5 Alasan Aturan Boleh Bukber Tapi Nggak Boleh Ngobrol itu Tepat. Setuju?

Memasuki bulan Ramadhan, kegiatan buka puasa bersama (bukber) menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Biasanya, kegiatan buka bersama sekaligus menjadi ajang untuk reuni dengan teman-teman lama sesuai tingkat pendidikan yang sudah dilalui. Mulai dari reuni teman-teman SD, SMP, hingga kuliah, semuanya berlomba-lomba mengadakan acara buka bersama.

Advertisement

Namun, pandemi Covid-19 yang melanda selama dua tahun belakangan membuat momen bukber sekaligus reuni itu nggak bisa digelar. Kini, akhirnya pemerintah melonggarkan pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan. Salah satu kebijakan yang paling ditunggu adalah buka puasa bersama telah diperbolehkan.

Anehnya, kebijakan memperbolehkan bukber itu dibarengi dengan larangan mengobrol. Sontak, aturan tersebut lantas menimbulkan berbagai kritik di kalangan warganet. Pasalnya, bukan hanya sekali ini saja, pemerintah sudah beberapa kali menetapkan kebijakan yang absurd selama pandemi.

Sebagai warga masyarakat yang taat akan aturan, ada baiknya kita mensyukuri dan menjalankan saja aturan baru ini. Lagi pula, aturan bukber tanpa mengobrol itu sudah sangat tepat, kok. Yuk, kita lihat hikmah di balik larangan mengobrol saat bukber~

Advertisement

1. Biar menutup mulut orang-orang yang mau flexing

flexing kerjaan

Flexing soal kerjaan | Photo by Ruthson Zimmerman on Unsplash

Flexing atau pamer kekayaan sekarang jadi kebuasaan buruk yang kerap dilakukan orang-orang. Apalagi, oleh teman-teman lama yang merasa sudah ‘sukses’ setelah sekian lama nggak bertemu. Dengan larangan mengobrol, kamu bisa merasa cukup lega jika bertemu dengan teman semacam ini saat buka bersama sekaligus reuni.

2. Biar nggak sembarangan tanya pencapaian hidup orang lain

 pencapaian

Pencapaian hidup orang lain | Photo by Anna Shvets via Pexels

Kalau sudah pamer, orang yang nggak tahu etika biasanya ada yang sembarangan menanyakan pencapaian hidup orang lain. Bukannya empati, mereka biasanya hanya merasa kepo saja. Beruntung, kamu bisa menghindari pertanyaan sensitif ini saat reuni di masa pandemi. Kalaupun mereka tetap bertanya, ingatkan saja soal protokol kesehatan dilarang mengobrol~

3. Biar nggak bingung cari bahan obrolan sama mantan kekasih

Bingung cari bahan obrolan sama mantan kekasih | Photo by Ryan Jacobson on Unsplash

Meskipun hubungan sudah berakhir sekian tahun lamanya, tapi ngobrol dengan mantan kekasih memang nggak pernah gampang. Selain dilanda rasa canggung, ngobrol dengan mantan malah bisa berujung memunculkan konflik baru. Apalagi, jika hubungan yang lalu nggak berakhir dengan baik-baik saja. Untungnya, sekarang kamu nggak perlu lagi canggung mencari bahan obrolan karena ada alasan aturan untuk tetap diam.

Advertisement

4. Biar nggak banyak dikomentari soal fisik

tanya fisik

Komentar soal fisik | Photo by Keira Burton via Pexels

Kalau kamu punya kecerdasan emosional, pastinya kamu tahu kalau komentar tentang fisik adalah hal yang nggak sopan. Namun, nyatanya masih banyak orang yang mengomentari fisik tanpa merasa bersalah. Pertanyaan “kamu gendutan ya?” atau “kamu kurusan ya?” bukan nggak mungkin terucap saat reuni dan bukber bersama teman lama. Harapannya, larangan mengobrol bisa mengurangi perkataan orang-orang yang suka berkomentar soal fisik~

5. Biar nggak ditanya tentang hal-hal pribadi

tanya soal pribadi

Pertanyaan tentang hal-hal pribadi | Photo by Brooke Cagle on Unsplash

Berada di posisi orang yang menerima pertanyaan pribadi ini bisa jadi sangat menyakitkan. Banyak orang yang masih belum memahami kalau timeline dan tujuan setiap orang itu berbeda-beda. Akan tetapi, pertanyaan kapan menikah atau kapan punya anak ini seakan-akan nggak bisa dihindari saat bertemu dengan teman-teman lama atau keluarga. Inilah yang biasanya membuat kita dulu malas ikut dengan acara bukber atau reuni.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE