Tak Pernah Rasakan Sakit Seumur Hidupnya, Nenek Ini Jadi Kunci Pengembangan Obat Painkiller Mutakhir

Wanita yang tidak pernah merasakan rasa sakit

Rasa sakit saat melahirkan adalah rasa sakit paling ekstrem dan menyakitkan yang bisa dirasakan manusia, perempuan sih lebih tepatnya. Walaupun pengalaman tiap perempuan pastinya berbeda-beda, tampaknya mustahil ada yang menggambarkan pengalaman melahirkan tuh kayak sensasi digelitik seperti Jo Cameron. Dikutip dari New York Times, perempuan berusia 71 tahun asal Skotlandia ini mengaku bahwa dirinya tidak pernah merasa sakit, termasuk saat melahirkan anaknya dulu.

Advertisement

Selama puluhan tahun, teman-teman Jo mengira ia bercanda ketika mengaku hanya merasa tergelitik ketika melahirkan. Tapi kini mereka tahu kalau Jo tidak berbohong. Menurut hasil pemeriksaan dokter, kondisi Jo ini sangat langka dan bisa jadi kunci untuk mengembangkan painkiller atau obat penghilang rasa sakit yang lebih ampuh di masa depan. Kok bisa ya Jo tidak merasakan rasa sakit, gimana pula rasanya hidup tanpa rasa sakit kayak gitu…

Jo awalnya tidak mengira kondisinya spesial sampai usia 65 tahun, saat ia harus dioperasi karena masalah sendi. Para dokter kaget karena Jo tidak memerlukan obat penghilang rasa sakit pasca operasi

Seumur hidupnya tidak pernah merasa sakit via www.thetimes.co.uk

Seumur hidupnya, Jo Cameron tidak pernah merasa bahwa ketidakmampuannya merasakan sakit adalah sesuatu yang spesial atau layak dipelajari secara medis. Sampai ketika beberapa tahun lalu ia menemui dokter untuk berkonsultasi masalah sendi-sendinya yang semakin rapuh dan menua. Para dokter kaget ketika Jo mengaku tidak merasa sakit, padahal orang dengan degenerasi sendi separah itu normalnya akan selalu merasa kesakitan.

Dokter-dokter semakin keheranan ketika Jo bahkan tidak ingin atau merasa perlu mengonsumsi obat penghilang rasa sakit pasca operasi osteoarthritis (penyakit sendi). Operasi yang biasanya sangat menyakitkan. Sejak saat itu, sejumlah dokter dan ilmuwan berusaha meneliti kondisi langka yang dimiliki Jo.

Advertisement

Menilik masa lalunya, Jo mengaku hampir tak pernah merasa sakit ketika terluka. Bukan cuma ketika melahirkan yang menurutnya hanya seperti digelitik, ia pun mengaku sering terbakar dan tidak bisa merasakannya

Dijuluki perempuan yang tidak bisa merasakan rasa sakit via www.bbc.com

Investigasi awal dimulai dengan menilik masa lalu Jo yang ternyata penuh dengan serentetan episode di mana ia terluka tapi tidak merasa sakit. Bahkan Jo mengaku sering tidak merasa kalau kulitnya terkena api atau terbakar dan baru tersadar ketika mencium bau gosong. Suami dan anak-anaknya juga sering lebih dahulu memberi tahunya tentang lukanya yang terbuka atau berdarah karena ia tidak bisa merasakan sakitnya. Saat melahirkan pun, Jo menjelaskan bahwa dirinya hanya merasa seperti digelitik saja, meskipun sadar ada perubahan besar dalam tubuhnya.

Luka-luka yang diderita Jo juga uniknya hampir tidak pernah meninggalkan bekas. Biasanya bisa sembuh dalam waktu yang relatif cepat dan tidak berbekas. Hal ini pun turut diteliti.

Tim peneliti menemukan mutasi gen yang tidak biasa dalam diri Jo. Mutasi gen yang disebut FAAH-OUT ini sangat langka dan baru sedikit diteliti. Jo menduga ia mendapatkan mutasi tersebut dari ayahnya

Anak laki-lakinya tampaknya juga sedikit tidak peka terhadap rasa sakit via edition.cnn.com

Advertisement

Dalam studi yang dirilis dalam The British Journal of Anaesthesia, tim peneliti berhasil menemukan bahwa kondisi langka Jo yang tidak bisa merasakan sakit itu disebabkan oleh mutasi dari gen yang disebut FAAH-OUT. Semua orang sebenarnya memiliki gen ini, tetapi gen FAAH-OUT milik Jo kehilangan sisi depan gennya seperti masih dikutip dari New York Times. Walaupun langka, ada orang lain yang juga memiliki kondisi seperti ini. Dan juga seperti Jo, kebanyakan mungkin tidak menyadari kondisinya itu.

Kelainan genetik seperti ini bisa terjadi karena kebetulan dan bisa juga turun menurun di keluarga. Jo menduga bahwa ia mendapatkan mutasi tersebut dari ayahnya yang sudah meninggal. Sewaktu ayahnya masih hidup, Jo ingat bahwa ayahnya juga tidak pernah meminum atau memerlukan obat penghilang rasa sakit. Anak laki-lakinya ternyata juga diketahui sedikit tidak peka terhadap rasa sakit, meskipun tidak sampai seperti Jo. Sedangkan ibu dan anak perempuannya tidak mengalami kondisi ini.

Mutasi gen ini diyakini bisa jadi penemuan besar dalam dunia medis. Bukan cuma untuk mengembangkan obat penghilang rasa sakit yang lebih ampuh, kondisi Jo juga layak dipelajari karena diduga menyebabkan dirinya hampir tidak pernah merasa stres

Mutasi gen via www.msn.com

Di samping kemampuan untuk tidak merasa sakit, para peneliti juga tertarik dengan Jo selalu bahagia secara medis. Mereka terheran-heran dengan tingkat kecemasan atau stres Jo yang sangat rendah. Dalam kuesioner anxiety disorder yang nilai maksimalnya 21, nilai Jo adalah nol. Jo mengaku tidak pernah ingat merasa takut atau tertekan.

Kedua ‘kelainan’ yang luar biasa ini diyakini bisa jadi kunci untuk lebih jauh memahami rasa sakit dalam tubuh manusia. Bukan cuma untuk pengembangan obat penghilang rasa sakit saja, tapi juga mungkin untuk pengobatan anxiety disorder. Meskipun banyak orang yang mungkin iri, menurut Jo tetap ada kerugian yang ia rasakan dengan kondisi ini. Selain mengaku sangat mudah lupa, Jo juga mengatakan bahwa dirinya tidak pernah merasakan adrenaline rush. 

Jadi tidak pernah merasakan rasa sakit atau cemas, tapi juga tidak pernah merasa deg-degan gitu…Hmmm susah juga ya….

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE