Perjalanan Sampah dari Rumah sampai TPA. Ternyata, Prosesnya Nggak Sesederhana itu, loh!

Tempat pembuangan akhir

Hari ke-sekian quarantine… Kita tidak lagi menghitung berapa hari yang sudah kita habiskan di rumah akibat pandemi virus korona. Segala aktivitas kita lakukan dari rumah, mulai dari bangun tidur, bekerja, rapat, ikut kelas online, makan, sampai kembali ke tempat tidur pada malam hari. Selain kegelisahan dan kebosanan yang makin menumpuk, sadarkah kamu apa lagi yang makin banyak menumpuk selama kita di rumah aja: sampah! 

Advertisement

Tadinya, kamu jarang masak karena jarang makan di rumah. Sekarang, kamu bisa menemukan banyak potongan sayur sisa masak atau sisa makanan yang tidak habis di tong sampah rumahmu. Apakah kamu jadi lebih sering belanja online gara-gara lockdown? Tanpa sadar, kegiatan belanja online membuat timbulan sampah kemasan lebih tinggi dari biasanya.

Hmm, mumpung kita memang di masa-masa penuh renungan demi normal baru yang lebih baik, sekalian deh pikirkan tentang semua sampah yang tiap hari manusia hasilkan. Sebenarnya, ke mana sih sampah yang kita buang dari rumah itu? Iya, sampah rumah yang kita hasilkan memang bakal diangkut petugas sampah. Terus, apa yang terjadi dengan sampah kita selanjutnya?

Ternyata kalau dalam konteks pengelolaan sampah, sampah rumah harus melalui enam tahap ini sebelum akhirnya ditimbun di tempat pembuangan akhir! Harus paham yang beginian Guys, kita semua harus lebih bertanggung jawab atas sampah yang kita hasilkan~

Tahap pertama, pewadahan. Kamu pasti punya beberapa tempat sampah di rumah, seperti di dapur atau di kamar. Membuang sampah ke tempat sampah terdekat itu namanya baru pewadahan, belum selesai tuh proses buang sampahnya~

Wadah sampah rumah via unsplash.com

Pewadahan sampah yang baik adalah pewadahan yang memisahkan sampah berdasarkan bahan dasarnya atau dengan melakukan pemilahan. Nggak usah dipilah sampai belasan jenis, deh. Dengan memisahkan sampah basah atau sampah dapur (seperti sisa makanan, kulit buah, dan sayur), sampah kering (seperti kertas atau plastik), dan sampah barang berbahaya dan beracun (seperti batu baterai dan lampu bekas) kamu sudah cukup membantu penanganan sampah di tahap selanjutnya, loh.

Bagi sebagian besar orang, sayangnya, itulah proses yang sepenuhnya mereka anggap sebagai ‘buang sampah’. Padahal itu baru pewadahan. Masih ada perjalanan panjang, sampai akhirnya sampah-sampai yang kita hasilkan bisa terbuang dengan baik.

Sampah rumah yang kita buang akan dikumpulkan oleh petugas pengumpul sampah, entah di pagi atau di sore hari. Kegiatan ini dinamakan tahap pengumpulan.

Pengumpulan sampah di perumahan via unsplash.com

Tahukah kamu, tidak semua rumah bisa didatangi oleh petugas pengumpul sampah, loh. Ada juga wilayah yang mengharuskan penduduknya untuk membawa sampah mereka sendiri ke gerobak atau wadah penampung sampah. Biasanya, cara ini dilakukan untuk wilayah yang jalannya berbukit atau terlalu sempit untuk dilewati gerobak pengumpul sampah. Bisa juga karena tenaga dan peralatan pengumpul yang tersedia tidak mencukupi. Kalau begini, kita sebagai penghasil sampah berperan serta untuk mengurus sampah kita ya~

Advertisement

Setelah tekumpul, sampah dalam gerobak akan dipindahkan ke alat pengangkut dan dibawa menuju tempat penampungan sementara (TPS) atau langsung dibawa ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Kegiatan ini disebut pemindahan

Tempat penampungan sementara via Caroline%20Aretha

Pernah mencium bau tidak sedap dari sampah ketika melewati jalan tertentu? Bau itu berasal dari timbunan sampah di TPS. Di Indonesia, kita mengenal pemulung yang biasanya mengumpulkan sampah-sampah kering untuk dijual kembali. Pemulung ini ikut berperan dalam pemilihan sampah di TPS. Kalau kita sudah memilah sampah di sumber (dari rumah), kita mempermudah pemulung untuk mencari barang-barang bernilai bagi mereka.

Selain mempermudah pengolahan sampah di TPA nantinya, pemilahan di TPS juga bertujuan untuk mengurangi sampah yang harus dibawa ke TPA, loh.

Selesai dipilah, sampah-sampah yang tersisa di TPS akan diangkut ke TPA menggunakan truk sampah. Tahap ini disebut pengangkutan.

Truk sampah di Indonesia via www.timesindonesia.co.id

Lagi naik motor, tiba-tiba ketemu sama truk sampah. Duh, bau! Ada yang buru-buru menyalip, ada juga yang memilih melambat untuk menghindarinya. Kalau ada persimpangan jalan, berharap truk itu nggak ambil jalan yang sama dengan kita. Hihi. Truk sampah itulah yang mengangkut sampah kita ke TPA.

Apa kepanjangan dari TPA? Mungkin kamu akan menjawab Tempat Penampungan Akhir atau Tempat Pembuangan Akhir. Tetot, jawabanmu salah! Sebenarnya, TPA adalah singkatan dari Tempat Pemrosesan Akhir. Sampah tidak langsung ditimbun begitu saja, tetapi diproses atau diolah terlebih dahulu.

Segala upaya terakhir dilakukan untuk bisa mengurangi sampah yang akhirnya hanya bisa ditimbun di TPA. Usaha-usaha ini disebut pengolahan.

Pengomposan via Caroline%20Aretha

Tahukah kamu, daur ulang adalah salah satu pilihan dalam pengolahan sampah. Daur ulang bisa dilakukan untuk sampah kering. Di Indonesia, kertas dan karton adalah bahan yang paling mudah didaur ulang. Sampah basah juga bisa didaur ulang sebagai makanan ternak.

Pengolahan sampah biasanya dimulai dengan memotong sampah sehingga berukuran kecil-kecil alias pencacahan. Selanjutnya, sampah dapur bisa diolah dengan pengomposan. Pengomposan adalah cara untuk mempercepat terurainya suatu bahan dengan mengatur kondisi dari bahan tersebut. Sementara itu, sampah kering lain seperti plastik bisa diinsinerasi. Insinerasi adalah pengolahan sampah dengan cara dibakar secara tuntas pada suhu tinggi. Dengan pengolahan-pengolahan ini, sampah yang pada akhirnya harus ditimbun bisa berkurang.

Akhirnya, sampah yang tidak bisa diapa-apakan lagi akhirnya akan disingkirkan dengan cara pengurugan atau penimbunan di TPA. Inilah yang disebut dengan pengurugan atau landfilling.

Sampah yang tercampur antara basah dan kering serta sampah yang tidak dapat diolah dengan teknologi yang ada harus ditimbus. Awalnya, tanah digali supaya ada ruang kosong untuk meletakkan sampah. Kemudian, tanah galian dikembalikan sebagai penutup. Sampah yang dating selanjutnya bisa ditimbun di atas timbunan pertama ini. Begitu terus menerus hingga timbunan mencapai ketinggian tertentu.

Oh iya, di TPA harus terdapat saluran gas untuk mengendalikan gas yang dihasilkan dari tumpukan sampah tersebut. Gas perlu dikendalikan agar tidak terjadi ledakan akibat penumpukan gas. Ledakan gas bisa mengakibatkan longsor, seperti yang terjadi pada TPA Leuwigajah, Cimahi, tahun 2005 silam.

FYI, salah satu TPA terbesar di Indonesia adalah TPST Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat.  Iya, namanya memang berubah dari TPA ke TPST sejak akhir tahun lalu. Berdiri sejak 1986, TPST Bantargebang sudah hampir penuh dan diperkirakan akan berhenti menampung sampah pada tahun 2021.

Hmm, ternyata, sampah yang kita buang dari rumah harus melalui perjalanan panjang sebelum akhirnya berakhir di timbunan sampah. Kebayang deh, kalau gaya hidup kita menimbulkan banyak sampah serta tidak melakukan pemilahan dari sumber, mau dibuang ke mana sampah kita? Lahan untuk menimbun sampah kita sudah semakin berkurang, loh.

Jadi, yuk, kita kurangi sampah yang kita buang mulai sekarang! Dari hal yang kecil saja dulu, misalnya dengan menolak kantong plastik sekali pakai, menolak penggunaan sedotan sekali pakai, hingga mengurangi membeli barang yang tidak benar-benar kita butuhkan. Kamu juga bisa mencari alternatif dari barang sekali pakai, misalnya dengan mengganti kapas sekali pakai dengan reusable pads yang bisa dicuci dan digunakan berkali-kali.

Kapas reusable via unsplash.com

Lalu, coba mulai kebiasaan untuk memilah sampah dari rumah. Ajak orang tua dan saudaramu untuk turut berpartisipasi dalam menyayangi lingkungan. Eh, kamu juga bisa mengajak organisasimu di sekolah atau di kampus untuk memulai kebiasaan memilah sampah ini, loh! Ingat, dengan memilah, kita bisa meningkatkan sampah yang dapat diolah dan mengurangi sampah yang harus ditimbun!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE