“Bagus gak, Yang?”

“Jelek banget, gak cocok sama kulitmu.”

“Ok!” *cemberut

Semua yang keterlaluan dan berlebihan tak baik untuk kesehatan. Begitu kata orang-orang, termasuk untuk urusan kejujuran. Kadang, kita dituntut untuk manggut-manggut gitu aja, padahal enggak setuju sama sekali pada apa yang ada di depan mata.

Namun, ada lho orang-orang yang enggan melakukan hal tersebut dan memilih untuk jujur. Mereka lebih suka bicara apa adanya. Tanpa ‘tedeng aling-aling’, tanpa basa-basi hingga tak jarang banyak orang yang sensi. Nah, dari sekian hal-hal di bawah ini, mungkin kamu juga pernah merasakannya.

1. Kamu kerap membuat momen awkward tanpa sadar. Semua diam dan kamu hanya plonga-plongo sambil ngomong dalam hati: “Aku salah, ya?”

Ketika kamu salah bicara

Ketika kamu salah bicara via moviepilot.com

Inilah yang paling kerap kamu rasakan. Momen salah tingkah yang tak dapat lagi kau bendung. Gestur yang bisa kamu lakukan hanyalah menggenggam kedua tangan sambil memutar-mutar jempol, atau bisa juga garuk-garuk kepala. Dan yang paling umum adalah senyam-senyum sendiri. Lalu perlahan-lahan, kamu tanya ke lawan bicara. Namun sayang, dianya terlanjur badmood dan kamu tak tahu lagi harus berbuat apa. Paling-paling, handphone-lah yang kamu jadikan pelarian untuk mengalihkan perhatian. Atau bisa juga ganti topik-topik. Biasanya, yang terakhir gak akan pernah berhasil.

2. “Hey Gendut!” – Niatnya sih manggil temenmu sendiri. Sayangnya, di sebelah dia ada orang lain yang sama-sama gendut. Eh kamunya nyengir, dia-nya cemberut!

Advertisement
Okay, Boy!

Okay, Boy! via www.pinterest.com

Sifat dasar yang patut dikuasai oleh manusia ceplas-ceplos adalah enggak teliti dan enggak peka dengan sekitar. Dia sebenarnya kenal dengan sekitar, namun menganggap itu tidak memberi peluang untuk menimbulkan kesalahan. Akibatnya, apa yang ada di kepala tidak dapat tertransfer dengan baik ke mulut untuk diutarakan.  Nah, koordinasi otak dan mulut yang tak baik ini akan membuatmu celaka. Niatnya bercanda dan senang-senang, tapi karena kamu terbiasa asal njeplak, maka malapetaka yang kamu dapatkan.

3. Karena kamu paling nggak bisa basa-basi, jelek ya dibilang jelek dan kalau bagus ya dibilang bagus. Titik.

Hobi mencetak musuh

Hobi mencetak musuh via blog.equalrightsinstitute.com

Kamu sedikit kebingungan untuk membedakan mana yang jujur dan mana yang hanya menyenangkan hati  orang. Sepertinya, kamu juga tak akrab dengan frasa ‘mulut manis’. Satu hal yang kamu ketahui hanyalah mengatakan yang sejujurnya. Basa-basi adalah tata krama yang paling basi. Celakanya, seleramu lain daripada yang lain. Jarang ada orang yang bisa menyamai seleramu. Tapi bukan juga berarti kamu yang terbaik. Cuma beda aja. Nah, akibatnya, selera lain akan kamu anggap jelek. Jadilah kamu jarang berpendapat bagus untuk suatu hal.

4. Lihat temen yang pakai baju nggak matching, kamu bakal bilang: “Lu serius pake baju itu?”

MMM not sure..

MMM not sure.. via www.pinterest.com

Suatu sore yang damai, temanmu sudah bersiap untuk pergi ke pesta perpisahan. Kamu menjemputnya tepat waktu. Dia telah menunggu di depan rumah. Sayang, kamu tak suka pada kemejanya yang bunga-bunga norak. Begitu saja terucap. Inilah yang kerap luput dari pikiranmu. Dia telah berdandan sejak pagi; menyiapkan pakaian sejak dini hari; dan menyemprot parfum ke sekujur diri. Cerita-cerita macam itu tak akan pernah menjadi pertimbanganmu untuk berkata sesuatu. Setahumu, apa yang dikenakan itu jelek dan tak sesuai selera. Lalu apa lagi yang ditunggu? Ungkapkan saja. Bukan begitu?

5. Masakan pacar yang dibuat penuh cinta hancur olehmu hanya dengan kalimat: “Kebanyakan garem, nih! Pengen nikah, ya?”

setuju yang :")

setuju yang :”) via www.bustle.com

Belum lagi, sekian puluh tragedi bersama pacar. Dia memberimu sepiring pasta yang keasinan. Bagimu, membiarkannya tetap asin sama dengan menghambat perkembangan pacar dalam soal memasak pasta. Jadilah kamu ucapkan begitu saja pendapatmu. Sayangnya, pacarmu adalah manusia paling sensitif di dunia. Jadilah dia ngamuk karena hasil cipta, rasa, karsa cintanya remuk redam oleh testimonimu yang serampangan. Alhasil kamu akan diduga buruk sebagai pacar yang tak tahu diuntung. Udah uang mepet, kompor tak punya, masak tak kuasa; eh sekalinya dimasakin, malah ngeselin. Padahal, kamu mencoba jujur semenjak di lidah lho!

6. “Dosennya gak enak, ngeselin!” jadi komentarmu di semester awal. Padahal, dosen itu adalah Papa-nya temenmu.

salah lagi!

salah lagi! via www.buzzfeed.com

Ini juga termasuk fatal. Kadang, kita kerap berada di kerumunan yang baru di kenal dan tak tahu anggotanya secara mendalam. Hingga sampai pada perbincangan kamu membicarakan orang lain di luar kerumunan. Kamu mengumpat; mencaci; dan menghinanya setengah mati. Dan setelah ditelusuri, orang itu adalah kerabat dari salah satu anggota kerumunan, yang kelak menjadi kawanmu. Ya, kamu salah lagi. Kejujuran menjadi tak berarti, sebab kepolosanmu justru hanya menyakiti hati. Semenjak itu kamu mulai bertanya-tanya: apa yang terjadi di dunia ini?

7. Kamu sering dinilai tak dapat menempatkan diri. Dunia serasa begitu sepi dan hanya kamu sendiri yang menanggung beban macam ini.

Sendiri menanggung beban ini

Sendiri menanggung beban ini via whyareyoustupid.com

Segala kesalahan itu akhirnya menupuk sebagai beban sejarah. Kawan-kawan mulai menjauh, sanak saudara bungkam, dan pacar menjadi pendiam. Tinggallah kamu sendirian menanggung segala dosa yang sebelumnya kau tak tahu menahu bahwa jujur adalah dosa. Kamu sering dinilai tak dapat menempatkan diri untuk berkata jujur (memangnya, jujur ada tempatnya?). Kemampuan adaptasi dicap kurang dari standar. Kami faham, bahwa kamu bukan sedang mencari musuh, tapi apa boleh dibikin, dunia belum siap untuk menerima karakter sepertimu.

8. Karena sikapmu, kamu sering mendapat nasehat seputar hal-hal itu. Dan perlahan kamu sadar, sebenarnya kamu hanya terlalu polos dan lugu.

Terlalu lugu...

Terlalu lugu… via www.facebookmeme.com

Alhasil, teman baikmu yang cukup kebal dengan kepolosanmu kerap menasihati bahwa sesungguhnya dirimu perlu mengatur mulut agar sedikit dihambat. Momen inilah yang perlahan menyadarkan diri bahwa sesungguhnya adalah keluguan natural yang tak bisa dipungkiri. Sempat tersinggung lalu membela bahwa dirimu sedang berkata yang sejujurnya. Dan perlahan kamu mulai sadar bahwa jujur itu adalah kata benda yang sangat relatif dan sulit dijangkau.

9. Tak Jarang, kamu disebelin karena hal ini. Lalu kamu berpikir : “Benar kata pepatah – jujur tak selalu mujur, kadang jujur bikin ancur”

Selalu begitu sedari dulu

Selalu begitu sedari dulu via gallerily.com

Jujur yang relatif berdampak pada permahamanmu soal kebaikan. Tidak semua kebaikan berbuah manis, dan tidak semua kejujuran berbuah kemujuran. Ini terlintas saat kamu mulai melamun dan membayangkan semua kekonyolan yang pernah kamu alami karena terlalu jujur. Ingat, segala yang keterlaluan akan berdampak gawat dan mendatangkan marabahaya. Perlahan, orang kabur kalau kamu datang dan satu per satu teman menolak ajakan nongkrong. Bahkan tak membalas chat darimu. Sedih juga ya.

Jangan menyerah. Kami tak mengajarkanmu berbohong, hanya menyarankan untuk menjadi manusia yang enggak polos-polos amat atau ceplas-ceplos yang kelewatan. Tetap semangat, ya!