Agama Katolik sudah menganyam sejarah panjang di Indonesia, semenjak pertama kali dibawa bangsa Portugis ke Maluku pada abad ke-16. Hasilnya, Katolik kini udah menyebar ke seluruh Nusantara dan jadi salah satu agama besar kayak yang kita kenal sekarang.

Setelah sebelumnya Hipwee mengulas tema yang sangat “Indonesia” — seperti rasanya hidup di Jakarta, kisah hidup orang Jawa, Batak, serta Kalimantan, maupun perjuangan anak pesantren — gak ada salahnya kali ini kita membahas lika-liku jadi anak muda penganut Katolik di Indonesia. Yuk, langsung simak aja!

1. Sejak kecil, kamu yang terlahir di keluarga Katolik udah terbiasa menjadi kaum minoritas.

Terbiasa menjadi minoritas

Terbiasa menjadi minoritas via www.wvindonesia.org

Advertisement

Jangan alergi dulu sama kata ‘minoritas’. ‘Minoritas’ disini tidak berkonotasi buruk. Nyatanya, tinggal di negeri yang penduduknya didominasi oleh umat Muslim itu gak menjadikanmu tersisih atau disisihkan, kok. Kamu memang berbeda, tapi tidak dibeda-bedakan.

Sejak dini, kamu belajar makna toleransi. Manusia itu sebenarnya gak perlu dikotak-kotakkan! Yang perlu kotak itu nasi.

2. Saking tolerannya, kamu gak masalah saat belajar kurikulum agama lain di bangku TK maupun SD.

Belajar agama lain, gak papa kok.

Belajar agama lain, gak papa kok. via kabarsekolah.blogspot.com

Di daerah-daerah tertentu, kadang di kelas cuma kamu sendiri yang beragama Nasrani. Sekolahmu pun gak menyediakan guru agama Katolik. Lalu apa yang kamu lakukan? Ikut kurikulum agama Islam! Heuheuheu.

Advertisement

(F.Y.I, saya sendiri belajar agama Islam sampai bangku sekolah dasar karena ketiadaan guru agama Katolik.)

3. Bagi siswa sekolah negeri, mata pelajaran agama Islam adalah saatnya kamu bersantai.

Dengan pedenya kamu kelayapan di luar kelas

Dengan pedenya kamu kelayapan di luar kelas via eigarebyu.blogspot.com

Kamu diperbolehkan pergi ke luar kelas selama pelajaran berlangsung. Akhirnya kamu nongkrong aja deh di kantin sekolah. Konsekuensinya: ketika siswa lain pulang cepat di hari Jumat, kamu punya jam pelajaran tambahan.

4. Entah sejak kapan, kamu pun jadi terbiasa dengan sebutan ‘non-Muslim’.

Terbiasa dengan sebutan non muslim

Terbiasa dengan sebutan non muslim via m.kompasiana.com

Atau ‘non-Islam’, yang kadang disingkat ‘nonis’ atau ‘noni’. Lha, terus kalo kamu mas-mas gimana tuh? Masa dipanggil ‘noni’ juga? Imut banget.

5. Terlepas dari sebutan itu, kamu sebenarnya punya nama asli yang “agak” keren…

Kamu bangga sama namamu.

Kamu bangga sama namamu. via wasewengke.blogspot.com

Yohanes, Paulus, Vincentius, Maria, Elisabeth, Cecilia… gawl (pake ‘w’) ‘kan? Itulah salah satu ciri khas orang Katolik, kamu punya nama keren yang sedikit mencolok sebagai nama baptis. Terutama buat kamu yang asli Jawa: nama baptis bisa membuat namamu yang ‘tradisional’ jadi sedikit internasional. Mungkin kamu lebih pede memperkenalkan diri sebagai ‘Vincent’ daripada ‘Tukijan’? (Nama lengkap: Vincentius Tukijan) 😀

6. Di tempat umum, kadang kamu menuai tatapan ajaib saat bikin tanda salib.

Tanda salib

Tanda salib via gifreactions.tumblr.com

Ciri khas lain dari penganut Katolik adalah selalu membentuk tanda salib pada saat memulai dan selesai berdoa. Dimulai dari kening, dada, lalu bahu kiri dan kanan. Mereka yang beriman bukan Katolik kadang suka penasaran, akhirnya kamu dengan senang hati menjelaskan.

7. Hal lain yang bikin orang heran: doamu sebelum makan panjang banget.

Kamu: *Duduk bareng temen-temen di meja makan* *Bikin tanda salib, memejamkan mata, hening* (1 menit kemudian…) *bikin tanda salib lagi sambil buka mata* “WOY, MAKANAN GUE SIAPA YANG NGEMBAT, WOYY!!”

Padahal, doa sebelum makan gak mesti lama sih, tergantung kamunya juga mau melafalkan apa dan berterima kasih untuk apa. Bikin tanda salib doang juga cukup kalo kamu udah laper banget.

8. Yang lebih bikin orang takjub, ternyata kamu cukup fasih bilang ‘Assalamualaikum’ :p

"Assalamualaikum"

“Assalamualaikum” via dhynhanarun.blogspot.com

Sebagai non-Muslim, kamu ternyata cukup fasih mengucapkan ‘Assalamualaikum’, ‘Bismillahirrahmanirrahim’, ‘Alhamdulillah’, ‘Astagfirullah’, ‘Insya Allah’, dan sebagainya. Bahkan, beberapa dari kamu juga hafal kalimat syahadat.

9. Lalu, kamu yang dibaptis saat bayi merasa bersyukur setelah paham betapa ribetnya baptis dewasa.

Disiram dulu, ya

Disiram dulu, ya via www.santoalbertus.org

Agar bisa menerima sakramen baptis dewasa, kamu mesti mengikuti proses yang disebut Katekumenat selama kurang lebih 1 tahun untuk mengenal iman Katolik secara mendalam. Dalam proses Katekumenat inilah, kesiapan seseorang menjadi Katolik itu diuji. Bila tidak siap, dia akan terseleksi dengan sendirinya.

Kamu yang dibaptis dewasa pasti paham gimana rasanya mesti minta tanda tangan Romo atau Pastor seusai ibadah mingguan, menghadiri kelas Katekumenat sampai puluhan kali pertemuan, lalu mempersiapkan diri menerima sakramen baptis. Bagi yang baptis bayi, kamu bahkan gak ingat kapan kamu baptis, hehehe.

10. Karena ribetnya prosesi agama ini, kamu cuma bisa geleng-geleng kepala ketika ada yang bilang gereja Katolik itu melakukan Kristenisasi terselubung.

"Ah, becanda lu, Bro!"

“Ah, becanda lu, Bro!” via jesuswallpaper.org

Ya…gimana ya? Orang mau memeluk Katolik aja ribetnya kayak gitu. Cuma yang benar-benar terpanggil yang bisa bertahan sampai menerima sakramen baptis dan menjadi pemeluk Katolik yang utuh.

11. Sama seperti agama lain, Katolik juga memiliki berbagai ritual dan doa dasar. Beberapa di antaranya wajib kamu hafalkan.

Kalau di Islam ada bacaan-bacaan shalat seperti doa iftitah dan tahiyat. Dalam Hindu ada doa tri sandya. Di agama Kristen Katolik, ada juga doa-doa yang harus kamu hapal. Antara lain: doa Bapa Kami, Salam Maria, dan Aku Percaya. Yang lain sih, sambil nyontek buku juga gak papa. Hehehe.

Ave Maria, gratia plena. Dominus tecum. Benedicta tu in mulieribus, et benedictus fructus ventris tui, Iesus.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae. Amen.

12. Kamu mungkin punya teman yang sedang meniti jalan menjadi pelayan Tuhan. Bagimu, mereka adalah orang-orang yang ‘super’.

Para calon imam yang dididik di seminari

Para calon imam yang dididik di seminari via nangskij.wordpress.com

Proses penempaan, ujian, dan seleksi iman diberlakukan di setiap sendi Katolik. Termasuk menjadi pelayan Tuhan sebagai pastor, bruder dan suster. Belajar agama secara lebih intensif dari yang lainnya gak serta-merta menjadikanmu pemuka agama Katolik; perlu proses panjang untuk semua itu. Dan dalam prosesnya, banyak juga yang mundur.

Bayangin aja, di saat kita mesra-mesraan sama pacar, mereka belajar agama, terus disumpah gak boleh menikah dan mesti menyerahkan diri sepenuhnya sebagai pelayan Gereja dan umat — alias hidup selibat. Harus siap menjomblo seumur hidup, Bro!

13. Tapi tak perlu jadi calon pastor, bruder, atau suster untuk dapat ujian iman. Ketika ingin menikah, kamu pun harus diuji terlebih dulu.

Kedua mempelai perlu diuji

Kedua mempelai perlu diuji via laofam.wordpress.com

Kamu yang mau menikah secara Katolik mesti siap ribet dengan menjalani beberapa proses, seperti kursus persiapan pernikahan dan penyelidikan kanonik untuk memastikan apakah kedua mempelai layak buat menikah. Persiapan pernikahannya sendiri bisa memakan waktu sekitar 3 bulan. Karena menikah berarti gak boleh lagi berpindah ke lain hati.

14. Makanya, pacaran di Katolik itu biasa, Saudara-Saudara!

Pacaran halal kok.

Pacaran halal kok. via diarychicken.wordpress.com

Karena setelah menikah kamu gak diperbolehkan cerai atau berpoligami, pacaran itu menjadi masa penting di mana pasangan saling mengenal satu sama lain.

15. Ngomong-ngomong soal pacaran, hal yang seru adalah ketika kamu menjemput atau dijemput pacarmu di depan SMA khusus putri atau asramanya.

SMA Stece

SMA Stece via umoment.blogspot.com

Kalo kamu kebetulan (pernah) bersekolah atau punya pacar di SMA khusus putri seperti SMA Tarakanita di Jakarta maupun SMA Stella Duce di Yogyakarta, kamu mungkin mengalami romantisme ini: menjemputnya seusai jam pelajaran di gerbang sekolah atau ngapelin ke asrama sampai kadang diusir suster.

16. Atau, kamu yang kuliah di Yogyakarta mungkin pernah pacaran di tepi Babylon Asrama Mahasiswi Syantikara?

Babylon Syantikara

Babylon Syantikara via blognyakrismariana.wordpress.com

Lalu, tiba-tiba suster nongol… heuheuheu. Benar-benar romantisme yang membuat rindu.

17. Ada tempat spesial yang bisa kamu tuju bareng pacarmu: Gua Maria!

Gua Maria Sendangsono

Gua Maria Sendangsono via reginalie.blogspot.com

Gua Maria selalu bisa menjadi tempat kalian untuk “pulang”, pulang dari gemerlap duniawi sejenak dan kembali mempererat batin dengan Tuhan lewat Bunda Maria. Adakah kencan yang lebih indah dari berdoa berdua dengan orang yang kamu cinta?

18. Tapi, yang membuatmu galau adalah ketika pacar yang kamu cintai itu beda agama.

Ini nih yang bikin galau

Ini nih yang bikin galau via yandakbar.blogspot.com

“Mau dibawa ke mana, hubungan kitaaa~”

19. Walau pernikahan beda agama “bisa diatur” dalam ajaran Katolik, tetap aja kasusnya tidak sesederhana itu…

Nikah beda agama?

Nikah beda agama? via katolisitas.org

Gereja memang menghimbau bahwa perkawinan sebaiknya terjadi di antara sesama penganut Katolik. Pertimbangannya klasik: iman anak-anak yang dihasilkan oleh pernikahan itu nanti, serta persetujuan kedua belah keluarga. Di sisi lain, Gereja Katolik tetap mengakui hakmu untuk menikah dengan siapapun yang kamu cintai. Gereja pun mengakui bahwa adalah hak masing-masing orang untuk mempertahankan agamanya. (Sumber)

Karena itu, jika pacarmu tidak memeluk iman Katolik atau Kristen, kalian tetap bisa menikah setelah melalui berbagai prosesi. Gereja bisa memberikan dispensasi — syaratnya adalah kalian memohon kepada pihak Ordinaris wilayah/keuskupan tempat dimana kalian ingin melangsungkan pernikahan, dan kamu harus berikrar akan teguh iman. (Sumber) Kalau sudah terlanjur menikah di luar Gereja? Kalian bisa mengajukan konvalidasi perkawinan. Tentu ada syarat-syarat lagi yang harus kamu penuhi.

Dispensasi atau konvalidasi ini tentu tak akan banyak membantu ketika keyakinan pacarmu mutlak tak merestui nikah beda agama. Hmmmm… *mendadak galau lagi*

20. Gak hanya romantisme di atas, kadang kamu juga mesti berhadapan dengan komentar-komentar berikut:

a. “Eh, kalungmu kok keren, sih?” (Nunjuk rosario.)

Wah, ini bukan sembarang kalung. Kalo Islam punya tasbih sebagai salah satu alat ibadah, Katolik punya rosario. Rosario adalah untaian manik-manik yang digunakan sebagai alat bantu saat kita memanjatkan doa Rosario, yaitu doa yang menjadi tradisi kontemplasi umat Katolik.

b. “Kamu Katolik? Kamu pasti pinter nyanyi, ya?”

Gak semua orang atolik semerdu koor

Gak semua orang atolik semerdu koor via musicalprom.com

Kamu: “Enggak, Mbak. Saya pinter masak.”

Sebagai orang Katolik, suaramu memang merdu. Tapiii, ya cuma di saat-saat tertentu, saat nyanyi bareng jemaat lain misalnya. Hehehe.

c. “Kamu penyembah berhala, ya?”

Patung Yesus

Patung Yesus via katolisitas.org

Meski menunjukkan sikap hormat di depan Salib, patung Yesus dan Bunda Maria, orang Katolik tuh gak menyembah berhala. Itu adalah karena umat Katolik menghormati pribadi yang digambarkan oleh patung tersebut. Penghormatan ini disebut dulia relatif, sama halnya ketika Tuhan menyuruh Musa membangun patung ular. (Sumber)

d. “Katolik sama Protestan emangnya beda? Sama-sama Kristen ‘kan?”

Ibadat Katolik

Ibadat Katolik via www.boyolalipos.com

Ya, kami sama-sama Kristiani, sama-sama pengikut Yesus Kristus. Tapi, ada beberapa perbedaan mendasar Katolik dan Protestan, contohnya tentang hidup selibat, tata cara ibadat dan upacaranya, hierarki kepemimpinannya, maupun kitab sucinya. Meski sama-sama Alkitab, kitab suci Katolik lebih tebal dari Protestan.

21. Terlepas dari semua itu, kamu menyadari bahwa agama gak seharusnya dijadikan dalih untuk memecah-belah sesama.

Kekerasan tidak bisa jadi jalan keluar

Kekerasan tidak bisa jadi jalan keluar via schoolofjoker.com

Miris rasanya jika melihat perbedaan dijadikan alat buat menjelek-jelekkan saudara sebangsa. Jika agama yang kita anut mengajarkan kebaikan, kenapa kita gak menunjukkannya lewat perbuatan? Toh, karena Tuhan jugalah perbedaan itu ada, ‘kan?

22. Karena bagimu, romantisme sesungguhnya adalah saat kita semua bisa tinggal berdampingan dalam damai.

Romantisme hidup yang sebenarnya.

Romantisme hidup yang sebenarnya. via renungankatolik.blogspot.com

Karena kedamaian dan cinta cuma bisa diterima dengan pikiran yang terbuka.

23. Sekalipun banyak lika-likunya, kamu tetap bangga menjadi orang Katolik di Indonesia!

Menjadi pelayan Kristus

Menjadi pelayan Kristus via www.gerejatheresia.org

Menjadi pelayan Kristus dan memanggul salib-Nya dalam kehidupan sehari-hari memang gak mudah. Tapi, justru perjuangan itulah yang pada akhirnya membuatmu bangga.

Jadi penganut Katolik di negeri tercinta ini memang kaya dengan lika-likunya. Nah, kalo kamu, apa yang kamu banggakan sebagai seorang Katolik?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya