Uniknya Warnet di 5 Negara, Ternyata Dijadikan Penginapan untuk Orang Jepang yang Kurang Mampu

Warnet unik

Kapan terakhir kali kamu ke warnet? Bertahun-tahun lalu, tempat ini populer banget di Indonesia. Banyak orang yang mengunjunginya untuk bermain media sosial, browsing berbagai situs, sampai main game. Rasanya seru banget deh! Apalagi biayanya terjangkau untuk anak kecil sekalipun.

Advertisement

Sayangnya kepopuleran warnet mulai redup sejak munculnya berbagai smartphone dan paket data murah. Tetapi, nggak sedikit yang masih suka ke warnet. Apalagi orang-orang di negara tertentu yang mempunyai warnet dengan fasilitas lebih lengkap. Yuk simak keunikan warnet di berbagai negara berikut!

1. Warnet sempat populer banget di Indonesia awal 2000-an. Mulai dari yang sederhana sampai mewah, semua penuh pengunjung!

Warnet di Indonesia via tekno.kompas.com

Saking terkenalnya, dulu satu ruas jalan bisa mempunyai lebih dari satu warnet. Mulai dari yang sederhana tanpa sekat sampai yang berbentuk bilik untuk menjaga privasi. Dulu banyak orang yang rela mengantre lama untuk mengakses Friendster atau Yahoo Messenger yang lagi ngetren. Anak-anak sekolahan juga hobi banget main game bersama temannya. Sayang, kini jumlah warnet di Indonesia berkurang drastis. Tetapi masih ada orang-orang yang rutin ke sana untuk ngopi persediaan film dan drakor.

2. Di Jepang, banyak orang yang nggak mampu tinggal di rumah maupun apartemen. Jadi mereka terpaksa tinggal di warnet karena biayanya lebih murah

Menginap di warnet Jepang via www.vice.com

Banyak warga Jepang yang berpenghasilan rendah dan hanya sanggup tinggal di warnet. Berbeda dengan di Indonesia, bilik warnet di Jepang biasanya lebih luas seperti kamar mini dan bisa dikunci. Jadi bisa digunakan untuk tidur dan menaruh sejumlah barang pribadi. Sebetulnya mereka nggak nyaman karena terganggu berbagai suara dari luar, tetapi akhirnya terbiasa juga.

Para penginap ini biasanya berpindah dari satu warnet ke warnet lainnya sesuai keinginan. Selain mendapat akses internet dan bilik pribadi, mereka juga bisa menggunakan kamar mandi dan laundry di warnet. Harga yang ditawarkan pun bervariasi. Dilansir dari CNN, rata-rata biaya untuk menempati bilik pribadi di warnet selama 12 jam adalah 1.800-3.000 yen (sekitar Rp250 ribu hingga Rp410 ribu). Itu masih terjangkau lo di Jepang~

3. Sebagai negara dengan akses internet tercepat di dunia, Korea Selatan menyediakan fasilitas warnet yang serbacanggih. Bikin betah berlama-lama!

Canggihnya warnet di Korea Selatan via id.pinterest.com

Kalau masuk ke warnetnya, mungkin kamu bakal terkagum-kagum. Mereka menyediakan perangkat komputer yang canggih. Apalagi koneksi internet di Korea Selatan adalah yang tercepat di dunia. Jadi nggak masalah meskipun kita main game atau streaming film dalam waktu lama. Apalagi biasanya tersedia kursi yang sangat empuk dan nyaman.

Semua fasilitas premium ini bisa dinikmati dengan harga yang relatif terjangkau. Dilansir dari Koreaboo, pengunjung hanya perlu membayar 1.000 won atau sekitar Rp12.000 per jam. Ada juga paket seharga 30 ribu won untuk 35 jam, berarti hanya sekitar Rp10.000 per jam. Pantas banyak anak sekolahan yang lebih suka main game di warnet daripada di rumah sendiri. Apalagi, mereka bisa memesan makanan dari layar komputer.

Advertisement

4. Sebagian warnet di Afrika tampak lebih sederhana daripada di Indonesia. Uniknya, mereka menyediakan komputer dan tablet

Warnet yang menyediakan tablet via voicesofafrica.co.za

Kemajuan teknologi belum merata di Afrika, jadi masih banyak warnet yang sangat sederhana. Setiap komputer hanya dibatasi sekat-sekat dari kayu. Di sisi lain, ada juga warnet yang dilengkapi fasilitas canggih. Mereka menawarkan akses internet melalui komputer dan tablet. Jadi para pengunjung bisa duduk dengan lebih santai sembari memegang tablet untuk browsing.

5. Akibat kemajuan teknologi, sekarang hanya ada sedikit sekali warnet di India. Apalagi ada peraturan pemerintah yang menyulitkan

Warnet sederhana di India via cis-india.org

Kini banyak orang India memilih untuk internetan lewat smartphone. Nggak heran kalau jumlah warnet berkurang drastis. Apalagi di sejumlah kawasan, ada undang-undang yang mengatur bahwa lisensi warnet setara dengan lisensi restoran atau bar. Pihak pengelola pun kesulitan dalam sejumlah hal, misalnya lokasi. Warnet nggak boleh berada dalam radius 500 meter dari lembaga pendidikan seperti sekolah, padahal lokasi itu potensial untuk menarik pelanggan.

Itulah kondisi warnet di berbagai negara, ternyata ada perbedaan yang cukup besar. Kemungkinan, warnet di Jepang dan Korea Selatan akan bertahan cukup lama karena menyediakan fasilitas yang lengkap dan murah. Tetapi mungkin warnet akan semakin jarang di Indonesia, Afrika, dan India.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Tinggal di hutan dan suka makan bambu

CLOSE