“Sudah nonton Warkop DKI Reborn?” adalah pertanyaan yang begitu santer terdengar belakangan ini. Seakan-akan semua orang memang bakal nonton Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1, tinggal masalah “belum” atau “sudah”. Agaknya “fenomenal” bukan istilah yang berlebihan. Maka dari itu, seharusnya nggak terlalu kaget jika film arahan Anggy Umbara ini kemudian sukses melampaui semua film rilisan negeri ini dalam jumlah penonton di bioskop.

Pada Selasa (20/9/2016), akun Twitter rumah produksi Falcon Pictures (@Falconpictures) mengumumkan kesuksesan film keluaran mereka tersebut meraup 4,687.000 juta penonton. Film yang tayang sedari 8 September 2016 lalu itu mempecundangi film Laskar Pelangi yang sebelumnya memegang rekor Film Indonesia dengan Jumlah Penonton Terbanyak, yakni 4.631.841 penonton. Sejarah pun berganti.

Prestasi puncak ini sebenarnya juga perpanjangan dari pecahnya rekor-rekor sebelumnya. Rekor lain yang sebelumnya dicetak Warkop DKI Reborn adalah Film dengan Jumlah Penonton Terbanyak Pada Hari Pertama Penayangan (270 ribu penonton), Penayangan Film Secara Serentak dengan Penonton Terbanyak dalam Sehari (556 ribu penonton), dan Pemutaran Film Secara Serentak dengan Pencapaian Tercepat untuk Satu Juta Penonton. Dua yang disebut terakhir terekam juga oleh Museum Rekor Indonesia (MURI).

Oke, yang pertama sih kita layak mengucapkan selamat untuk siapapun yang terlibat dalam Warkop DKI Reborn. Namun, ada kegelisahan yang muncul bersamaan dengan capaian mentereng itu. Tentu saja film tersebut berhak ditonton berjuta-juta orang, lebih banyak akan lebih baik. Tapi yang harus digarisbawahi adalah kekalahan film-film lainnya. Kenapa justru Warkop DKI Reborn yang punya penonton terbanyak, dan apa dampaknya? Bukannya kolot atau antiperubahan, tapi kemenangan Warkop DKI Reborn bisa jadi alarm bahaya yang mesti diikuti dengan antisipasi dari para pelaku industri film kita. Inilah alasannya:

1. Film Warkop DKI Reborn adalah film remake, bukan film orisinal

Buang jauh pikiran kalau membuat film remake (mengadaptasi dari film yang sudah rilis sebelumnya) itu adalah berdosa atau pasti hasilnya buruk. Tidak sama sekali. Beberapa film seperti Some Like It Hot (1959) atau Heat (1995) adalah contoh karya remake yang lebih memikat dari versi awalnya. Akan tetapi, mau lebih bagus atau lebih jelek, tidak bisa dipungkiri jika membuat film orisinal dalam perspektif tertentu jelas lebih layak dihargai secara kreativitas dan etos berkaryanya.

Advertisement

Di sisi lain, label “film Indonesia terlaris sepanjang masa” adalah status yang prestisius dan bakal kerap diperbincangkan. Sampai sekarang belum ada pihak yang kredibel untuk mempersembahkan penghargaan berdasarkan penilaian kualitas semacam Film Terbaik, (keputusan penghargaan Festival Film Indonesia masih sering diragukan) maka takaran prestasi yang paling bisa diukur ya cuma film terlaris. Dan risau rasanya jika prestasi terhormat itu justru disandang oleh sebuah film turunan dari film lain.

Bahkan, saya ragu apakah Abimana, Tora Sudiro, dan Vino G Bastian sendiri sepenuhnya rela jika puncak pencapaian karir mereka berada di tangan Warkop DKI Reborn. Tora Sudiro misalnya, punya riwayat penampilan yang mengesankan dengan karakter pemuda gay resah di Arisan atau putra dari pencopet legendaris di Nagabonar Jadi 2. Agak prihatin kalau semisal lima dekade lagi orang malah lebih mengenal Tora Sudiro sebagai pemeran Indro di sebuah film daur ulang.

2. Mengingat orang Indonesia punya budaya konsumsi yang latah, kita patut khawatir akan disodori ‘Reborn-Reborn’ lainnya

Cara pandangnya enteng saja. Semisal Anda adalah penjual bubuk mesiu (maaf, entah kenapa kepikirannya ini). Tiba-tiba Anda mendapati kawan sesama penjual jadi kaya mendadak gara-gara menjual bubuk mesiu dengan metode pembuatan yang berbeda, dan mungkin justru lebih tidak menguras otak. Anda jelas akan tercetus untuk mencoba melakukan hal yang sama. Benar, logika dagang sederhana.

Lantas, tahu sendiri kan bagaimana watak industri dan masyarakat kita yang latahnya nggak tertolong lagi. Ada yang sukses bikin film horor seks, semua lalu ikutan bikin film horor seks. Ada yang sukses bikin film dengan memajang wanita berjilbab di poster, semua lalu ikutan bikin film dengan wanita berjilbab di posternya. Kita patut deg-degan jika capaian hebat Warkop DKI Reborn akan mengundang para kreator berlomba-lomba membuat film remake. Yang diandalkan sekadar sensasi nostalgia, rasa penasaran, dan aktor ternama. Dampaknya adalah  eksploitasi film-film lawas yang berujung pada kemandegan kreasi. Iyalah, kita semua akan berbondong-bondong melihat ke belakang, hingga lupa untuk merawat kebaruan. Mending jika remake itu nantinya digarap serius, padahal kecenderungan tren latah adalah cepat atau lambat kehilangan pegangan pada mutu.

3. Selain perkara remake, pada dasarnya Warkop DKI Reborn juga bukan film yang cukup bagus

Namanya saja film terlaris. Memang hampir tidak ada urusannya dengan kualitas. Apalagi jika melihat selera orang Indonesia yang terkenal remeh temeh dan mudah dipuaskan. Artinya, status film terlaris memang tidak lantas mencerminkan bobot isi karyanya.

Tapi coba lihat daftar tiga besar film terlaris Indonesia sebelumnya, ada Laskar Pelangi, Habibie Ainun, dan Ayat-Ayat Cinta. Oke, mungkin tidak perlu memperdebatkan mana yang lebih bagus antara ketiganya dengan Warkop DKI Reborn. Satu yang pasti, ketiga film selain Warkop DKI Reborn itu menawarkan kisah atau wacana yang patut diperbincangkan dan ditelaah secara luas.

Selaras dengan novelnya yang sama fenomenalnya, Laskar Pelangi menghamparkan eksotisme sekaligus sisi lain realitas Nusantara yang sebelumnya melulu didominasi oleh narasi-narasi kota besar. Sementara Ayat-Ayat Cinta  menyuguhkan polemik yang menggejala dalam gaya hidup kaum muslim (sebagai mayoritas di Indonesia) seperti ta’aruf dan poligami. Dua film ini tak ada habisnya dikaji dalam berbagai penelitian sosial karena punya signifikansi terhadap cara pandang kita terhadap bangsa.

Walau lebih banyak mengandung unsur drama percintaan, Habibie-Ainun setidaknya juga mengangkat riwayat figur seorang pemimpin besar di Indonesia. Sedikit banyak juga menyinggung dinamika reformasi sebagai latar masanya. Belum lagi akting Reza Rahadian sebagai Habibie yang mungkin adalah performa paling dikenang di sinema Indonesia dalam satu atau dua dekade terakhir.

Lalu tiba-tiba sekarang kita dihadapkan dengan Warkop DKI Reborn? Film komedi yang bercerita tentang tiga petugas keamanan yang bersembunyi dari kejaran massa dalam gambar kemasan kaleng biskuit? Hmm..

4. Watak industri perfilman kita berpotensi menjadi sekadar menyuapi selera pasar

Lantaran bukan kualitas, satu hal yang direpresentasikan dari status “film terlaris” praktis adalah selera pasar dan laku industri perfilman kita. Cukup was-was tatkala kita sadar bahwa Warkop DKI Reborn sebagai pemenang adalah film yang orientasinya memang teramat komersial. Boleh mereka pasang tagar #melestarikanbukanmenggantikan untuk membuat adem para penggemar militan Warkop yang awalnya sentimen dengan proyek garapan ulang idola mereka ini. Tapi “melestarikan” di sini bisa kita maknai sebagai “melestarikan Warkop sebagai barang dagangan”. Dana sebesar 15 miliar rupiah digelontorkan untuk aspek promosi, di mana jumlah tersebut lebih banyak dibanding porsi produksi yang memakan dana 10 miliar rupiah. Lagipula, apalagi alasan mengembangkan jalan cerita ala Warkop yang sejatinya fleksibel menjadi per part selain demi pendekatan membuat penonton datang lagi dan lagi?

Pun jika kita menilik karya-karya rilisan Falcon Pictures, hampir semuanya memang film yang menitikberatkan pada selera pasar. Contohnya sebut saja CJR The Movie, Comic 8: Casino Kings Part.1 dan Comic 8: Casino Kings Part.2 . Kebanyakan pun laris manis. Dibanding ketika Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta bergantian dirayakan sebagai kemenangan sinema Tanah Air, kemenangan Warkop DKI Reborn lebih terkesan sebagai kemenangan dagang.

Eits, tapi tetap ada sisi positifnya sih. Makin semarak nih bioskop

Yah, ini memang sudah kejadian. Nggak mungkin juga yang udah nonton disuruh mengembalikan tiket dan minta balik uang mereka. Akan tetapi, sisi positif dari pergeseran peta daftar film terlaris Indonesia ini mengindikasikan bahwasanya minat atau gairah menonton di bioskop semakin tinggi. Tentu mendukung perfilman dalam negeri dimulai dengan cara yang paling sederhana, yakni menonton. Sejak Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi meraup kuantitas penonton di atas angka 3 juta pada tahun 2008, mulai lazim adanya film-film lokal yang sukses menembus angka jutaan penonton. Kini, Warkop DKI Reborn menghadirkan standar dan tantangan baru. Sebuah tren yang dirindukan.

Harapannya sih simpel. Daripada disesalkan, ya move on aja. Mudah-mudahan segera ada film Indonesia bagus lain yang sanggup menggeser Warkop DKI Reborn ini.

“Ini bukan masalah persaingan film ini mengalahkan film itu. Justru harus saling belajar, dari kesuksesan sebuah film,” – Vino G Bastian, dilansir dari Kompas.com

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!