Sepak bola Indonesia baru saja berduka karena kehilangan salah satu penjaga gawang terbaiknya yaitu Choirul Huda. Akibat insiden benturan dengan kawan satu timnya ketika berusaha mengamankan bola, Choirul Huda tidak sadarkan diri dan kemudian meninggal dunia. Liga 1 kontra Semen Padang di Stadion Surajaya pada Minggu (15/10) menjadi laga terakhir yang dimainkan kiper Persela Lamongan ini.

Berbagai spekulasi pun diprediksi menjadi penyebab kematian Choirul yang begitu mendadak. Mulai dari lidah tertelan hingga serangan jantung. Namun dilansir dari Kompas, pihak dari RSUD dr Soegiri Lamongan, yakni dokter Yudistiro Andri Nugroho, Spesialis Anastesi (Kepala unit Instalasi Gawat Darurat) sudah memberikan penjelasan perihal apa yang terjadi dengan Choirul. Berikut kronologi meninggalnya Huda dan penjelasan medis tentang apa yang terjadi. Baca sampai selesai ya!

Insiden lapangan itu terjadi sangat singkat, tidak ada yang menduga jika Choirul Huda akhirnya tidak selamat

Advertisement

Pada menit ke-44 dalam pertandingan kemarin, Huda mencoba mengamankan gawang dari serangan Marcel Sacramento. Namun sayang, dadanya dan bagian bawah rahangnya justru mengenai kaki rekan satu timnya sendiri yaitu Ramon Rodrigues. Awalnya Huda nampak menahan sakit sesaat setelah dirinya terkena benturan, namun tak lama kemudian ia tidak sadarkan diri dan ditolong oleh tenaga medis.

Huda sempat diberi oksigen dan napas buatan sebelum akhirnya dibawa menggunakan ambulan menuju rumah sakit terdekat. Tetapi sebelum sampai rumah sakit, nyawa atlet berusia 38 tahun ini tidak tertolong. Dokter pun sempat berjuang untuk memulihkan kembali fungsi organ Huda, namun tidak berhasil. Sang kapten pun dinyatakan meninggal dunia pada 16.45 WIB.

Berita kematian ini menimbulkan duka mendalam bagi parapemain dan suporter, bahkan FIFA dan Paul Pogba menyampaikan bela sungkawanya

Ucapan bela sungkawa dari Pogba via twitter.com

Tidak ada yang menduga jika hari itu adalah hari terakhir Huda berlaga. Sebelumnya, ia bahkan sempat punya meminta kaos kaki dan perlengkapan yang baru. Kepergian Huda didengar oleh tim setelah pertandingan yang mereka menangkan dengan skor 2-0 itu usai. Kemenangan yang seharusnya menjadi hadiah manis untuk Huda justru diselubungi perasaan duka. Mendadak suasana stadion pun bergemuruh, beberapa pemain nampak tidak bisa membendung tangis di tengah begitu mendengar rekannya sudah tiada.

Advertisement

Peristiwa duka ini bahkan mengundang perhatian dunia. Ucapan bela sungkawa datang dari FIFA dan pesepak bola asal Prancis, Paul Pogba. Mereka mengungkapkan dukanya melalui unggahan media sosial.

“Sepak bola Indonesia berduka, kiper populer Choirul Huda meninggal dunia setelah insiden benturan di lapangan,” @FIFAcom

“Ucapan belasungkawa kami haturkan dengan tulus untuk keluarga Choirul, klub, dan para penggemarnya di Indonesia,” @FIFAcom

“RIP Choirul Huda. Doaku untukmu dan keluargamu #RIPHuda,” @paulpogba

Dibalik berita duka ini, dokter menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Huda. Benturan keras membuat trauma di dada, leher, dan otak

Tak tertolong via tribunnews.com

Pihak RSUD dr Soegiri Lamongan memberikan pernyataan terkait meninggalnya Huda. Menurut pemeriksaan, Huda mengalami benturan yang menyebabkan ia henti napas dan henti jantung. Hal tersebut dikarenakan adanya trauma dada, trauma leher, dan trauma kepala. Medis pun sudah memberikan pertolongan maksimal pada Huda mulai dari oksigen hingga alat bantu napas permanen yang 100% dapat mengalirkan oksigen ke paru-paru, sehingga terjadi pompa menuju jantung dan otak agar berfungsi kembali.

“Pompa jantung dan otak itu dilakukan selama satu jam tidak ada respons. Tidak ada refleks tanda-tanda kehidupan normal. Kemudian, kami menyatakan Huda meninggal pada pukul 16.45. Kami sudah mati-matian untuk mengembalikan fungsi vital tubuh Choirul Huda,” dokter Yudistiro Andri Nugroho.

Meski sepak bola bukan olahraga banyak menimbulkan kontak langsung, tapi kasus trauma otak akibat benturan sering terjadi dan sangat berbahaya

Benturan saat sepak bola via www.wired.com

Benturan dalam sepak bola yang melibatkan bagian kepala seringkali berakibat fatal kepada pemain. Dilansir dari Wired, banyak studi yang menunjukan keterkaitan kasus gegar otak dengan atlet sepak bola. Seringnya pemain sepak bola menggunakan kepala untuk menyundul dan mengarahkan bola, dalam jangka panjang ini berakibat pada sistem kerja otak. Benturan bukan hanya terjadi dengan bola, melainkan juga karena insiden benturan atau tabrakan dengan pemain lain.

Kasus yang terjadi pada Huda memang terbilang langka, namun bisa jadi sebelumnya ia sudah banyak mengalami benturan di kepala. Kecenderungan pesepak bola mengalami gegar otak bisa jadi menyebabkan trauma yang dialami Huda makin parah dan langsung menghambat fungsi organ vitalnya.

Bagi sebagian orang, nilai perjuangan bisa dilihat dari berbagai sisi. Bahkan ketika berjuang membela nama baik daerahnya, seseorang layak disebut pahlawan. Duka mendalam dialami keluarga, insan sepak bola, Persela Lamongan, dan La Mania. Semoga apa yang ia perjuangkan tidak akan pernah sia-sia. Selamat jalan, Choirul Huda.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya