Mungkin kalian sadar dan bertanya-tanya kenapa Hipwee belakangan rajin menulis artikel soal Wanita Idaman Lain  atau yang kini marak disebut “pelakor”. Perlu diakui bahwa kami memang tengah risau dengan fenomena ini. Saya yang notabene tidak punya kepentingan langsung, dalam artian tidak punya laki-laki yang bisa direbut (laiya!) pun ikut menaruh perhatian. Apalagi rekan-rekan penulis wanita di Hipwee, terutama yang sudah atau mendekati usia menikah. Tiap kali ada obrolan soal pelakor di kantor, nada suara mereka naik empat nada. Jika sudah seru, kadang saya kira mereka sedang latihan paduan suara.

Tentu saja seorang pelakor,  dalam konteks mengusik hubungan yang sudah dipayungi institusi pernikahan, adalah salah secara dunia-akhirat. Tapi saya serahkan saja pada sanksi hukum, teguran sosial, atau dosa menurut agama masing-masing. Saya tak merasa perlu terlibat lebih jauh. Paling banter nafsu menyalahkan, saya cuma berkata dalam batin, “Dasar, siapa sih guru PPKN-nya dulu?”

Sementara itu, pertanyaan besar yang coba ingin kami lontarkan kompak lewat artikel-artikel yang diterbitkan belakangan oleh Hipwee adalah:

Kenapa pada setiap kasus perselingkuhan, pihak perempuan hampir selalu mendapat tudingan yang jauh lebih lantang dibanding pihak prianya?

Istilah “pelakor” sendiri secara langsung merujuk pada satu gender tertentu. Padahal selingkuh adalah interaksi dua arah. Ada dua pelaku aktif di sana. Si laki-laki ini tentu punya inisiatif dan andil dalam terjadinya perselingkuhan itu. Melihat ketimpangan perspektif publik ini, Hipwee kemudian memakai tagar #pelakorkenalakinyamana.

Nah, sebagai pendukung, artikel satu ini adalah hasil observasi saya terhadap para sahabat yang memenuhi standar buaya darat. Main serong bukan barang asing bagi mereka. Kendati sebagian besar belum menikah, tapi gejala-gejalanya tak jauh berbeda.

Dan ketika para pria berkumpul, maka apa yang berserakan di sana adalah kisah-kisah terus terang. Dikutip dari Tirto, jurnal Men and Masculinities (2017) menunjukan bahwa 28 dari 30 laki-laki menyatakan mereka lebih senang mendiskusikan persoalan personal dengan teman dekat sesama laki-laki daripada dengan pacar. Sisi tergelap mereka lebih mudah terungkap karena tidak ada perasaan akan dihakimi, diolok-olok, atau dianggap berbeda.

Jadi saya memang bukan pakar, tapi cukup punya modal bicara. Anggap saja “orang dalam”.

Pertama, jangan percaya dengan laki-laki yang mengaku pasif saat menyeleweng

Kenal lagu “Sephia”?

Lagu Sheila on 7 yang rilis di tahun 2000 ini sempat meroket di radio dan televisi sekaligus berhasil menjadi penanda zaman, salah satunya karena mempopulerkan istilah “kekasih gelap”. Sebelum lagu itu rilis, masih cukup tabu untuk belantika musik menyuarakan soal perselingkuhan secara lugas dari sudut pandang pelakunya. Topik ini termasuk vulgar di masanya, namun kemudian malah sukses memantik musisi-musisi setelahnya untuk ikut menciptakan lagu dengan topik serupa. Bahkan, “sephia’ sempat menjadi sebutan untuk mereka yang dianggap sebagai simpanan.

Fakta lain: “Sephia”‘ itu lagu brengsek.

Lirik lagu ini menyiratkan seakan si cewek yang ngejar-ngejar, dan cowoknya berupaya insaf. “Hey, Sephia / Malam ini ku takkan pulang / Tak usah kau mencari aku, demi cintamu” atauHey, Sephia / Jangan pernah panggil namaku / Bila kita bertemu lagi di lain hari”. 

J***cuk, untung Eross main gitarnya jago.

Faktanya, seseorang selingkuh ya karena ia ingin selingkuh. Dilakukan secara SADAR. Tidak pernah saya dengar curhatan teman cowok selingkuh yang bilang, “aku dipaksa”, atau “aku tak punya pilihan”, apalagi “kejadiannya begitu cepat, saya tidak sempat mencari pertolongan.”

Laki-laki berpaling kadang bukan karena ada masalah dengan pasangannya. Bahkan, walau pasangannya masih diakui lebih baik

Main hati via www.shortlist.com

Introspeksi penting dalam menjaga hubungan. Memang ada segunung kasus patgulipat yang berangkat dari rasa tidak puas akan pasangannya. Namun, perselingkuhan bisa juga terjadi pada hubungan yang tidak punya permasalahan sama sekali atau justru masalahnya adalah karena tidak ada permasalahan.

Entah dengan perempuan, tapi laki-laki memang “menghargai perbedaan”. Maksudnya, mereka suka coba yang berbeda-beda.

Pondasi selingkuh adalah semangat mencari pengalaman baru. Bukan selalu soal mana yang lebih baik. Meski kamu punya paras seayu Tatjana Saphira, pasanganmu masih berkemungkinan berkencan dengan seseorang berwajah seperti patahan gempa. Begitulah, yang pasti di dunia ini memang cuma mahalnya tiket Celine Dion.

Sebagian pria bahkan main serong tanpa bisa menyebutkan alasannya. Tak selalu melibatkan tresna dan kasih sayang. Jadi kalau pasanganmu bilang,”I love you” atau bahkan,”I only love you” , jangan gede rasa dulu. “I only f*ck you” itu terdengar mengajak kelahi tapi kadang itu bisa lebih melegakan. Balas saja, “F*ck you too”. Romantis.

Umumnya, selingkuh menguras waktu dan energi. Ini agak kebangetan, tapi  pastikan mereka tidak punya keduanya

Bagi saya yang punya terlalu banyak hobi, mencari kekasih gelap adalah tindakan yang konyol. Punya pacar satu saja kadang sudah terasa empat kalau lagi datang bulan. Membagi waktu antara kepentingan pacaran, kerja, kuliah, keluarga, nongkrong, kemanusiaan pun sudah bikin berat otak. Saya bisa kena tifus jika masih berpikul kewajiban mengurusi selingkuhan. Apalagi saya orangnya pelupa. Takutnya, saya lupa mana yang pacar dan mana yang selingkuhan. Lha repot kalau kebalik.

Jadi silakan perbanyak kesibukan pasangan kamu. Daftarkan dia kursus karate, karambol, atau daftar kerja menjadi penulis naskah sinetron kejar tayang. Tapi jangan jadi PNS ya, xixixixixixi…

Solusi instan adalah “jangan menjalin asmara dengan bajingan”. Tapi pada dasarnya ini menyangkut sesuatu yang lebih besar dari perkara watak personal, yakni kultur patriarkis

Bukan bermaksud membela pelakor. (Lha ngapain? Mending saya membela ibu-ibu petani yang digusur di Kulon Progo). Hanya saja, bila melulu tersangkar dalam kacamata bias gender, maka masalah ini akan menjadi lingkaran setan yang tak terselesaikan.

Bias ini di antaranya tampak dari bagaimana hampir seluruh warganet yang meluapkan kemurkaan di kolom komentar berita-berita soal pelakor adalah kaum perempuan. Hampir sama seperti bagaimana artikel berita soal beredarnya video porno selalu disesaki oleh komentar laki-laki yang naik pitam. (Bedanya, marahnya para laki-laki ini bukan ke isunya, melainkan “Mana link-ya?’, “Ah nggak ada videonya, taik!”, dan “Astagfirullah, kok gelap gambarnya?”)

Di setiap kasus publik yang melibatkan sepasang pria-wanita yang bertemu muka dengan isu moral, nyaris selalu pihak perempuan menerima sorotan yang jauh lebih tinggi dari sosok prianya. Ini terjadi di berbagai kasus. Contohnya, ketimpangan tudingan tatkala Awkarin dan Gaga Muhammad mencuri perhatian dengan gaya pacarannya yang berani. Lalu di tiap warta kemunculan video seks, selalu yang menjadi problematik adalah identitas sosok perempuannya.

Begitu juga pada rentetan drama rumah tangga ini.

Tanpa disadari, mengamini bahwa wanita perlu berinisiatif lebih tinggi untuk menjaga moral dibanding laki-laki malah melanggengkan laki-laki untuk melancarkan aksi-aksi seleweng. Bahkan, INI YANG PENTING, tak bisa dibantah jika salah satu motif laki-laki berselingkuh adalah karena tuntutan stereotip di lingkungannya bahwa “laki-laki perlu jadi brengsek agar terlihat keren”.

Laki-laki brengsek itu wajar = Jika tidak brengsek berarti bukan laki-laki.

Nah lho, kaum hawa sendiri ikut mempromosikan nilai-nilai itu, tapi ngamuk-ngamuk begitu dibrengseki.

Sebagai ilustrasi terakhir, belum lama ini pengacara kondang Indonesia, Hotman Paris mengunggah sebuah video di akun Instagramnya dan menyuarakan pendapatnya soal kelumrahan pria berusia kepala lima untuk punya Wanita Idaman Lain. Unggahan tersebut diberi kutipan berbunyi, “harapan para lelaki sukses berduit.”

“Subuh-subuh, sebagian para laki ini sudah di Kopi Joni karena ranjang istri yang sudah menua, sudah tidak bergairah. Pada saat laki-laki pada umumnya umur 50 makin kaya, makin banyak duit, istrinya makin menua, bahkan banyak yang sudah jadi gendut sehingga sudah tidak bergairah di ranjang. Kenyataan sekarang ini, 8 dari 10 laki-laki berduit punya si sayang di luar. Apakah itu salah? Apakah memang mempunyai istri lebih dari satu adalah solusi terbaik? Atau seperti sekarang ini, punya pacar di mana-mana. Berdoalah kepada istri, agar dua dari laki-laki tersebut adalah suamimu yang masih bertahan di ranjangmu. Selamat untuk para istri.”

Tolong, jangan sampai yang begini beranak pinak.

HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya