5 Fakta Pahitnya Budaya Ulang Tahun di Indonesia. Ketika Perayaan Menjadi Sebuah Tekanan~

Traktiran saat ulang tahun

Met ultah, ya!!! Ciyeee tambah tua nih. Oya, ditunggu traktirannya!

Advertisement

Sudah dikatai jadi tua, dipalakin buat nraktir lagi, huh! Jadi orang yang ulang tahun di Indonesia memang sulit, susah-susah pailit. Ketika seharusnya kita merasa bahagia dengan pencapaian sebelumnya dan termotivasi buat pencapaian lebih tinggi di usia yang baru, kita justru dapat tekanan bertubi-tubi. Kali ini tim Hipwee Hiburan bakal menelisik pahitnya ulang tahun. Simak!

1. Budaya pertemanan kita terbiasa untuk menagih traktiran pada kawan yang ulang tahun. Seolah dia yang berbahagia, dialah yang harus dibuat bokek

Auto bokek kalau temannya banyak. via unsplash.com

Sering nggak sih, dapat ucapan selamat ulang tahun tapi basa-basinya selalu minta traktiran. Mending kalau yang ulang tahun itu memang anak sultan, lha kalau kebetulan lagi bokek dan masih pengangguran? Ada beban mengganjal yang kemudian dia harus tanggung. Meski dia bisa memilih buat nggak menjajakan uang, tapi rasa nggak enakan mungkin sedang menggerogoti nalurinya.

2. Mulai disiram tepung, dihujam air comberan, hingga dilempar telur. Intinya ulang tahun=berani kotor itu baik, hmmm mamam!

Seneng sih, tapi jadi bauk… via unsplash.com

Tanggal ulang tahun teman di sebagian pergaulan berarti si ulang tahun itu bebas dikerjai. Mulai disiram tepung, air comberan, diikat ditiang, dan segala penyiksaan ala kolonialisme lainnya. Sebenernya nyebelin sih, tapi kita selalu dipaksa buat senang dan menerima kalau itu tanda kawan-kawan kita sayang dan perhatian. Darimana sayangnya sih?!

Advertisement

3. Sementara di luar negeri si ulang-tahun selalu dapat kejutan tak terduga yang super membahagiakan, di Indonesia perlu dikerjai dulu sampai nangis baru dikasih kue

Selamat, Birthday Girl… via unsplash.com

Di luar negeri seperti Amerika, Eropa, bahkan Jepang, kue adalah elemen kejutan utama buat orang yang berulang tahun. Kadang mereka dapat pesta kejutan, ingat ya, pesta. Yang secara tertata dipersiapkan dan dibiayai kawan-kawannya. Kalau di Indonesia dikerjain dulu. Ada yang pura-pura dimarahin bos, diputusin pacar, dll. Pokoknya prank dulu sampai sedih, nangis, dan kebingungan. Baru kue datang setelahnya.

4. Yang ngucapin ultah rame sih, sampai nggak tau harus bilang makasih berapa kali. Sayangnya itu karena ada yang ngingetin di medsos atau di grup whatsapp, bukan karena benar-benar ingat. Argh!

Ngucapinnya sambil malak deh kayak preman! via unsplash.com

Sebelum ada medsos, kita benar-benar tahu siapa teman yang peduli dan ingat tanggal ulang tahun kita. Kalau sekarang sudah nyaru banget, sulit dibedakan mana yang beneran ingat dan mana yang tahu dari medsos. Bahkan banyak yang ngucapin karena nyaut dari grup pertemanan.

5. Rasanya sedih dan iri hati kalau ingat masa kecil atau lihat orang luar negeri. Ketika ultah, orang di sekitarnya berusaha menjadiakan dia orang paling bahagia di dunia

Advertisement

Kalo di sini mah udah diceburin kolam tuh yang ultah. via unsplash.com

Waktu kecil kita mungkin sering merayakan ulang tahun. Sudah dirayakan sama orang tua, dapat banyak kado lagi dari teman-teman. Kalau sekarang, kado nggak ada, malah ditarikin pajak traktiran. Rasanya orang yang ultah bukan jadi yang paling bahagia di dunia deh, tapi paling bokek dan tertekan. Nggak heran kalau banyak yang malsu tanggal lahir.

Makanya nggak heran kalau orang Indonesia seringkali memalsukan tanggal lahirnya di media sosial. Bahkan kalau ditanya apakah sebentar lagi dia ultah, banyak yang megelak. Satu diantara 360 tanggal dalam setahun dimana seharusnya kita berhak bahagia, hingga merasakan syukur tak terkira justru jadi sebaliknya. Budaya ultah di Indonesia bikin perayaan jadi sebuah tekanan.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Sonyaruri---

CLOSE