Membicarakan Korea Utara memang tidak pernah ada habisnya. Mungkin karena kita penasaran bagaimana hidup di Korea Utara yang begitu tertutup dari dunia luar. Sebagai satu dari sedikit negara komunis yang bertahan, Korea Utara merupakan negara paling ekstrem yang menolak segala pengaruh dari luar. Tertutupnya akses informasi dari luar, warganya jadi korban propaganda dan doktrinasi selama puluhan tahun sejak repubik ini berdiri.

Meski kita tahu betapa kejam dan terbelakangnya partai komunis Korea Utara, tapi rakyatnya berpikir bahwa negaranya adalah yang terbaik di dunia. Pemimpinnya ‘The Kims‘ pun dianggap setengah dewa. Semua hal baik terjadi karena pemimpin agung, sedangkan yang buruk semua datangnya dari Amerika dan sekutunya. Jadi, selalu menarik melihat kisah-kisah mereka yang berhasil kabur dari Korea Utara. Kira-kira bagaimana atau apa yang menyebabkan keyakinan mereka yang begitu kuat terhadap kebesaran negaranya, akhirnya runtuh dan tergantikan realita? Ini beberapa diantaranya.

1. Hidup dalam kemewahan Pyong Yang, seluruh hidup Sungju Lee bagaikan kebohongan besar ketika melihat penderitaan dan tragisnya hidup di luar ibu kota

Tersadar bahwa hidupnya yang sejahtera hanya kebohongan semata via ottawacitizen.com

Sungju Lee tidak pernah tahu bahwa kondisi di luar Pyong Yang ternyata jauh berbeda dengan Korea Utara dalam bayangannya. Hanya orang-orang terpilih oleh partai komunis yang bisa tinggal di ibu kota. Salah satunya keluarga Lee. Tapi begitu adanya perubahan rezim, ada ketidakcocokan antara ayah Lee dengan rezim baru. Alhasil, seluruh keluarganya harus lari keluar dari Pyong Yang. Begitu menapakkan kaki di perbatasan, Lee mendapati dirinya di dunia yang berbeda. Bukan negara terhebat dan termakmur yang selama ini dia yakini, tapi ladang tandus penuh orang kelaparan dan warga yang dieksekusi di tengah jalan.

Lee sampai bertanya-tanya apakah mereka masih di Korea Utara. Nasibnya bertambah tragis ketika orangtuanya, satu per satu pergi menghilang hanya meninggalkan memo perpisahan. Sebatang kara dan kelaparan, akhirnya Lee belajar bertahan hidup dengan preman setempat. Mencuri makanan dan berkelahi di jalanan, sampai suatu hari dia mendapat surat dari ayahnya di Cina. Sebenarnya Lee tak pernah berniat pergi dari Korea Utara selamanya, dia hanya ingin ke Cina untuk memukul ayahnya dan melampiaskan rasa kesal. Tapi setelah keluar dan melihat realita yang sebenarnya, dia tak ingin lagi hidup dalam kebohongan.

2. Mendengar cerita teman yang dapat kesempatan sekolah ke luar negeri, Sanghak Park berpikir ulang tentang kebebasan yang dia miliki. Sadar bahwa dia terpenjara, Park akhirnya kabur

Advertisement

Akhirnya bebas via www.stripes.com

Sebagai anak seorang birokrat, Sanghak Park telah didoktrin sejak kecil bahwa pemimpinnya adalah orang terbijak dan negaranya adalah negara terbaik. Namun selembar pamflet yang dia dapatkan secara tak sengaja, membuat Park terheran-heran melihat kehidupan di Korea Selatan. Kebebasan memakai bikini dan menikmati matahari di pantai jelas bukan hal yang bisa dia dapatkan di Korea Utara.

Rasa heran Park semakin menjadi-jadi saat mendengar cerita salah seorang temannya yang menempuh pendidikan di Jerman. Temannya bisa bebas berkunjung ke negara-negara Eropa lainnya. Sementara di Korea Utara, bila ketahuan ke Korea Selatan maka dia akan masuk kamp konsentrasi. Terlebih lagi orang-orang di Eropa, tidak harus melakukan sesi evaluasi diri mingguan, di mana dirinya harus mengakui kesalahan-kesalahannya selama seminggu. Hidup yang serba bebas itu jelas jauh berbeda dengan hidup di Korea Utara yang serba terbatas. Bahkan untuk masalah makanan sekalipun, dia sadar ternyata sangat terbatas. Setelah ayahnya terlebih dulu pergi mengejar kebebasan, Park juga akhirnya kabur.

3. Kuatnya doktrinasi yang sudah dimulai sejak lahir, sebenarnya langsung runtuh begitu berurusan dengan perut. Jika rakyatnya banyak yang kelaparan, Tuhan Kim pastilah tak sehebat itu

Mau dibohongi atau diancam bagaimana pun, kalau lapar ya lapar

Seperti halnya kasus Sungju Lee dan Sanghak Park di atas, momen terakhir yang meruntuhkan segala kepercayaan pada negara adalah ketika mereka kelaparan. Rasa lapar itu insting natural manusia yang tak bisa disamarkan oleh propaganda macam apapun. Setelah jatuhnya Uni Soviet, Korea Utara memang tak memiliki sekutu yang bisa diandalkan untuk meminta bantuan pasokan makan. Belum lagi bencana alam yang seperti kekeringan berkepanjangan yang terus mendera, pantaslah banyak warganya akhirnya mati kelaparan.

Terlebih ketika pemerintahnya mengatur bahwa mereka yang mengeluh ‘kelaparan’ itu termasuk tindakan kriminal karena mengekspos kondisi yang dapat menodai ‘reputasi’ bangsanya. Makanya bukan karena bujukan Amerika Serikat atau alasan politis lain, sebenarnya jauh lebih banyak orang yang kabur dari Korea Utara karena masalah ‘perut’. Terutama mereka yang tidak hidup di Pyong Yang, kelaparan itu tiap hari makin mengancam.

4. Lelah dipaksa bekerja dengan berbagai cara. Melarikan diri adalah upaya mencari hidup yang lebih aman dan nyaman

Diplomat yang menyadari realita dunia bahwa negaranya itu tak berperikemanusiaan via www.nytimes.com

Kasus ‘pindahnya’ Yongho Thae ke Korea Selatan lumayan menghebohkan. Pasalnya Thae adalah diplomat penting Korea Utara untuk Inggris. Menurut juru bicara pemerintah Seoul, alasan Thae pergi karena sudah merasa sangat muak dan lelah dengan rezim Kim Jong Un. Thae juga menyebutkan bahwa selama ini orang menduga bahwa sebagai kaum elit di Korea Utara, dia mendapat fasilitas negara yang mewah. Faktanya, apa yang dia kerjakan dan apa yang dia dapatkan sama sekali tidak sebanding.

Tuntutan yang diberikan negara sangat besar. Bila misi luar negeri Korea Utara mengalami kegagalan, diplomat diharapkan untuk mekukan segala cara untuk bisa mendapatkan uang, termasuk dengan ilegal. Menurut Kepala Divisi Pemantauan Hak Asasi Manusia PBB untuk Asia, Phil Robertson, memang seperti itulah pergerakan ekonomi Korea Utara, yang didasarkan pada kerja paksa rakyatnya.

5. Berbeda dengan mereka yang hidup di ibu kota atau pejabat negara, Hyeonseo Lee selalu tahu betapa bersinarnya lampu-lampu dari daratan seberang di Cina. Tapi tanpa uang atau koneksi, kabur itu sama saja dengan bunuh diri

Kisah tragis yang menginspirasi dunia

Hyeonseo Lee tinggal di daerah perbatasan terluar dengan Cina, hanya terpisah sungai. Tiap hari dia merenung melihat ke dunia bergemerlap di seberang. Kenapa kalau memang dia tinggal di negara terhebat di dunia, justru tiap harinya listrik mati sehingga tak bisa bercahaya layaknya Cina. Tapi Lee juga tahu benar dia tak boleh ‘meragukan’ kehebatan negaranya, karena akan berujung hukuman. Sejak usia 7 tahun, Lee sudah terbiasa melihat warga di hukum mati di pinggir jalan. Bahkan ‘kesalahan-kesalahan’ sepele seperti tidak menangis saat kematian Presiden Kim Il Sung pun punya konsekuensi hukum.

Hidup yang penuh kegelapan dan hukuman itu tak lagi tertahankan ketika rasa lapar akhirnya melanda. Membulatkan tekad untuk mencari makanan di daratan seberang, Lee dan ibunya akhirnya berupaya kabur. Tapi lagi-lagi membuktikan bahwa wanita adalah kelompok korban paling rentan dalam konflik, Lee dan ibunya malah jadi korban perdagangan manusia menuju Cina. Harus menyaksikan ibunya diperkosa dan dibunuh dengan mata kepalanya sendiri, Lee bertekad mengakhiri nasib tragis warga Korea Utara ini dengan jadi aktivis. Karena aktivisme ini Lee sampai harus mengubah nama sebanyak 7 kali demi menghindari pengejaran pemerintah Korea Utara. Catatan panjang pelarian Hyeonseo Lee ini tercatat dalam bukunya ‘The Girl With Seven Names’.

Itulah beberapa alasan orang Korea Utara kabur dari negaranya. Ternyata dibalik hebohnya teknologi nuklir yang digembar-gemborkan ada kelaparan yang terjadi. Dan di balik senyum bahagia rakyat bersama Kim Jong Un, mungkin ada todongan senjata di keningnya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya