Kalau ada yang bilang hidup ini penuh diskriminasi, maka kita akan setuju kalau hal tersebut mesti sama-sama kita musuhi. Nggak mau tau caranya, pokoknya jangan ada lagi pengkotak-kotakan, apalagi diskriminasi. Namun secara tak sadar, kita kerap terlalu jauh menuntut terhapusnya diskriminasi sampai ke istana sana, dibanding menuntut pada diri sendiri.

Kamu, khususnya cowok, sering banget jadi pelaku diskriminasi terhadap temannya sendiri. Apalagi kalau bicara soal perlakuan terhadap teman ceweknya. Mereka — teman cewekmu — setuju atau tidak telah membuat kamu jadi pelaku. Nggak percaya?

Cowok lebih mudah mengingat nama temannya yang cantik dibanding mereka yang biasa-biasa aja.

“Tadi siapa namanya? Lupa hehehe.” via i.huffpost.com

“Dit, elu review halaman 17 sampe 25 ya. Terus kamu… aduh, maaf siapa nama kamu, lupa aku.”

“Melati, Ger.”

“Ah iya, Mel. Kamu review halaman 26 sampe 32 yak!”

“Oke.”

Keadaan ini datang bukan gara-gara Short Term Memory Loss Syndrome atau gampang lupaan. Akan tetapi itu datang secara natural. Bagi cowok, mereka yang berwajah biasa-biasa saja, bisa sangat mudah namanya kita lupa. Terlebih lagi teman cewek yang biasa tersebut prestasinya pun biasa-biasa saja. Jelas beda dengan mereka yang cantik. Walau pun nggak pinter, namanya gampang diingat. Parasnya yang cantik dan mudah menarik perhatian cowok, membuat namanya pun mudah menonjol di dalam ingatan.

Nggak bakal ada yang bisa tolak ajakan cewek cantik buat jalan. Apalagi kalau berdua antara kamu dan dia.

Advertisement

Nggak bisa nolak. via i.huffpost.com

“Ger, ngopi yuk! Lagi bete nih sama cowokku.”

“Wah, kenapa lagi? Ayok deh, mau jam berapa? Di mana?”

“Jam 7. Kafe yang nggak jauh dari kampus itu lho. Jemput yak.”

“Siap!”

Bohong kalau ada cowok melihat cewek nggak dari fisiknya. Kalau ada yang mengelak, ledek aja dia sebagai hypocrite. Apa yang cowok lihat dari cewek persis apa yang dilihatnya ketika menemukan sebuah sebuah buku. Mereka pasti akan dibuat penasaran dulu dengan cover-nya baru ingin tahu lebih dalam soal isinya.

Cowok bakal lihat dulu cewek dari penampilan luarnya, setelah menurutnya menarik, maka ia akan mencari tahu lebih dalam soal cewek tersebut dengan PDKT. Nah, andai ada kesempatan untuk mengetahuinya lebih dalam, cowok bakal susah untuk menolak kesempatan bersamanya jalan berdua. Apalagi kalau yang ngajak jalan itu si cewek itu sendiri. Nggak bakal peduli, ah, dia ngajak kamu cuma buat jadi tempat curhatnya dia soal pacarnya juga. :p

Cowok cenderung mau-mau aja ketika disuruh apa pun oleh temannya yang cantik. Coba kalau wajahnya biasa aja, kayaknya susah deh.

“Anterin dong ke sana.” via i.huffpost.com

“Mau kemana, Ger?”

“Ini mau nganter Niki ke stasiun. Pulang kampung katanya.”

“Halah, katanya lagi garap skripsi. Kemarin Si Nurul minta anter ke terminal, elu tolak. Parah!”

“Hehehe.”

Cowok, sekuat apa pun raganya, pasti akan mendadak lemah ketika cewek cantik datang di depannya dan memohon-mohon dengan manja untuk meminta tolong. Kamu berada dalam pergolakan batin: mau nolak tapi nggak enak. Bukan apa-apa, tapi, takut mengecewakan cewek yang terkenal cantik dan dipuja-puja kawan-kawan cowokmu.

Perlakuan berbeda jelas bakal kamu rasakan seandainya teman cewekmu yang (wajahnya) biasa-biasa aja datang ke kamu dan minta tolong. Beuhhh, kamu pasti bakal cari 1001 alasan untuk menolaknya. Ngaku aja!

Nah itulah biasanya yang terjadi pada seorang cowok. Buat kamu (cewek) yang merasa biasa-biasa aja, tenang aja. Cowok nggak bakal selalu mengabaikan kamu kok kalau kamu memang sudah jadi teman dekat atau sahabatmu. Tapi cowok mungkin agak susah buat nolak datangnya cewek cantik. Hihihi

#migmegalau