Saat ini, rasanya belum sah menjalani hari kalau nggak buka media sosial (medsos). Kegiatan satu ini menjadi hal yang menyenangkan; berinteraksi dengan kawan jauh atau mencari informasi terkini tentang apa pun, termasuk kabar dari teman-teman. Banyak orang bilang kalau main medsos harus kebal terhadap berbagai hal yang diunggah siapa pun via dunia maya. Padahal, apa yang diunggah itu kemungkinan besar adalah hal-hal yang memang sengaja dipamerkan sebagai pencitraan.

Baru diputusin sama pacar malah update lagi seru-seruan bareng teman. Nggak mau terlihat lemah, meski hati sedang rapuh sekali.

Advertisement

Medsos merupakan salah satu cara bagi siapa pun untuk bisa bebas mengekpresikan diri. Tapi di balik anggapan itu, sebenarnya medsos bikin pusing juga saat kamu mau unggah sesuatu. Ada beragam alasan yang bikin kamu sampai mikir dua kali (atau lebih) buat update Instastory, unggah foto, bahkan caption dan tagarnya juga. Gara-gara apa sih?

1. Ibarat LinkedIn, rata-rata medsos dijadikan sarana untuk personal branding. Makanya, kamu bakal pilih-pilih kalau mau unggah sesuatu

semua medsos dibuat personal branding kayak linkedin via time.com

Mencantumkan medsos saat melamar pekerjaan bikin kamu memerhatikan linimasa akun pribadi supaya terlihat apik. Nggak cuma foto-foto atau video, tapi juga unggahan status maupun caption-nya. Semisal kalau dulu isinya foto-foto konyol bareng teman dan kemesraan bersama pasangan, kini malah diatur sedemikian rupa biar tampak keren dan berwibawa karena butuh personal branding yang bagus. Padahal untuk personal branding kamu bisa gunakan LinkedIn, sedangkan medsos lainnya bisa sesuka hati dipakai untuk hal-hal receh sehari-hari.

Jika dipikir-pikir lagi, bukankah tujuan medsos dibuat untuk membagikan informasi dan sebagai sarana komunikasi?

2. Berteman dengan saudara, rekan kerja, bahkan atasan di medsos membuatmu galau saat mau curhat soal pekerjaan atau pacar. Ujung-ujungnya, “Upload nggak, ya?”

bikin galau di medsos via unsplash.com

Advertisement

Selain personal branding, hal lain yang bikin kamu mikir dua kali mau unggah sesuatu adalah hubungan pertemananmu dengan saudara, rekan kerja, dan atasan di medsos. Mau unggah foto jalan-jalan, nanti atasan tahu kalau kamu lagi santai dan nggak banyak kerjaan. Mau curhat soal pacar, eh, ada saudara yang kepo. Jadinya upload jangan nih?

3. Munculnya tren mengikuti gaya hidup orang lain di dunia maya. Kalau penampilan belum kayak selebgram, nggak bakal deh kamu unggah 🙁

ikutin tren foto terkini kayak selebgram misalnya via unsplash.com

Ini sepatunya belum kayak selebgram. Nggak jadi upload deh, mau ganti sepatu dulu terus baru coba foto-foto lagi.

Percayalah kalau kamu nggak sendirian ketika galau mau unggah foto-foto. Maklum, dunia medsos seperti Instagram memunculkan adanya selebgram yang bikin kamu pengen kayak mereka. Makanya, kalau OOTD-mu atau dandanan belum mirip selebgram, kamu bakalan enggan untuk mengunggahnya. Begitu pula dengan gaya bicara ketika mau bikin Instastory. Nggak heran kalau kamu sering galau saat mau unggah konten di medsos.

4. Omongan warganet tentang apa yang kamu perlihatkan menjadi hal penting bagimu. Sekalipun mereka adalah kerabat sendiri yang sudah kamu kenal

omongan netizen yang sebenarnya juga kerabatmu via 9to5mac.com

Kok warna baju dan hijabnya nggak cocok sih?
Itu angle fotonya kurang ke kiri dikit.

Meski bukan artis atau influencer, jujur saja, kalau keberadaan medsos sekarang nggak terlepas dari pengaruh warganet. Memang sih, warganet di medsosmu mayoritas adalah kerabat sendiri yang sudah kamu kenal. Kalau dulu masih cuek saja mendengar omongan dari mereka, kini beda ceritanya. Tiap komentar di DM setelah kamu unggah Instastory atau meninggalkan opini di kolom komentar unggahan, kamu bakal kepikiran. Makanya, kamu bakal mikir dua kali saat mau unggah sesuatu di medsos.

5. Melihat banyak orang mendapat penghasilan dengan foto-fotonya, video, atau caption uniknya, membuatmu berpikir kalau medsosmu juga bisa punya peluang yang sama

ingin dapatkan peluang seperti para influencer via www.pexels.com

Dengan personal branding yang kamu bangun di internet, kamu mulai memanfaatkannya sebagai sarana untuk menghasilkan uang. Setelah personal branding via dunia maya terbentuk, kamu bakal konsisten menjaga linimasa Instagram, Facebook, maupun akun Twitter dengan hati-hati supaya isinya nggak berantakan dan sesuai dengan personal branding yang kamu ingin perlihatkan. Demi mendapatkan peluang baru berupa penghasilan lewat medsos, kamu nggak pengen lagi asal-asalan mengunggah apa pun.

6. Manusia selalu nggak pernah puas dengan hidupnya. Rasanya, belum lengkap kalau nggak pamer ke banyak orang

belum puas kalau nggak pamer via unsplash.com

Karier keren, sudah bahagia dengan pasangan, hubungan sama orangtua pun adem ayem saja, dan kerap seru-seruan sama teman. Kok kayaknya sempurna, ya? Ternyata nggak. Manusia belum merasa puas kalau nggak pamer ke banyak orang. Rasanya ada saja yang masih kurang kalau belum memberi tahu ke kerabat tentang suatu hal. Karena itu, apa yang pengen ‘dipamerkan’ tentu disaring sedemikian rupa terlebih dulu supaya terlihat keren.

7. Begitu pun dengan manusia yang pada dasarnya pengen mengekspresikan diri tentang apa yang dirasa dan dialami agar suasana hati menjadi lebih tenang. Bentuk ekspresi diri yang sedih sekalipun nggak sembarangan diunggah

ekspresi diri yang ingin diperlihatkan via www.instagram.com

Medsos menjadi sarana untuk mengekspresikan diri tentang apa yang dirasa dan dialami. Hal ini dilakukan agar lebih tenang setelah menggunggahnya ke medsos. Untuk itulah, kamu bakal menuliskan berbagai kata mutiara atau foto-foto penyemangat. Makanya, akan dipilih-pilih mana saja yang akan diunggah.

Main medsos ternyata bisa menjadi nggak senyaman dan semudah itu. Ada beragam faktor yang membuatmu galau ketika mau mengunggah ke medsos. Btw, nomor berapa yang pernah kamu rasakan?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya