Supaya nggak dikira mendiskreditkan satu pihak karena latar belakang yang tendensius, maka perlu saya sampaikan bahwa saya bukanlah penggemar Marvel maupun DC. Semoga hal ini membuat saya terbebas dari dakwaan berat sebelah. Harap maklum atas ketakutan saya, karena perseteruan Marvel vs DC ini nggak kalah dari perseteruan UUS vs Netizen.

Meskipun begitu, saya nggak bisa melepaskan ketegangan duo Production House ini begitu saja dari ulasan saya. Pertama, karena kebetulan kedua film ini adalah film terakhir yang saya tonton, dan kedua, barangkali karena saya menyukai dua wanita sekaligus, Gal Gadot dan Elizabeth Olsen. Fokus woy Scarlett Witch nggak ada dalam Thor Ah ‘kan ngaco, baper sih! Baiklah, kali ini saya akan “menyelinap” ke dalam perseteruan dua PH superhero ini dengan membandingkan kedua film yang baru saja mereka produksi. Dengan segala hormat, Justice League lebih baik dibanding Thor: Ragnarok.

Advertisement

(SPOILER ALERT!!)

1. Nggak seperti Thor: Ragnarok, Justice League menaruh bumbu komedi dengan takaran yang pas

Karakter lucu hanya The Flash (Ezra Miller) via www.denofgeek.com

Pada artikel sebelumnya, saya menyoroti tentang porsi komedi Thor: Ragnarok yang seperti takaran micin bakso keliling (red: berlebihan). Alhasil saya gagal masuk ke dalam keseruan cerita karena terlalu sibuk membatin “duh, ini apa lagi , sih” atau “kayaknya yang ini bakal dibikin comic lagi, nih”, atas hal itu fokus saya terganggu.

Lain halnya dengan Justice League, takaran komedinya dalam ukuran pas. Secara nggak langsung, berkurangnya pikiran-pikiran semacam di atas membuat alur cerita dan bangunan konflik yang coba disuguhkan terkonsumsi dengan baik oleh saya. Terus terang saya sangat menikmatinya.

Advertisement

Ya, ihwal porsi komedi ini, boleh jadi karena Zack Snyder (sutradara Justice League) kalah humoris dibanding Taiki Watiti (sutradara Thor: Ragnarok). Namun di sisi lain, Zack terbukti lebih piawai menggarap Justice League sesuai dengan fitrahnya sebagai film superhero, dibanding Taika yang haus akan gelak tawa pada Thor: Ragnarok-nya.

2. Salah menyusun plot dapat membuat penonton sedikit kesulitan dalam mencerna cerita. Justice League lebih rapi

Sang sutradara (Zack Snyder) mengarahkan Batman (Ben Affleck) via heroichollywood.com

Penataan plot adegan sekilas terlihat pekerjaan sepele dan mudah, bagi saya sebaliknya. Krusial! Bicara soal plot nggak bisa dilepaskan dari keahlian sang editor film. Singkatnya, tugas editor film hampir sama dengan tugas penyunting buku, semua perlu perhitungan: kapan harus memotong yang nggak perlu, bagian mana yang mesti ditonjolkan dan lain sebagainya.

Dalam kerapian penataan plot, adegan Justice League mengungguli Thor: Ragnarok. Karena biasanya ke-kurang-fasih-an menata adegan kerap kali dapat membuat film dengan skenario yang bagus kurang berhasil dalam menggiring penonton larut ke dalam cerita. Dalam menonton Thor, saya merasakan kebosanan.

Jangan salah paham, saya sama sekali nggak meragukan skenario kedua film tersebut. Tentu cerita kepahlawanan yang diangkat dari komik itu sama bagusnya–buktinya kedua ceritanya selalu menarik diceritakan kapanpun waktunya. Namun, bagaimana saya nggak ketiduran saat menonton Justice League–boleh jadi–membuktikan bahwa penataan plot Justice League mampu membawa saya larut dalam ceritanya. Pasalnya saat menonton Thor, ada 10 menit kantuk saya yang nggak tertahankan karena dingin AC hingga akhirnya saya tertidur. Hehe..

4. Banyaknya konflik dan ketepatan dalam meramunya membuat penonton betah menonton hingga akhir pertunjukkan

Steppenwolf via bryanzap.deviantart.com

Pada poin ke dua, saya sedikit memuji keberhasilan Justice League membuat saya “melek” sampai pintu bioskop terbuka. Hal ini saya jadikan landasan bahwa sang film-maker berhasil menyampaikan cerita dengan menarik. Menarik disini merujuk pada konflik cerita yang dibangun.

Secara langsung atau nggak, konflik membawa keingintahuan penonton pada apa yang akan terjadi selanjutnya. Misalnya, dalam Justice League, konflik pertama dibuka oleh suasana berkabung atas kematian Superman, dan dari sini penonton bertanya-tanya “apa yang akan terjadi pada bumi setelah Clark Kent tiada?”. Maka setelah itu penonton pasti akan setia menunggu pertanyaannya terjawab. Contoh lain konflik Justice League vs Steppenwolf menggiring penonton untuk penasaran bagaimana cara mengalahkan sang musuh. Hal itu pula yang membuat saya bersedia duduk tenang sepanjang pertunjukan. Dan tentu saja masih banyak lainnya. Atas dasar ini kita dapat mengetahui sejauh manakah sang sutradara sukses menggiring penontonnya.

Dan lagi-lagi, Justice League terbukti lebih kaya akan konflik yang menarik dibanding Thor: Ragnarok yang konfliknya terkesan linear dan ceritanya mudah ditebak.

5. Enam superhero dalam satu film memiliki daya tarik sendiri bagi penonton untuk mengimajinasikan apa yang dilakukan olehnya

DC Comics

Dibanding Thor: Ragnarok yang hanya mengandalkan “domplengan” Hulk dan Doctor Strange untuk membuat penonton menunggu-nunggu aksinya, aneka ragam superhero yang ada dalam Justice League menjadi kemenarikan tersendiri bagi penonton, khususnya saya.

Nggak bisa dipungkiri bahwa daya tarik  superhero adalah bagaimana  kita selalu menerka-nerka sesuatu yang bakal dilakukan superhero dengan kekuatannya. Imajinasi kita pasti kemana-mana. Siapa sih yang nggak berimajinasi melihat  kecantikan dan keindahan Wonder Woman. Meskipun bagi para pengabdi DC tentu sudah sedikit mengetahui ceritanya dari komik, tapi bagi yang belum, bohong kalau imajinasi tentang Wonder Woman, Batman, Superman, The Flash, Aquaman dan Cyborg nggak pernah kita bayangkan. Ya, dari segi ini Thor: Ragnarok kalah jauh.

Dan baiklah supaya agak melegakan tim Marvel, saya akan membahas kekurangan Justice League versi saya

Superman yang diperankan oleh Henry Cavill via comicbook.com

Saya mencatat sekurang-kurangnya ada dua kejanggalan yang mengganggu pikiran saya. Pertama, ketika Superman yang sebelumnya bersitegang dengan Justice League, somehow secara random ia berubah paham, memaafkan Batman, dan bergabung dengan geng superhero itu. Oke kalau itu karena bujukan Lois Lane, tapi kenapa sesingkat dan seakan tanpa pertimbangan pribadi yang matang seperti itu? Mungkin doi tersentuh lagunya Titi DJ “hanya cinta yang bisa menaklukkan dendam”

Kedua, saat pertarungan terakhir melawan Steppenwolf. Ketangguhan sang musuh yang sulit ditaklukan meskipun sudah dikeroyok oleh lima superhero. Justice League tertekan, kemudian sang juru selamat datang.  Nggak lain ialah Superman. Keadaan berbalik, Steppenwolf perlahan menemukan kesulitan dan akhirnya kalah. Sekilas wajar-wajar saja, namun bila dicermati, ada perubahan kekuatan yang “tiba-tiba” ketika Superman datang. Di sini kekuatan lelaki super Krypton itu terlihat sangat-sangat super power sehingga pertarungan mudah ketebak, nggak ada kejutan lagi, Superman datang, Justice League menang. Sudah sesederhana itu. Hambar!!

Dari 1-10, saya memilih angka 7 pada film ini. Saran saya, daripada kamu resah dan dongkol melihat fenomena “Liga Gojek” yang–kabarnya– dipenuhi unsur politik mendingan kamu refresh deh pikiranmu dengan menonton “Liga Keadilan” ini. Oh iya, kamu juga boleh kok nggak setuju dengan pendapat saya. Barangkali kamu punya pandangan menarik lain, saya berharap kamu menuliskannya di kolom komentar di bawah ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya