunat atau khitan perempuan juga hingga kini masih banyak ditemui di negara-negara Afrika dan Timur Tengah

Tradisi ini juga melintasi garis batasan agama karena juga ada di negara mayoritas Kristen di Afrika seperti Eritrea via www.okblaze.com

5. Sunat perempuan kebanyakan dilakukan karena dianggap bisa mengurangi kemungkinan seks sebelum menikah — lebih tepatnya, untuk menekan hasrat seksual perempuan

Dengan dalih ‘melindungi’ perempuan, sunat pun dilakukan. via pamelaho.wordpress.com

6. Padahal secara medis, tidak ada manfaat kesehatan dari sunat perempuan. Bahkan perihal sunat atau pemotongan kelamin perempuan ini juga tidak diajari atau tidak ada dalam kurikulum fakultas kedokteran

Dunia kedokteran tidak mengajarkan tentang sunat perempuan. via time.com

7. Selain tidak ada manfaatnya, sunat perempuan justru berbahaya secara medis. Untuk jangka pendek, risikonya seperti infeksi, pendarahan, kesulitan buang air kecil, bahkan juga kematian

Selain itu, bisa berakibat pendarahan, kesulitan buang air, hingga rasa sakit terus-menerus. via www.pulse.com.gh

8. Sedangkan risiko jangka panjangnya, sunat perempuan bisa menimbulkan masalah-masalah yang menyangkut seksual, melahirkan, dan juga menstruasi

Akibat jangka panjangnya bisa berbahaya lho bagi perempuan. via citraindonesia.com

9. Sudah ada banyak pihak yang menentang praktik sunat perempuan. Tindakan itu dianggap mengekang seksualitas perempuan dan melanggar hak asasi manusia

Tujuannya nggak masuk akal dan cenderung mengekang hak seksualitas wanita. via thisisafrica.me

Sampai saat ini, dikutip dari Kompas, kebanyakan sunat perempuan di Indonesia sebatas melakukan goresan pada alat kelamin, tidak sampai melakukan mutilasi. Tapi, tetap saja sih sunat ini dianggap nggak bermanfaat tapi lebih banyak bahayanya. Lagi-lagi, perempuan mau sunat atau tidak, kembali ke pilihan orang tuanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya