Tak banyak anak Indonesia yang berkesempatan tumbuh besar di negeri orang. Indonesia memang bukan bangsa imigran — mungkin karena negeri kita sendiri sudah begitu nyaman. Nah, ini menobatkan kamu yang sempat menghabiskan masa kecil di luar Indonesia sebagai “spesies langka”. Kamu menyimpan banyak cerita yang nggak dimiliki anak-anak Indonesia pada umumnya.

Apa saja sih yang kamu rasakan sebagai anak Indonesia yang tumbuh di luar negeri? Apakah 12 poin di bawah ini bisa mewakili perasaanmu pribadi?

1. Pada awalnya, pindah ke luar Indonesia itu menakutkan. Kamu belum bisa bahasa asli sana dan takut gak akan punya teman

Cuma ikut orangtua

Awalnya ikut orangtua via instagram.com

Advertisement

Sebagaimana anak-anak Indonesia pada umumnya, kamu lahir dan menghabiskan masa balita di tanah air sendiri. Kemudian orangtuamu mendapat tugas dinas yang mengharuskan mereka pindah ke luar negeri. Kamu yang waktu itu masih kecil pun harus ikut mereka “mengungsi”.

Awal-awal tinggal di negeri orang, kamu merasa senang, keren, tapi juga ketakutan. Takut di negara yang baru ini kamu bakal kesepian dan nggak punya teman. Apa lagi kamu mungkin belum bisa bahasa asli sana.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya: guru dan teman-teman baru menyambutmu dengan terbuka. Mereka pun sangat ingin tahu tentang kamu dan Indonesia.

Advertisement

Tak butuh waktu lama untukmu merasa nyaman dan jatuh cinta.

2. Mungkin juga kamu justru lahir di luar negeri. Kembali ke Indonesia jadi seperti shock therapy

Atau mungkin malah besar di sana

Atau mungkin malah lahir di sana via instagram.com

Mungkin juga kamu justru lahir dan menghabiskan tahun-tahun pertamamu di luar negeri. Karena itu, pindah kembali ke Indonesia jadi seperti shock therapy.

“Aku selalu diejek karena bahasa Indonesiaku “aneh”. Satu tahun setelah balik ke Indonesia, aku baru bisa punya teman dekat.”

“Hari pertama masuk SD di sini, aku dimarahi guru karena makan pakai tangan kiri. Telingaku dijewer terus aku nangis karena nggak pernah dijewer sebelumnya.”

Kamu nggak menyangka bakal melalui culture shock semacam ini. Indonesia ‘kan rumahmu sendiri…

3. Masa kecilmu di luar negeri sering bikin orang penasaran: “Salju itu bisa dimakan gak sih?” “Di sana kamu pakai bahasa apa?” “Orangtuamu kerja apa?” “Enak banget sih!”

Pernah lihat salju nggak?

Pernah lihat salju nggak? via bethdenny.co.uk

Begitu balik ke Indonesia, anak-anak yang pernah tinggal di luar negeri harus siap menghadapi banyak pertanyaan. “Kamu pernah lihat salju dong? Salju bisa dimakan gak sih?” (Hmmm… Bisa kali ya? Tapi kalau sakit, tanggung sendiri!) “Orangtuamu kerjanya apa?” (Diplomat/dosen yang lagi S-3/peneliti/staf organisasi internasional) “Lebih suka tinggal di luar negeri atau Indonesia?” (Hmmm… di mana ya… Hehehe.)

Oh iya, entah kenapa, orang lain selalu tahu kamu pernah menghabiskan masa kecil di luar negeri. Padahal kamu nggak pernah bilang-bilang atau pamer soal ini.

“Kamu pas kecil pernah di Jerman, ‘kan? Bisa bahasa Jerman dong?”

“Eh… Kok tahu? :|”

4. Tinggal di luar negeri sepanjang tahun 90-an berarti gak tahu banyak hal yang sempat bikin masa kecil anak-anak Indonesia jadi indah

.

Penghapus tahun 90-an? via www.kaskus.co.id

“Oooh… Famili 100 itu kuis dari jaman kita kecil?”

Tersanjung itu apa?”

“Agnes Monica sempat jadi penyanyi cilik, ya?”

Karena nggak menghabiskan masa kecilmu di Indonesia, kamu jadi ketinggalan banyak hal yang sempat bikin masa kecil teman-temanmu indah. Kamu nggak pernah nonton sinetron Noktah Merah Perkawinan, gak tahu Maria Mercedes atau Satria Baja Hitam, gak tahu gosip pulpen narkoba, gak pernah make rautan kaca buat ngintip isi rok temen cewek… Ini yang bikin kamu sadar banget kalau masa kecilmu beda dari teman-temanmu pada umumnya.

Kalau teman-teman kamu udah mulai nostalgia ala anak 90-an, kamu cuma bisa diem di pojokan. Ehehehe~

5. Foto masa kecilmu diambil di banyak negara. Semuanya dengan pose lucu yang membuatmu ingin kembali ke sana

“Ya ampun… ini tahun berapa, coba? Aku umur berapa tahun? Ah, sekarang tempatnya kayak gimana ya? Masih kayak dulu atau udah berubah ya…”

6. Tapi jangan dikira hidup di luar negeri itu gampang. Agar bisa survive, ayah dan ibumu harus rela membanting tulang

Kamu harus biasa hidup sederhana

Kamu harus biasa hidup sederhana via instagram.com

Di foto-foto masa kecilmu, yang kelihatan memang enaknya saja. Kamu jalan-jalan ke banyak negara, wajahmu pun selalu bahagia. Tapi gak semua orang mengerti, butuh kerja keras supaya bisa survive di luar negeri. Kamu melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orangtuamu kerja membanting tulang. Tak jarang orangtuamu punya lebih dari satu pekerjaan, dan ibumu yang di Indonesia bisa menjadi ibu rumah tangga, di luar negeri harus bekerja. Kecuali tentu kamu anak diplomat yang hidupnya dijamin negara.

Di luar negeri, hidup kalian jauh lebih sederhana dibanding di Indonesia. Survive di negeri orang perlu keterampilan yang tak semua orang punya.

7. Ada beberapa hal yang terbawa dari masa kecilmu sampai dewasa. Kemampuan berbahasa adalah salah satunya

Kelihaian berbahasa jadi tanda

Kelihaian berbahasa jadi tanda via www.japantimes.co.jp

Karena terbiasa di lingkungan yang tak berbahasa Indonesia, kemampuan bahasa Inggrismu lebih baik dibandingkan rata-rata orang kita. Tak jarang kamu juga mampu menyerap bahasa asing yang lain dengan cepat.

Aksenmu juga unik: berubah-ubah tergantung kepada siapa kamu bicara. Mulai dari bahasa Indonesia, Jawa, sampai Inggris dan bahasa asing lainnya, aksenmu terdengar natural seperti penutur asli sejati 🙂

8. Kamu juga jadi lebih peduli pada apa yang terjadi di luar Indonesia

6a00e552a02fb488330167641f80b4970b

Pernah tinggal dalam waktu lama di luar Indonesia membuat matamu terbuka: ternyata, ada ribuan budaya dan bahasa lain yang tumbuh dan berkembang di luar sana. Kesadaran ini membuatmu lebih peduli pada apa yang terjadi di belahan bumi lain. Saat ada gempa di Nepal, kamu merasa ikut patah hati — walaupun gempanya bukan di negeri sendiri. Kamu juga tahu negara mana yang berperang dengan negara mana, serta mengerti sejarah dan tokoh-tokoh yang berasal dari luar negeri.

Buatmu, aneh sekali kalau kita hanya peduli pada negeri sendiri. Nasionalisme tak berarti kita tak boleh mempelajari sejarah dan budaya bangsa lain.

9. Keluarga besarmu kadang cemas kamu jadi “kebarat-baratan”. Kalau ada hal kurang baik yang kamu lakukan, masa kecilmu yang bakal disalahkan

Keluarga besar takut kamu jadi "nggak Indonesia"

Keluarga besar takut kamu jadi “nggak Indonesia” via pixabay.com

Hal yang satu ini memang nggak selalu terjadi. Tapi di sisi lain, masih banyak juga keluarga besar yang takut pendidikan luar negeri dan kehidupan orang luar menjadikanmu “nggak Indonesia banget”. Buatmu yang keluarga besarnya begini, kamu pasti terbiasa mendengar kritikan celetukan mereka tentang tingkah lakumu.

“Belajar nari Bali dooong, biar tahu Indonesia sedikit… Tinggalnya boleh di Aussie, tapi ‘kan Mbak tetap orang Indonesia…”

“Eh, lewat di depan Mbah kok nggak bilang permisi? Hayo, biasain jadi sopan!”

“Ehh… jangan duduk di belakang pintu, pamali! Gak pernah diajarin gurunya ya waktu kecil?”

Huahhhh, lelah Kak. :'(

10. Kamu punya teman dari seluruh belahan bumi. Dan sejak kecil, kamu terbiasa jadi “ambassador” negeri sendiri

Temanmu dari mana-mana

Temanmu dari mana-mana via instagram.com

Identitasmu sebagai orang Indonesia justru lebih kuat ketika kamu berada di luar sana. Maklum, gurumu selalu meminta kamu bercerita tentang Indonesia — teman-temanmu pun kadang bertanya. Jadi duta negeri sendiri? Sudah biasa!

Teman-temanmu berasal dari seluruh dunia. Membuka News Feed Facebook artinya membaca status dan caption foto dari berbagai bahasa yang berbeda. Tak jarang pula teman-temanmu memakai abjad dari bahasa asli mereka.

News feed kamu gak pernah sepi. Selalu ada teman yang update karena malam di Indonesia berarti siang di sana — demikian pula sebaliknya.

11. Keunikan masa kecilmu kadang membuatmu percaya, yang sepenuhnya mengerti kamu hanya mereka yang bernasib sama

Saat dewasa, kamu mengenal frasa untuk anak-anak sepertimu: third-culture kids. Dan sampai sekarang, kamu percaya bahwa yang sepenuhnya mengerti rasanya jadi kamu adalah anak-anak yang bernasib sama. Kayaknya, cuma mereka yang tahu rasa shock yang muncul ketika pindah kembali ke sekolah Indonesia. Cuma mereka yang mengerti rasa patah hati yang muncul saat melihat foto masa kecilmu di luar sana. Cuma mereka yang mengerti perasaan bersalah ketika orang bilang kamu “nggak kayak orang Indonesia”, atau hasrat ingin membuktikan bahwa kamu bisa cinta Indonesia meski tak tumbuh dewasa di sana.

12. Pelajaran paling berharga dari masa kecilmu mungkin adalah makna rumah. Merasa nyaman pada budaya bangsa lain ternyata tak perlu membuatmu merasa bersalah

Nggak usah bingung lagi

Nggak usah bingung lagi via instagram.com

Sebagai anak yang masa kecilnya dihabiskan di luar Indonesia, tentu kamu terbiasa dengan budaya dan bahasa yang berbeda. Beranjak dewasa, kamu mulai mempertanyakan makna rumah yang sebenarnya. Ada rasa bersalah yang menyisip saat kamu merasa nyaman dengan budaya dari negeri orang. Rasa bersalah yang sama juga muncul saat cara pikirmu bertolak belakang dari orang Indonesia kebanyakan.

Tapi perlahan kamu sadar: justru punya lebih dari rumah di dunia ini bukan sesuatu yang haram. Merasa nyaman pada budaya bangsa lain bukan suatu kesalahan. Toh ini sama sekali tak berarti kamu tak cinta negara sendiri. Ini hanya menjadikanmu individu yang lebih mawas diri.

Kamu yang menghabiskan masa kecil di luar Indonesia, apakah 12 hal di atas menggambarkan hidupmu juga? Kalau ada yang terlupa, tambahkan di kolom komentar, ya 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya