Meski seru dan penuh petualangan, jadi turis di kota atau negara asing juga seringkali dihampiri nasib apes. Salah satunya adalah bertemu dengan pedagang atau penjual jasa yang suka getok harga seenaknya. Harga barang yang harusnya Rp4.000 bisa jadi Rp14.000 karena ketahuan status turisnya. Terkadang yang bikin sebal bukan soal uangnya, tapi perasaan dibohongi atau ditipu. Apa kamu pernah mengalaminya juga?

Nggak semua sih, tapi beberapa pedagang memang punya kebiasaan menaikan harga semena-mena. Terutama kalau bertemu turis atau orang yang awam dengan wilayah tersebut. Karena itulah kita harus waspada dan hati-hati betul ketika menggunakan jasa atau beli ini itu di tempat yang nggak familiar. Tapi apa yang suka getok harga itu cuma pedagang Indonesia? Ternyata tidak. Kalau kamu pernah mengalami sebelnya kena getok harga, yuk simak ulasan Hipwee News & Feature ini!

Tempat wisata dan sarana umum yang banyak pemakainya jadi lokasi paling sip untuk getok harga. Nyesek ‘kan kalau makanan warung biasa harga bintang lima

Makan di tempat sederhana, tapi harganya bisa nyesek luar biasa via www.kaskus.co.id

Advertisement

Daerah wisata biasanya menjadi lokasi yang rawan getok harga. Tapi untuk yang ini seringkali dimaklumi, namanya juga daerah wisata, mahal sedikit tak apa-apa. Selain itu, daerah-daerah sekitar terminal, stasiun, ataupun fasilitas-fasilitas umum lainnya juga rawan harga naik tiba-tiba. Makanan kaki lima harganya bisa tiba-tiba naik seperti harga di restoran berbintang. Ongkos taksi naik drastis karena sopirnya nggak mau pakai argo. Yang lebih menyebalkan lagi, terkadang aksi getok harga ini adalah hasil kesepakatan bersama para penjual. Dan sebagai penumpang yang nggak tahu apa-apa, kita pun nggak bisa apa-apa.

Seperti yang viral beberapa waktu lalu. Makanan ala warung biasa di Anyer bonnya sampai sejuta

Bon yang luar biasa! via pertamax7.com

Tahun 2014 lalu sempat viral di media sosial tentang bon di sebuah rumah makan di Pantai Karang Bolong, Anyer. Dari daftar makanan yang dipesan sebenarnya biasa saja. Ikan bakar, cah kangkung, nasi putih, lalapan + sambel, dan es teh manis. Tapi totalnya bisa sampai sejuta Rupiah. Wow! Foto bon pembayaran itu ramai dibicarakan, karena harga 3 piring cah kangkung saja Rp200.000. Padahal di tempat biasa paling hanya Rp8.000. Wisata Pantai Karang Bolong Anyer memang terkenal dengan harganya yang mahal-mahal. Mungkin karena itu juga, pengunjungnya semakin berkurang.

Ternyata bukan hanya di Indonesia, di negara semaju Singapura pun ada yang suka getok harga

Salah satu turis Singapura yang kena getok sampai 12.000 dollar Singapura via www.asiaone.com

Tapi apakah Indonesia sudah paling parah soal getok harga? Nope, negara tetangga jauh lebih parah. Diulas oleh Merdeka.com, Mall Sim Lim di Singapura seringkali membuat pembeli nangis darah. Dengan berbagai trik, terutama pembeli yang nggak bisa berbahasa Inggris, bisa dibuat mengeluarkan uang jauh lebih banyak dari yang seharusnya. Saking parahnya, pemerintah Cina sampai menghimbau warganya yang sedang plesir ke Singapura agar nggak belanja. Warga Singapura sendiri khawatir kalau hal semacam ini diteruskan, lama-lama turis juga malas main ke sana.

Soal getok harga, ternyata Indonesia belum apa-apa. Menurut survei turis-turis dari Inggris, Spanyol yang paling juara

Transportasi paling mahal, tapi biasanya untuk turis jadi ekstra mahal via www.glassappsource.com

Advertisement

Bagaimana dengan negara-negara Eropa? Adakah budaya getok harga? Ada lho. Seperti yang diulas oleh DailyMail, bagi traveler British, negara yang paling parah urusan “memperdaya turis” ini, Spanyol adalah juaranya. Yang paling umum terjadi adalah ongkos taksi siluman, alias ongkos taksi yang berlipat ganda. Selain itu masih ada tipu daya lainnya yang terjadi, seperti pungutan liar, pencopetan, dan lain sebagainya. Bukan hanya Spanyol, negara Eropa lain seperti Perancis, Italia, dan Inggris pun sama. Wah, apa memang begitu budayanya di tempat wisata?

Memanfaatkan ketidaktahuan orang, ada yang suka aji mumpung. Maklum biar makin untung

Memanfaatkan ketidaktahuan turis via www.thesun.co.uk

Sejak kecil kita diajari untuk selalu jujur. Dengan berlaku jujur, rezeki yang didapatkan juga berkah dan berguna. Jadi mungkin kita bertanya-tanya kenapa ada pedagang dan penyedia jasa yang suka main harga. Jawabannya sebenarnya juga sudah jelas: supaya lebih untung lagi. Karena kita sebagai pembeli atau pengguna jasa nggak tahu, mereka bisa melakukan aji mumpung. Apalagi kalau saat itu kita benar-benar perlu. Mereka pasti tahu kalau berapa pun harga yang disebutkan, kita akan setuju.

Meski kita tak tahu, jangan sungkan untuk pura-pura tahu. Riset dulu sebelum belanja, agar dompetmu selamat sejahtera

Sebagai pembeli kita harus cerdik via csdnews.com

Sulit memang menjadi wisatawan. Niatnya mau bersenang-senang, tapi kalau ‘diporoti’ atau ditipu habis-habisan ya nyesek juga. Karena itu, menjadi turis baik di negara orang atau di negara sendiri kita harus lebih cerdik. Sebelum pergi, jangan lupa untuk meriset harga-harga di tempat yang akan kamu datangi. Bila kamu belanja di pasar, usahakan untuk mengajak teman yang jago nawar. Dan jika kamu mau makan di tempat yang nggak mencantumkan daftar harganya, jangan sungkan-sungkan untuk bertanya.

Kena getok harga memang bikin pusing. Mau melawan dan ngotot juga nggak bisa, ujung-ujungnya cuma bisa pasrah aja. Tapi senggaknya sekarang kita bisa lebih waspada.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya