Cita Citata, Dangdut, dan Sensasi Duo Bunga

Seberapa jauh kamu berkelana dan mendendangkan musik folk, rock, hingga hip hop, pada dasarnya kamu akan tetap mendengar musik dangdut saat perjalanan naik bus, saat ngetem angkot, bahkan saat beli gula pasir di kios dekat rumah. Musik dangdut sejatinya memang Indonesia banget, merakyat dan favorit diputar saat karokean. Tapi sayangnya, musik dangdut sering digoyang dengan banyak pemberitaan hingga banyak yang menilainya musik norak. Duh, sedih!

Seorang penyanyi dangdut Tanah Air, Cita Citata, belakangan juga menyampaikan uneg-unegnya lewat unggahan Story Instagramnya. Ia menyayangkan banget dangdut sekarang justru dihiasi sensasi dan citra nggak baik. Memang sih belakangan sedang ramai-ramainya pemberitaan salah satu penyanyi dangdut pendatang baru yang justru menyita perhatian warganet. Tapi ternyata faktor yang membuat  dangdut makin dipandang sebelah mata oleh masyarakat bukan cuma itu.

Kesedihan Cita Citata soal citra dangdut yang makin memburuk disampaikannya lewat unggahan medsos

unggahan Cita Citata via www.instagram.com

Advertisement

Sebagai penyanyi dangdut yang sudah lebih dulu terjun ke dunia hiburan, nggak heran kalau Cita kemudian berkomentar soal berita yang sedang ramai tentang Lucinta Luna (ikuti sendiri ya kisahnya di media-media lain). Dari sana, kemudian ia berangkat menyinggung citra musik dangdut yang makin dekaden. Citra dangdut yang sebelumnya sudah kurang baik justru makin rusak akibat pemberitaan yang cuma modal sensasi. Nah, yang begini ini justru nggak pantas disebut seniman dangdut, lha wong terkenalnya saja hanya karena faktor-faktor yang sama sekali nggak berhubungan dengan karyanya toh?

Nggak lupa Cita juga menyodorkan polling di unggahan instagram storynya. Ternyata sebagian besar warganet sependapat untuk nggak mengakui mereka yang cari sensasi sebagai penyanyi dan seniman dangdut. Ya sudah, kalau kamu setuju dengan Cita, mereka yang makin ke sini makin bikin geleng-geleng karena sensasinya itu nggak usah diapresiasi deh. Biarkan saja dia lupa dan menghilang ditelan zaman. 😀

Sensasi memang sering dijadikan batu loncatan untuk mendulang popularitas penyanyi dangdut

Tinggalkan saja perdebatan ini. via jakarta.tribunnews.com

Mungkin kamu nggak sadar kalau banyak banget drama di balik layar kaca yang setiap hari kamu tonton. Makin seru dramanya, maka makin banyak penonton yang tertarik dan akhirnya memperhatikan. Nah dengan begitu, lakon drama juga makin terkenal. Terlepas dari terkenal sebagai orang baik atau orang yang dibenci, yang penting nama mereka dikenal dulu. Urusan memperbaiki citra, itu bisa dipikir belakangan. Nyatanya Lucinta Luna dan Duo Bunga-nya justru jadi banyak tawaran job di mana-mana, endorsement media sosial juga mengalir deras. Gejala inilah yang disayangkan Cita Citata, karena menggunakan sensasi demi terkenal sebagai penyanyi dangdut. Hmmm… nama dangdut jadi ikutan terbawa ‘kan?

Dangdut juga sering dipersepsikan dengan keseksian dan goyangan biduannya yang bikin salah fokus

Dangdut dan goyangan asoy geboy. via www.merdeka.com

Advertisement

Padahal jadi penyanyi dangdut itu nggak mudah. Tapi ada juga yang hanya ‘menjual tubuh’ dan goyangan seksinya biar semakin dikenal. Ditambah lagi dengan penampilan yang heboh dan cantik, wah makin banyak yang demen. Memang nggak ada salahnya tampil cantik sebagai public figure, tapi kalau hanya mengandalkan penampilan dibandingkan kualitas kemampuannya dalam bernyanyi atau bermusik, bukankah ini miris?

Ditambah lagi perilaku penonton yang sering rusuh dan mabuk-mabukan, bikin nama dangdut makin tercoreng nih

Jangan rusuh dong, kasian mbak Via Vallen. via www.ngopibareng.id

Sebenarnya buat apa sih saling rusuh, baku pukul bahkan sambil mabuk-mabukan? Padahal sedang sama-sama cari hiburan dan menonton dangdut. Kalau begini, bukannya jadi bahagia, malah jadi nggak tenang hidupnya. Akibat perilaku sebagian oknum penonton inilah banyak anak muda yang menilai musik dangdut ini norak. Sebenarnya yang norak penontonnya, dear.

Demi terkenal, kadang pencipta lagu dangdut asal menyisipkan lirik yang berbau 17+. Secara nggak langsung hal ini bikin dangdut jadi makin identik dengan esek-esek

Enak yang bagaimana nih, Mbak? via www.youtube.com

Meski aslinya buat lucu-lucuan, tapi sebenarnya lagu dangdut yang liriknya 17+ itu bahaya juga lho. Dangdut ‘kan musik yang paling merakyat, paling dekat dengan masyarakat dan mudah didengar, mudah dihafal. Lirik yang dewasa ini kalau didengar dan dinyanyikan oleh anak-anak jadi kurang pas. Meski pada dasarnya lagu barat juga banyak yang liriknya lebih eksplisit, tapi dangdut sebagai produk seni yang lebih bersifat lokal memuat bahasa yang lebih mudah dipahami dna dilantunkan ulang. Harus diwaspadai dong.

Padahal nggak semua dangdut seburuk dan senorak yang kamu persepsikan. Tapi kadang tampak tercela akibat sensasi yang dibuat oleh penyanyi-penyanyinya. Sebagai penikmat sajian hiburan di Indonesia, baiknya kamu mulai lebih selektif dalam menaruh perhatian pada sosok-sosok tertentu. Jangan mudah termakan sensasi ya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya