Daftar 10 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia Sains Tahun 2020 Versi Nature Research. Salah Satunya Peneliti dari UGM

Tokoh paling berpengaruh tahun 2020

Sains telah jadi salah satu topik yang menarik perhatian semua orang sejak Covid-19 menyerobot ketenteraman hidup. Perbincangan segala hal terkait ilmu pengetahuan nggak lagi didominasi para akademisi dan ilmuwan di ruang diskusi. Istilah-istilah penelitian dan sejarah berbagai wabah, sekarang bisa terdengar dari sudut-sudut gang hingga warung kopi kecil yang tetap harus buka meski pandemi masih mengkhawatirkan.

Berbarengan dengan itu, ada orang-orang dengan penemuan luar biasa di balik perhatian publik terhadap masalah krusial dunia sains. Komunitas jurnal penelitian Nature Research memilih 10 orang yang dianggap paling berpengaruh dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tahun 2020, untuk dinobatkan sebagai Nature’s 10: Ten People who Helped Shape Science in 2020.

Lewat keterangan tertulis, Nature Research mengatakan Nature’s 10 bukan semacam penghargaan atau peringkat. Pilihan mereka dasarkan kepada peristiwa penting dalam sains melalui cerita menarik dari orang yang terlibat. Penasaran siapa saja? Di antaranya ada peneliti dari UGM lo.

ADVERTISEMENTS

1. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus

Nggak berlebihan agaknya jika Dirjen WHO masuk ke dalam daftar tokoh berpengaruh di dunia sains tahun 2020. Karena di bawah kepemimpinan Tedros, WHO menghadapi tantangan besar yakni menangani pandemi Covid-19 yang dalam rentang waktu setahun terakhir telah menginfeksi lebih dari 76,5 juta orang di dunia.

Nature Research menganggap peran Tedros sebagai Dirjen WHO sangat penting dalam mengingatkan masyarakat dunia untuk bersiap menghadapi virus corona sejak awal penyebarannya. Fakta kalau ada negara anggota WHO yang ngeyel dengan rekomendasi WHO di bawah kepemimpinan Tedros itu soal lain.

ADVERTISEMENTS

2. Petugas Patroli Kutub Utara, Verena Mohaupt

Verena Mohaupt merupakan koordinator logistik misi di kutub utara. Oleh Nature Research, Mohaupt dan timnya dianggap telah sangat berjasa memastikan situs penelitian ekspedisi Artik terbesar dalam sejarah bernama MOSAiC tetap terjaga di tengah tantangan cuaca dan ancaman beruang kutub.

Perannya yang nggak diketahui banyak orang, Mohaupt dan tim harus menjaga seluruh peralatan penelitian dan logistik lainnya agar nggak tenggelam, karena Kutub Utara tengah menghadapi ancaman es mencair ketika matahari terbit. Selain itu, Mohaupt yang merupakan lulusan biofisika ini juga melatih beberapa peneliti untuk menghadapi bahaya Kutub Utara.

ADVERTISEMENTS

3. Ahli Virologi asal Uruguay, Gonzalo Moratorio

Masih terkait pandemi Covid-19, Gonzalo yang merupakan ahli virologi di Pasteur Institute and the University of the Republic bersama sejumlah rekannya dinilai berhasil membantu Uruguay terhindar dari lonjakan penularan Covid-19. Ia dan tim berhasil membuat mekanisme pemeriksaan virus corona dan menyusun program nasional penanggulangan Covid-19.

Berkat hal tersebut, sejauh ini Uruguay menjadi salah satu negara dengan tingkat kematian akibat Covid-19 terendah di dunia, yakni 87 kematian per 10 Desember. Sementara negara tetangganya, yaitu Brasil dan Argentina mencatat lonjakan penularan Covid-19 yang signifikan.

ADVERTISEMENTS

4. Peneliti Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM), Adi Utarini

Satu persoalan yang terbilang luput di tengah pandemi Covid-19 di Indonesia adalah angka penularan demam berdarah yang turut melonjak. Peneliti Kesehatan Masyarakat UGM, Adi Utarini memilih fokus kepada isu ini. Bersama rekannya, Adi berhasil mengurangi kasus demam berdarah hingga 77 persen di beberapa bagian kota besar Indonesia, dengan cara melepaskan banyak nyamuk yang sudah dimodifikasi untuk menghentikan laju penularan.

Adi bersama rekannya juga turut membiakkan nyamuk Aedes Aegypti yang telah dimodifikasi tersebut untuk diuji coba di negara lain. Uji coba kecil di Australia dan Vietnam membuahkan hasil menggiurkan. Penelitian ini menjadi uji coba terkontrol pertama yang benar-benar baru dan terbukti efektif mengendalikan wabah DBD.

ADVERTISEMENTS

5. Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern

Setidaknya selama pandemi turut melanda Selandia Baru, nama Jacinda Ardern banyak menuai komentar positif. Oleh banyak pihak Ardern dinilai sebagai pemimpin yang berhasil menangani krisis akibat pandemi Covid-19. Ia nggak ragu menerapkan kebijakan lockdown beberapa waktu setelah kasus pertama Covid-19 terkonfirmasi di Selandia Baru.

Kebijakan Ardern yang kemudian sempat mengundang kontra ini nyatanya berhasil mengantar Selandia Baru “pulih” lebih cepat dari negara-negara yang mikir-mikir buat nerapin lockdown~

ADVERTISEMENTS

6. Kepala Riset dan Pengembangan Vaksin Perusahaan Farmasi Pfizer, Kathrin Jansen

View this post on Instagram

A post shared by Fede Tessore (@fedetesso)

Di masa-masa penuh kekhawatiran dan keraguan, Kathrin Janses sebagai kepala riset dan pengembangan vaksin mengambil langkah beresiko dengan melakukan penelitian pengembangan vaksin virus corona menggunakan teknologi yang belum terbukti ampuh, messenger RNA. Ia mencoba opsi ini karena angka kematian akibat Covid-19 yang terus melonjak.

Hasilnya, dalam waktu 210 hari Jansen dan tim berhasil membuktikan kalau vaksin buatan mereka aman dan efektif untuk manusia. Hingga kini, vaksin Pfizer telah disetujui beberapa negara seperti Inggris untuk penggunaan darurat. BioNTech sebagai rekanan Pfizer dalam pengembangan vaksin tersebut mengakui keberhasilan ini sebagian besar berkat tangan dingin Jansen yang nggak kenal lelah dan selalu berpatokan kepada data.

7. Ahli Virologi China, Zhang Yongzhen

Zhang merupakan orang yang pertama kali mengunggah genom virus corona secara daring pada Januari 2020. Sebelum itu, apa yang kini kita ketahui tentang dampak virus corona hanya diketahui dapat menyebabkan penyakit mirip pneumonia di Wuhan, China.

Melalui unggahannya, Zhang menjelaskan bahwa genom virus corona berasal dari virus terbaru, tapi mirip dengan virus yang menyebabkan wabah SARS di China 2002 lalu. Berkat upaya Zhang, para peneliti memulai riset untuk menyelidiki protein utama virus, tes diagnostik, dan merancang vaksin. Ahli virus dari Duke National University of Singapore Medical School, Linfa Wang bilang itu merupakan momen terpenting dalam penelitian Covid-19.

8. Kosmolog, Chanda Prescod-Weinstein

View this post on Instagram

A post shared by Orenda (@orendagreenport)

Selain sibuk merampungkan penelitian post-doctoral pertama dan memetakan penelitan menggunakan observasi astrofisika untuk mempelajari materi gelap, Weinstein turut aktif memperjuangkan hak asasi kelompok minoritas. Ia mengorganisir para ilmuwan untuk ikut solidaritas Strike for Blake Lives, sebuah kampanye daring yang menuntut institusi menangani rasisme dalam dunia sains.

9. Ahli Epidemiologi China Pencetus Kebijakan Lockdown, Li Lanjuan

Lockdown yang diterapkan oleh Ardern di Selandia Baru, pertama kali diserukan oleh Li Lanjuan. Pada Januari lalu Li ditugaskan pemerintah China untuk pergi ke Wuhan meninjau penyebaran wabah. Beberapa hari kemudian ia menyerukan pemerintah Wuhan untuk mengisolasi total kota dengan 11 juta penduduk demi menekan penularan.

10. Direktur Institut Nasional Amerika Serikat untuk Penyakit Menular dan Alergi, Anthony Fauci

Ketika presiden Donald Trump dan jajaran pemerintah Amerika meremehkan Covid-19, Fauci ibarat pahlawan sekaligus pembela ilmu pengetahuan di Amerika. Fauci nggak gentar untuk terus memandu masyarakat Negeri Paman Sam untuk memahami bahaya dari virus tersebut. Selain itu ia juga menerapkan sejumlah pedoman sebagai bentuk tanggapan nasional terhadap pandemi corona.

Itu dia 10 tokoh paling berpengaruh dalam dunia sains sepanjang 2020 versi Nature Research. Kamu punya versi tersendiri?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.

CLOSE